REINTERPRETASI MAKNA HADIS “MISOGINIS” MENGENAI : (”Penciptaan Perempuan dari Tulang Rusuk Laki-laki”)

Oleh : Rizky Munggaran

A. Latar Belakang Masalah

Perbedaan gender yang melahirkan ketidak adilan bahkan kekerasan terhadap perempuan, pada dasarnya merupakan kontruksi sosial dan budaya yang terbentuk melalui proses yang panjang. Namun karena konstruk sosial semacam itu telah menjadi ”kebiasaan” dalam waktu yang sangat lama, maka perbedaan gender tersebut menjadi keyakinan dan ideologi yang mengakar dalam kesadaran masing-masing individu, masyarakat, bahkan negara. Perbedaan gender dianggap sebagai ketentuan Tuhan yang tidak dapat diubah dan bersifat kodrati. Dan tidak dapat disangkal bahwa salah satu penyebab yang melanggengkan kontruksi sosial budaya yang mengakibatkan ketidakadilan gender tersebut adalah pemahaman agama.

Agam Islam sendiri, menempatkan laki-laki dan perempuan dalam posisi sejajar. Islam datang mendobrak budaya dan tradisi patriarkhi bangsa Arab, bahkan dapat dikatakan dengan cara yang revolusioner. Tradisi Arab ketika itu  secara umum menempatkan perempuan hampir sama dengan hamba sahaya dan harta benda. Mereka biasa mengubur hidup-hidup bayi perempuan, tidak memberi hak waris kepada perempuan baik dalam wilayah publik maupun domestik.[1] Islam datang dengan mengecam penguburan bayi-bayi perempuan, membatasi polligami, membrikan hak-hak waris dan hak-hak lainnya kepada perempuan sesuai dengan fungsi dan peran sosial perempuan ketika itu. Dengan demikian semangat dan pesan universal yang dibawa islam pada dasarnya adalah persamaan antara laki-laki dan perempuan serta berusaha menegakkan keadilan gender dalam masyarakat.[2]

Semangat Islam seperti itu kemudian diinterpretasi dan difahami oleh orang-orang Arab yang mempunyai budaya dan ideologi patriarkhi, sehingga hasil penafsiran mereka menempatkan perempuan lebih rendah dibanding laki-laki. Penafsiran yang bias gender tersebut tidak saja terjadi pada hal-hal yang spesifik, tetapi juga pada hal-hal yang sangat mendasar seperti masalah awal penciptaan perempuan. Dengan penafsirannya, mereka meyakini bahwa perempuan dicipatakan dari tulang rusuk laki-laki, sehingga sejak semula perempuan bersifat derivatif dan sekunder. Yakni, perempuan diciptakan hanya sebagai pelengkap dan untuk melayani laki-laki. Jika laki-laki dan perempuan telah diciptakan tidak setara oleh Allah, maka selamanya mereka tidak dapat menjadi setara. Pemahaman seperti ini kemudian menjadi keyakinan dan ideologi yang melekat dalam pikiran masyarakat.

Dalam masyarakat Islam, keyakinan seperti itu-dipengaruhi dari luar Islam- timbul dari penafsiran teks hadis yang menyatakan perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, yang diyakini sebagai sabda Nabi Saw.

Menurut Agus moh Najib, hadis yang menyatakan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk, atau perempuan diciptakan bagai tulang rusuk, jika dilihat dari segi sanadnya bernilai shahih. Namun demikian, terdapat perbedaan pendapat dikalangan para ulama menyangkut matan-nya, khususnya matan yang menyatakan bahwa perempuan dicipatakan dari tulang rusuk.

Hadis tentang penciptaan itu, meskipun sanadnya shahih, apabila ditempatkan dalam konteksnya secara tepat dan dipahami secara utuhdari keseluruhan matan yang ada-tidak hanya parsial kalimat perkalimat atau matan permatan- maka hadis hadis tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan konsep penciptaan awal perempuan. Hadis ini berisi pesan Nabi kepada kaum laki-laki masa itu, agar berlaku baik kepada istri-istri mereka atau kepada perempuan secara umum.[3]

Pemahaman ulang terhadap hadis-hadis ”yang membenci perempuan” merupakan keniscayaan, karena proses ”pembenciaan” itu telah berlangsung lama dan mengendap dalam keyakinan umat Islam. Proses semacam itu seringkali bersentuhan dengan interpretasi agama yang dilestarikan oleh kepentingan politik laki-laki yang memproduksi kekuasaan. Oleh karena itu, beragam cara untuk memutus relasi kuasa yang menindas itu. Salah satu jalan yang cukup penting untuk dipilih adalah melakukan reinterpretasi makna hadis-hadis misoginis, yang hasilnya dipublikasikan kepada masyarakat.

Dengan demikian, permasalahan ini akan ditelusuri dengan seksama dalam bentuk penelitian ilmiah yang penulis usung dengan judul : ”Reinterpretasi Makna Hadis “Misoginis” Mengenai : (”Penciptaan Perempuan dari Tulang Rusuk Laki-laki”)”

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

Agar pembahasan dalam penelitian ini dapat terarah dengan baik, maka penulis membatasi permasalahan tersebut pada seputar masalah ”awal penciptaan perempuan” dengan mengangkat hadis-hadis yang memberikan sinyalemen kearah itu yang semuanya berasal dari kitab shahih al-Bukhari.

Dengan demikian, berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah diatas, maka pembahasan dalam penelitian ini dapat dirumuskan permasalahan : ”Bagaimana pemahaman ulang terhadap hadis-hadis ”misoginis” ,khususnya mengenai awal penciptaan perempuan ditinjau dari segi matan hadis”?

C. Metodologi Penelitian

Penelitian ini bercorak kepustakaan (library reseach), maka yang menjadi data primer adalah hadis-hadis Nabi, dari kitab-kitab induk hadis. Diantaranya : dalam Shahih Bukhari mengutip tiga hadis dengan matan yang berbeda. Kemudian untuk kesempurnaan informasi penelitian ini, penulis juga menambah data sekunder dari kitab-kitab syarah hadis dan kitab tafsir yang memberikan sinyalemen kearah tersebut.

D.Pembahasan Masalah

1.Matan Hadis

Hadis ini diriwayatkan dengan matan yang berbeda-beda. Namun apabila dicermati, matan-matan hadis tersebut secara umum memiliki dua macam arti, yaitu yang pertama menyatakan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk, dan yang kedua menggambarkan bahwa perempuan seperti tulang rusuk. Disini akan dikemukakan tiga macam matan hadis, yang semuanya berasal dari shahih Bukhari. Pengutipan tiga macam matan hadis dari satu kitab ini untuk menunjukkan bahwa tiga macam hadis yang berbeda-beda tersebut pada dasarnya merupakan satu hadis yang sama, atau dengan kata lain Nabi saw hanya mengatakan satu kali, tetapi kemudian diriwayatkan dengan matan yang berbeda-beda. Ketiga matan hadis tersebut adalah :

1.

”Saling berpesanlah kalian (bermakana : tawasau) untuk berbuat baik kepada perempuan, karena perempuan diciptakan dari tulang rusuk dan bagian tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian paling atas. Maka jika kamu berusaha untuk meluruskannya, kamu akan mematahkannya, dan jika kamu membiarkan sebagaimana adanya maka ia akan tetap dalam keadaan bengkok. Maka saling berpesanlah kalian untuk berbuat baik kepada kaum perempuan.”

2.

”Perempuan bagaikan tulang rusuk, jika kamu kamu berusaha meluruskanya, kamu akan mematahkannya. Dan jika kamu ingin mengambil manfaat darinya, maka kamu akan memperoleh manfaat itu sementara dia dalam keadaan bengkok”

3.

”Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah menyakiti tetangganya, dan saling berpesanlah kalian untuk berbuat baik kepada kaum perempuan, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk dan bagian tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian paling atas. Maka jika kamu berusaha meluruskannya kamu akan mematahkannya, dan jika kamu membiarkannya ia akan tetap dalam keadaan bengkok. Maka saling berpesanlah kalian untuk berbuat baik kepada kaum perempuan”. [4]

Setelah melihat ketiga matan hadis diatas, dapat dikatakan bahwa matan hadis kesatu dan ketiga (yang menyatakan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk) berbeda dengan matan hadis kedua (perempuan bagaikan tulang rusuk), atau dengan kata lain kedua macam matan hadis tersebut, yaitu antara matan kesatu dan ketiga dengan matan kedua, merupakan hadis yang berdiri sendiri.

2.Sanad Hadis

Hadis diatas diriwayatkan oleh lima penyusun kitab hadis, yaitu : al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Ahmad Ibn Hanbal, dan ad-Darimi, dengan jalur sanad yang berbeda-beda. Sementara sahabat yang meriwayatkan hadis ini ada empat orang, yaitu Abu hurairah, Aisyah, Samrah, dan Abu Dzarr.

Kemudian dari jalur sanad tersebut dapat diketahui bahwa baik riwayat al-Bukhari maupun Muslim sama-sama berasal dari Abu Hurairah. Hanya saja al-Bukhari melalui melalui jalur sanad al-A’raj-Abu az-Zinad- Malik- Abd Aziz bin abdullah, sementara Muslim melalui jalur sanad Abu Hazim-Maysarah-Za’idah-Husein Ibn Ali- Abu Bakr Ibn Abi Syaibah. Dalam pembahasan ini, penilaian mengenai sahabat mengikuti pendapat mayoritas ulama yang menyatakan bahwa semua sahabat adalah adil (as-Sahabah kulluhum ’udul), dalam arti mereka tidak mungkin berdusta dalam meriwayatkan hadis dari Nabi, sehingga tidak perlu dilakukan penilaian terhadap mereka.[5]

Begitu pula para periwayat setelah sahabat, dalam hal ini adalah setelah Abu Hurairah. Semua periwayat yang ada pada dua jalur sanad tersebut memiliki nilai ke-tsiqah-an dalam peringkat (martabah) yang tinggi. Disamping itu masing-masing periwayat saling bertemu (liqa), atau setidaknya sezaman (mu’asarah), dengan periwayat sebelum dan sesudahnya, karena masing-masing periwayat tersebut menerima riwayat (tahamul) dari periwayat sebelumnya dan meriwayatkan (ada) kepada riwayat sesudahnya[6].

Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa hadis yang menyatakan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk, mempunyai sanad yang bernilai shahih (shahih al-isnad). Namun demikian suatu hadis dipandang shahih apabila memang terbukti shahih baik sanad maupun matan-nya. Karena itu berikut akan dilihat bagaimana pandangan para ulama mengenai matan hadis tersebut.

3.Pandangan Ulama Tentang Matan Hadis

Hadis yang menyatakan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk ini- karena merupakan hadis ahad (walaupun sanadnya shahih)- para ulama masih berbeda pendapat mengenai keotentikan hadis tersebut sebagai sabda Nabi. Apabila dicermati, secara umum mereka terbagi menjadi dua kelompok. Pertama, kelompok yang menganggap hadis tersebut shahih baik sanad maupun matan-nya, sehingga menerimanya sebagai sabda nabi, dan kedua, kelompok yang berpendapat bahwa matan hadis tersebut tidak shahih sehingga harus ditolak.

Kelompok pertama, yaitu kelompok yang menerima hadis tersebut, juga terbagi menjadi dua pandangan. Pandangan pertama, memahami hadis tersebut secara tekstual, sehingga menurut mereka perempuan (Hawwa) diciptakan benar-benar dari tulang rusuk laki-laki (Adam). Kemudian sesuai informasi hadis diatas yang difahami secara tekstual, mereka berpendapat bahwa penciptaan Hawwa tersebut adalah dari tulang rusuk Adam.

Pandangan ini jelas melahirkan pandangan negatif terhadap perempuan, karena perempuan dianggap sebagai bagian dari laki-laki dan diciptakan hanya hanya sebagai pendamping dan pelengkaplaki-laki. Pendapat bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki ini, setidaknya menurut tim penterjemah al-Qur’an Depag RI, merupakan pendapat mayoritas ulama tafsir.[7] Para ulama yang berpendapat seperti ini, untuk menyebut sebagiannya adalah Jalalluddin as-Suyuthi, Ibn Katsir, al-Qurtuby, al-Biqa’i, dan Abu Sa’ud.[8]

Sementara itu pandangan kedua, dari kelompok pertama, berpendapat bahwa, hadis itu shahih, baik sanad maupun matan-nya, namun harus difahami secara metaforis. Pandangan kedua ini timbul dari tarik menarik antara apa yang difahami dari teks hadis dengan apa yang difahami dari al-Qur’an. Pandangan ini umumnya berpendapat bahwa kata nafs wahidah dalam QS an-Nisa ayat 1, bukan berarti Adam, tetapi ”jenis yang satu”, sehingga kata zaujaha (pasangannya), yang diyakini sebagai Hawwa, diciptakan pula dari ”bahan atau jenis yang satu” tersebut sebagaimana penciptan Adam.

Karena itu, supaya hadis shahih tersebut tidak bertentangan dengan al-Qur’an, maka menurut mereka, secara rasional hadis tersebut tidak dapat difahani dengan makna tekstual. Oleh karena itu interpretasi secara metaforis, yaitu bahwa hadis tersebut berisi pesan kepada kaum laki-laki agar menghadapi perempuan dengan cara yang baik, bijaksana dan tidak kasar.[9]

Adapun kelompok kedua, adalah kelompok yang menolak ke-shahih-an hadis tersebut. Mereka, seperti halnya pandangan kedua dari kelompok pertama, berpendapat bahwa kata nafs wahidah dalam Surat an-Nisa ayat 1 tersebut, berarti ”jenis yang satu”, sehingga tidak ada perbedaan antara penciptaan Adam dan Hawwa ; keduanya diciptakan dari bahan yang sama. Dengan demikian menurut mereka ayat tersebut sedikitpun tidak mendukung faham yang menyatakan bahwa Hawwa diciptakan dari tulang rusuk Adam. Karena itu hadis yang menyatakan perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki harus ditolak karena tidak sesuai dengan ayat al-Qur’an.

Pemahaman bahwa perempuan (Hawwa) diciptakan dari tulang rusuk laki-laki(Adam), menurut mereka, tampaknya timbul dari ide yang tercantum dalam perjanjian lama (Kitab kejadian II ayat 21-22). Menurut mereka, jika saja tidak ada informasi dari perjanjian lama tersebut, niscaya pendapat yang menyatakan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki (Adam) tidak akan pernah terlintas dalam pikiran orang Islam. Lebih lanjut Riffat Hassan menyatakan bahwa teologi perempuan yang terkandung dalam hadis tersebut –dengan didasarkan pada pandangangya menyangkut ontologi, biologi, dan psikologinya – jelas bertentangan dengan yang tersurat dan yang tersirat dalam al-Qur’an, karena itu hadis tersebut harus ditolak atas dasra isinya sendiri.[10]

Dengan demikian secara umum terdapat tiga pendapat mengeai matan hadis ini, pertama, memandang hadis tersebt shahih dan memahaminya secara tekstual. Ini berarti, menurut mereka perempuan (Hawwa) memang diciptakan dari tulang rusuk laki-laki (Adam). Kedua, menerima ke-shahih-an hadis tersebut, namun memahaminya secara metaforis, yaitu bahwa laki-laki harus menghadapi perempuan denagn cara yang baik, bijakasana dan tanpa kekerasan. Ketiga, menolak hadis tersebut karena, menurut mereka, bertentangan dengan ayat al-Qur’an yang menyatakan bahwa laki-laki (Adam) dan perempuan (Hawwa) diciptakan dari bahan atau jenis yang sama.

4.Reinterpretasi Makna Hadis

Hadis tersebut secara tektual memiliki arti bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk, atau perempuan seperti tulang rusuk. Dalam teks hadis yang menyatakan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk, tidak dijelaskan siapa perempuan yang dimaksud dan diciptakan dari tulang rusuk siapa. Namun teks hadis inilah yang berkembang dimasyarakat, bahwa mereka memberikan penafsiran lebih lanjut bahwa perempuan yang dimaksud dalam teks hadis itu adalah perempuan pertam, yaitu Hawwa, dan dia diciptakan dari tulang rusuk Adam, yang merupakan manusia pertama.

Pemahaman bahwa Hawwa (perempuan) diciptakan dari tulang rusuk Adam (laki-laki) tersebut menjadi doktrin teologi yang dipercaya oleh kebanyakan masyarakat Islam. Konsepsi teologis ini jelas membawa implikasi-implikasi lebih lanjut, bika psikologis, sosial, budaya, ekonomis, maupun politik yang bersifat ”misoginis”. Kaum perempuan merupakan makhluk sekunder yang keberadaanya hanya sebagai pelengkap dan untuk melayani kaum laki-laki, dalam segala bidang baik pada wilayah domestik maupun publik.

Pemahaman yang sebenarnya bukan hadis ini oleh mayoritas ulama, sebagaiman a telah dikemukakan,digunakan untuk menafsirkan ayat-ayat yang berkaiatan dengan awal penciptaan manusia, khususnya QS. An-Nisa ayat 1. Mereka, dengan berargumen pada pemahaman hadis ini dan cerita-cerita Israilliyat.[11] Menafsirkan bahwa kata nafs wahidah dalam ayat tersebut dengan Adam dan kata zaujaha dengan Hawwa, sehingga ayat tersebut diartikan dengan : ” Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kalian dari nafs wahidah (Adam) dan darinya (yaitu dari rulang rusuk Adam) Allah menciptakan zaujaha (Hawwa)”

Menafsirkan kata nafs wahidah dengan Adam dan kata ganti ha pada kata minha dengan bagian dari tubuh Adam menurut Al-Maraghi, kurang tepat. Kata nafs wahidah lebih sesuai apabila diterjemahkan dengan ”jenis yang satu” atau ”jenis yang sama”, sehingga zaujaha (pasangannya) diciptakan dari jenis yang sama dengan penciptaaan Adam. Penafsiran kata nafs dengan ”jenis” ini sesuai dengan penunjukan ayat-ayat yang lain, misalnya ayat waallahu ja’ala lakum min anfusikum ajzwajan (Allah menjadikan bagi kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri), laqad jaa akum rasulun min anfusikum (sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari jenis kalian sendiri)[12]

Dengan demikian, apabila ada pemahaman yang menyatakan bahwa Hawwa diciptakan dari tulang rusuk Adam, jelas tidak sesuai dengan ayat-ayat al-Qur’an. Disamping itu matan hadis yang menyatakan perempuan diciptakan dari tulang rusuk, tidak dijelaskan sama sekali siapa perempuan yang dimaksud dan diciptakan dari tulang rusuk siapa. Apalagi ditambah dengan matan hadis yang menggunakan kata ”perempuan” dengan bentuk plural ”an-nisa” (kaum perempuan), yang berarti seluruh kaum perempuan, tidak hanya perempuan pertama (Hawwa), diciptakan dari tulang rusuk ini. Jelas berttentangan dengan ayat-ayat yang berbicara mengenai proses reproduksi kejadian manusia.[13]

Apabila dicermati konteks hadis-hadis ini sebenarnya berisi anjuran, atua bahkan perintah Nabi kepada laki-laki waktu itu supaya saling menasehati satu sama lain unutuk berbuat baik kepada istri-istri mereka atau kepada perempuan secara umum. (bandingkan bunyi hadis :man kaana yu’minu billahi falaa yu zi jaarahu wa istausuu bin nisaa khairan) Nabi kemudian mengibaratkan peremuan seperti tulang rusuk yang tidak dapat diubah-ubah seenaknya mengikuti kemauan laki-laki. Perumpamaan yang dikemukakan Nabi tersebut mengisyaratkan laki-laki tidak boleh atau melakukan kekerasan terhadap perempuan, karena dengan tanpa menggunakan kekerasan laki-laki justru akan dapat saling mengisi dan hidup berdampingan secara baik dengan perempuan.

Sabda Nabi tersebut hanya ditujukan kepada kaum laki-laki, ini sesuai dengan konteks masyarakat Arab ketika itu. Sabda nabi ini secara implisit menunjukan bahw adominasi laki-laki terhadap perempuan ketika itu sangat kuat sehingga Nabi merasa perlu untuk memerintahkan kaum laki-laki agar memperlakukan perempuan secara baik dan bijaksana. Dengan demikian dominasi laki-laki dan budaya patriarkhi inilah sesungguhnya yang ingin dihilangkan oleh Nabi dengan memerintahkan kaum laki-laki supaya memandang perempuan sebagai motra sejajar.

Pandangan ini diperkuat oleh kenyataan bahwa para penulis kitab hadis menempatkan hadis-hadis ini pada pembahasan mengenai anjuran untuk berbuat baik kepada istri, bukan pada pembahasan mengenai awal penciptaan manusia. Al-Bukhari, disamping pada kitab al-hadis al-anbiya (yang hanya satu hadis), menempatkan hadis-hadis ini pada kitab an-nikah, bab al-mudarah ma’a an-nisa (bab berbuat sopan dan lembut kepada perempuan) dan bab al-wusat bi an- nisa (bab wasiat mengenai kaum perempuan)[14]

An-nawawi dalam Syarah Shahih Muslim-nya menempatkan hadis-hadis ini pada bab al-wasiyah bi an nisa ( bab wasiat mngenai kaumperempuan). Dalam penjelasannya An—Nawawi antara lain menyatakan bahwa hadis ini merupakan anjuran untuk berlaku lembut kepada kaum perempuan.[15]

Sementara itu as-Syaukani menempatkan hadis ini pada bab ihsan ihsanal-isyrah wa bayan haqq az-zaujain (bab berlaku baik dalam pergaulan (suami isri) dan keterangan mengenai hak suami istri) dan demikian kitab-kitab hadis yang lainnya.[16]

Dengan demikian hadis-hadis itu tidak sesuai apabila difahami sebagai informasi bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk. Hadis-hadis sebenarnya berisi anjuran kepada kaum laki-laki untuk berlaku baik dan bijaksana kepada perempuan. Karena itu Ibn Hajar antara lain menerangkan bahwa secara umum hadis-hadis itu dapat diartikan dengan : ”Saya (Nabi) berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada kaum perempuan, maka terimalah wasiatku ini mengenai kaum perempuan dan laksanakanlah wasiatku ini,berlaku lembutlah kepada mereka dan bergaullah dengan mereka secara baik.”[17]

Hadis-hadis tersebut pada dasarnya selaras dengan hadis-hadis lain dan ayat-ayat al-Qur’an yang berisi anjuran kepada para suami untuk bergaul secara baik dengan para istri mereka. Untuk menyebut sebagian ayat dan hadis-hadis yang senada dengan hadis tersebut adalah QS. An-Nisa ayat 19 : ”wa asyiru hunna bi al ma’ruf” (pergaulilah istri-istri kamu secara baik), QS. At-Talaq ayat 6 : wa i’tamiru bainakum bi ma’ruf (musyawarahkanlah diantara kalian suami istri (tentang segala sesuatu), dengan cara yang baik) dan hadis ”akma al-mu’minin ahsanuhum khuluqon, wa khiyarukum khiyarukum li nisaa ihim” (mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya, dan orang yang paling baik diantara kalian adalah orang-orang yang paling baik terhadap istri-istrinya)[18]

Anjuran dan perintah untuk berlaku baik tersebut ditujukan kepada kaum laki-laki karena memang, sebagaimana di kemukakan, konstruksi budaya Arab ketika itu menempatkan kaum laki-laki lebih dominan dan kaum perempuan tersubordinasi, bahkan dapat dikatakan dalam keadaan tertindas. Karenanya Nabi berusaha merombak budaya semacam itu dan berupaya meningkatkan derajat dan martabat kaum perempuan dengan memerintahkan kaum laki-laki untuk berbuat baik, adil dan bijaksana kepada kaum perempuan.

Perjuangan Nabi demi meningkatkan hak-hak dan martabat perempuan ini terlihat dari sikap para sahabat yang masih mewarisi budaya patrarkhi ketika itu unutuk menahan diri dan tidak banyak berbicara mengenai hal-hal meyangkut hak-hak dan kewajiban istri-istri mereka, karena mereka khawatir akan turun wahyu atau sabda Nabi yang akan memberatkan mereka. Hal ini tergambar dari ucapan Ibn Umar yang diriwayatkan oleh al-Bukhari sebagai penutup hadis-hadis yang menganjurkan untuk saling berpesan supaya berlaku baik kepada kaum perempuan. Ucapan Ibn Umar tersebut adalah :

”Kami pada masa Nabi Saw menghindari untuk banyak berbicara dan membahas tentang istri-istri kami karena kami khawatir akan turun (wahyu yang memberatkan) kepada kami. Ketika Nabi Saw wafat baru kami membicarakan dan membahas secara panjang lebar” (mengenai istri-istri kami).[19]

E. Kesimpulan

Hadis yang menyatakan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk, atau perempuan bagaikan tulang rusuk dari segi sanadnya bernilai shahih, namun ada perbedaan pendapat dikalangan para ulama menyangkut matan-nya, khususnya matan yang menyatakan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk. Diantara mereka ada yang menerima dan ada yang menolak.

Pada kelompok yang menerima, ada dua pendapat :

Yang pertama mengartikan secara tekstual, bahkan digunakan untuk menafsirkan QS.an-Nisa ayat 1 tentang penciptaan awal manusia. Sehingga menurut mereka Hawwa diciptakan dari tulang rusuk Adam.

Sementara yang kedua mengartikan hadis tersebut secara metaforis, bahwa kaum laki-laki harus berlaku baik dan bijaksana dalam menghadapi perempuan.

Sementara kelompok yang menolak hadis itu berargumen bahwa hadis tersebut harus ditolak karena isinya tidak sesuai dengan ayat-ayat al-Qur’an.

Hadis tersebut walaupun sanadnya shahih, tetappi memiliki matan yang berbeda-beda dan sulit ditentukan mana matan yang benar, sehingga hadis tersebut termasuk hadis mudtarib (al-matn). Namun demikian apabila ditempatkan pada konteksnya secara tepat dan difahami secara utuh dari keseluruhan matan yang ada tidak hanya parsial kalimat per kalimat atau matan permatan, maka hadis-hadis tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan penciptaan awal perempuan. Hadis-hadis itu berisi pesan Nabi kepada kaum laki-laki waktu itu untuk berlaku baik kepada istri-istri mereka atau kepada kaum perempuan secara umum. Pesan Nabi tersebut merupakan salah satu manifestasi dari semangat ajaran Islam yang hendak menempatkan laki-laki dan perempuan secara sejajar. Wa Allohu A’lam

BERIKUT INI FOTO PENULIS DAN “TULANG RUSUKNYA”

'My Strawbery'

’Semoga Alloh Memberkahi dan Merahmati Hubungan Mereka’

Amiiiiiinn…………….!!!

DAFTAR PUSTAKA

Abu Abdillah Muhammad Ibn Ismail al-Bukhari, Matn al-Bukhari bi Hasiyah as-Sindi (Beirut : Dar al Kitab al-Islamiy,t.t) Jilid III

Ahmad Mustafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, (Mesir : Mathba’ah Mustafa al-Babi al-Halabi wa Auladuh,1974) Jilid III

An-Nawawi, Sahih Muslim bi Syarh an-Nawawi (Beirut : Dar al-Fikr, 1972) Jilid X

Hamim Ilyas dkk, Perempuan Tertindas, (Yogyakarta : eLSAQ press,2005)

Ibn Hajar al-Asqalani,Tahzib at-Tahzib (T.tp.,Dar al-Fikr,1984)

Ibn Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari bi Syarh al-Bukhari (Mesir : Mustafa al-Babi al Halabi, 1959) Jilid XI

Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib,Usuz al-Hadis :’Ulumuh wa Mustalahuh (Beirut : Dar al-Fikr,1989)

Muhammad bin Ar asy Syaukani, Nail al-Autar (Mesir : Mustafa al-Babi al-Halabi,1961) jilid V

M.Quraih Shihab, Wawasan al-Qur’an (Bandung : Mizan)

Riffat Hassan, Isu Kesetaraan Laki-Laki dan Perempuan dalam Tradisi Islam (Yogyakarta : LSPPA Yayasan Prakarsa,1995)

Wahbah Zuhaily, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh ( Damaskus : Dar al Fikr,1989)Jilid VII

Yayasan Penyelenggara Penterjemah al-Qur’an,al-Qur’an dan terjemahnya (Semarang : Toha Putra, 1989)

Zaitun Subhan, Tafsir Kebencian : Studi Bias Gender dalam Tafsir al-Qur’an

( Yogyakarta : LkiS,1999)


[1] QS.an-Nahl  ayat 58-59 mengambarkan nilai perempuan dalam pandangan orang-orang Arab waktu itu dengan pertanyaan : “Dan apabila seorang dari mereka diberi kabar dengan kelhiran anak perempuan, merah padamlah mukanya, dan dia sangat marah.”

[2] Lihat misalnya : QS. Al-Hujurat :13, Ali-Imran :195, an-Nisa : 124, at-Taubah: 71

[3] Hamim Ilyas dkk, perempuan tertindas, (Yogyakarta : eLSAQ press,2005)hal 24

[4] Abu Abdillah Muhammad Ibn Ismail al-Bukhari, Matn al-Bukhari bi Hasiyah as-Sindi (Beirut : Dar al Kitab al-Islamiy,t.t) III 256-257

[5] Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib,Usuz al-Hadis :’Ulumuh wa Mustalahuh (Beirut : Dar al-Fikr,1989) hal 392

[6] Penilaian di atas didasarkan pada Ibn Hajar al-Asqalani,Tahzib at-Tahzib (T.tp.,Dar al-Fikr,1984). Masing-masing periwayat tersebut adalah al-A’raj, XII : 76, Abu az-Zinad, V: 178-179, X :5-8, dan Abd al-Aziz Ibn Abdullah,IV : 123.

[7] Yayasan Penyelenggara Penterjemah al-Qur’an,al-Qur’an dan terjemahnya (Semarang : Toha Putra, 1989) hal 114. f.263

[8] M.Quraih Shihab, Wawasan al-Qur’an (Bandung : Mizan) hal 299

[9] Lihat ibid, hal 300. Zaitun Subhan, Tafsir Kebencian : Studi Bias Gender dalam Tafsir al-Qur’an

( Yogyakarta : LkiS,1999) hal 50

[10] Riffat Hassan, Isu Kesetaraan Laki-Laki dan Perempuan dalam Tradisi Islam (Yogyakarta : LSPPA Yayasan Prakarsa,1995) hal 60

[11] Cerita-ecrita Israiliyyat yang banyak dikutip antara lain menceritakan bahwa Hawwa diciptakan dari tulang rusuk yang paling pendek dari bagian belakang tubuh Adam. Ketika itu Adam sedang tidur, kemudian setelah dia bangun dan melihat ada perempuan disampingnya ia terkejut dan merasa terkagum-kagum, dan pada akhirnya keduanya saling menyenangi. Lihat Tafsir Ibnu Katsri, Tafsir al-Qur’an al-a’dzim, I hal 448.

[12] Ahmad Mustafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, (Mesir : Mathba’ah Mustafa al-Babi al-Halabi wa Auladuh,1974) III, hal 177

[13] Lihat misalnya QS. Al-Mu’minun ayat 23-24

[14] Abu Abdillah Muhammad Ibn Ismail al-Bukhari,Matn al-Bukhari bi Hasiyah as-Sindi ( Beirut : Dar al-Kitab al-islami,t.t)III hal 256-257

[15] An-Nawawi, Sahih Muslim bi Syarh an-Nawawi (Beirut : Dar al-Fikr, 1972) X hal 57-58

[16] Muhammad bin Ar asy Syaukani, Nail al-Autar (Mesir : Mustafa al-Babi al-Halabi,1961) V hal 217

[17] Ibn Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari bi Syarh al-Bukhari (Mesir : Mustafa al-Babi al Halabi, 1959) XI, hal 162 dan 177

[18] Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dan at-Tirmidzi dari Abu Hurairah. Dikutip oleh Wahbah Zuhaily, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh ( Damaskus : Dar al Fikr,1989) VII, 329.

[19] Lihat al-Bukhari, Matn al-Bukhari,III hal 257. ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, XI hal 163

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: