SEJARAH AL-QUR’AN

Arab Pra-Islam

Haruslah kita ketahui walaupun agak sedikit keadaan bangsa Arab sebelum datang agama Islam, karena bangsa Arablah bangsa yang mula-mula menerima agama Islam. Sebelum datang agama Islam, mereka telah mempunyai berbagai macam agama, adat istiadat, akhlak dan peraturan-peraturan hidup. Agama baru ini pun datang membawa akhlak, hukum-hukum dan peraturan-peraturan hidup.

  1. A.     Kondisi Geografis

             Jazirah Arab merupakan wilayah gersang yang terisolasi, baik ditilik dari sisi lautan maupun daratan. Sekilas, tak ada yang istimewa dari wilayah ini. Bahkan peradaban pun telah hancur oleh konflik berbasis etnisitas dan primordialitas yang terpelihara sejak puluhan tahun sebelumnya.[1]

            Agama dan masyarakat Arab ketika itu mencerminkan realitas kesukuan masyarakat jazirah Arab dengan luas satu juta mil persegi. Jazirah Arab terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu bagian besar yaitu bagian tengah dan bagian pesisir. Di sana, tidak ada sungai yang mengalir tetap, yang ada hanya lembah-lembah berair di musim penghujan. Sebagian besar daerah daerah jazirah ini adalah padang pasir Sahara yang terletak di tengah dan memiliki keadaan dan sifat yang berbeda-beda. Padang pasir Sahara ini secara umum bisa dibagi menjadi tiga bagian: [2]

Pertama: Sahara langit memanjang 140 mil dari utara ke selatan dan 180 mil dari timur ke barat, disebut juga Sahara Nufud.Oase dan mata air sangat jarang di sini, sedang tiupan angina sering kali menimbulkan kabut debu yang mengakibatkan daerah ini sukur ditempuh.

Kedua: Sahara Selatan yang membentang dan menyambung sahara langit kea rah timur sampai selatan Persia. Sahara ini hamper seluruhnya merupakan dataran keras, tandas, dan pasir bergelombang. Daerah ini juga disebut dengan ar-Rub’ al-Khalil (bagian yang sepi)

Ketiga: Sahara, Sahara Harrat, suatu daerah yang terdiri dari tanah liat yang berbatu hitam bagaikan terbakar. Gugusan batu-batu hitam itu menyebar di kekuasaan Sahara ini, seluruhnya mencapai 29 buah.

            Penduduk Sahara ini sangat sedikit jumlahnya, terdiri dari suku-suku Badui yang mempunyai gaya hidup pedesaan dan nomadic, berpindah dari satu daerah ke daerah lain guna mencari air dan padang rumput untuk binatang gambalaan mereka, seperti kambing dan onta.[3]

            Agama Islam pada umumnya dikaitkan dengan kehidupan padang pasir. Gagasan ini ada benarnya, namun sangat menyesatkan jika tidak dikualifikasikan sebagaimana mestinya. Islam, pertama-tama dan terutama, hamper merupakan agama orang kota yang kurang memperhatikan kebutuhan khusus para petani atau pengembara penggembala ternak. Tanah air pertama Islam adalah mekkah, suatu pusat perniagaan yang sangat makmur; dan tanah keduanya Madinah, sebuah oase kaya yang juga merupakan kota perniagaan. Di samping itu, baik Mekkah maupun Madinah tetap menjaga hubungan erat dengan kaum pengembara di sekitarnya.[4]

Jazirah Arab bentuknya memanjang dan tidak parallelogram. Ke sebelah utara Palestina dan padang Syam, ke sebelah timur Hira, Dijla (Tigris), Furat (Euphrates) dan Teluk Persia, ke sebelah selatan Samudera Indonesia dan Teluk Aden, sedang ke sebelah barat Laut Merah. Jadi, dari sebelah barat dan selatan daerah ini dilingkungi lautan, dari utara padang sahara dan dari timur padang sahara dan Teluk Persia. Akan tetapi bukan rintangan itu saja yang telah melindunginya dari serangan dan penyerbuan penjajahan dan penyebaran agama, melainkan juga karena jaraknya yang berjauh-jauhan. Panjang semenanjung itu melebihi seribu kilometer, demikian juga luasnya sampai seribu kilometer pula. Dan yang lebih-lebih lagi melindunginya ialah tandusnya daerah ini yang luar biasa hingga semua penjajah merasa enggan melihatnya. Dalam daerah yang seluas itu sebuah sungaipun tak ada. Musim hujan yang akan dapat dijadikan pegangan dalam mengatur sesuatu usaha juga tidak menentu. Kecuali daerah Yaman yang terletak di sebelah selatan yang sangat subur tanahnya dan cukup banyak hujan turun, wilayah Arab lainnya terdiri dari gunung-gunung, dataran tinggi, lembah-lembah tandus serta alam yang gersang. Tak mudah orang akan dapat tinggal menetap atau akan memperoleh kemajuan. Sama sekali hidup di daerah itu tidak menarik selain hidup mengembara terus-menerus dengan mempergunakan unta sebagai kapalnya di tengah-tengah lautan padang pasir itu, sambil mencari padang hijau untuk makanan ternaknya, beristirahat sebentar sambil menunggu ternak itu menghabiskan makanannya, sesudah itu berangkat lagi mencari padang hijau baru di tempat lain. Tempat-tempat beternak yang dicari oleh orang-orang badwi jazirah biasanya di sekitar mata air yang menyumber dari bekas air hujan, air hujan yang turun dari celah-celah batu di daerah itu. Dari situlah tumbuhnya padang hijau yang terserak di sana-sini dalam wahah-wahah yang berada di sekitar mata air.[5]

  1. B.     Kondisi Politik

             Dari aspek politik, jazirah Arab sama sekali tidak diperhitungkan. Kawasan ini diapit oleh dua kekuatan imperium raksasa yang diliputi  ketegangan dalam memperebutkan kekuasaan, yaitu Bizantium dan Persia. Bizantium adalah wilayah bekas Imperium Romawi yang beribu kota Konstantinopel. Wilayah ini mencakup Asia kecil, Syria, Mesir, serta bagian tenggara Eropa hingga Danube. Dari aspek maritime, wilayah ini juga meliputi sejumlah pulau di laut Tengah, sebagian daerah Italia serta beberapa daerah di pesisir Afrika Utara. Adapun Persia, ia merupakan saingan berat Bizantium dalam perebutan kekuasaan di Timur Tengah. Persia beribukota di al Mada’in, sebuah kota yang terletak sekitar 20 mil arah tenggara kota Bagdad. Wilayah Persia melebar dari Irak dan Mesopotamia hingga pedalaman timur Iran serta Afganistan dewasa ini.

Untuk melukiskan betapa sengitnya perebutan kekusaan dua imperium raksasa tersebut, ekspansi militer kerajaan Kristen Abisinia dapat dijadikan tamsil. Sekisar tahun 521 M, Abisinia dengan dukungan penuh Bizantium menyerbu dataran tinggi Yaman, daerah arah barat daya Jazirah Arab. Penguasa Arabia Selatan pro-Persia, Dzu Nuwas, segara bereasi dengan membantai kaum Kristen Najran pada tahun 523 M Dzu-Nuwas tewas dalam suatu pertempuran seiring jatuhnya dataran tinggi Yaman ke dalam kekuasaan Abisinia-Bizantium. Tapi berselang setengah abad kemudian, pada tahun 575 dataran tinggi Yaman berhasil direbut kembali oleh Persia.

            Ekspansi kekuasaan dua imperium raksasa tersebut bertujuan untuk melakukan control politik terhadap Jazirah Arab. Cara yang ditempuh pun beragam, ada yang secara langsung dan ada juga yang tidak. Misalnya, Persia mensuplai beragam kebutuhan militasi politik pro-Persia yang tersebar di sejumlah kota kecil di pesisir timur dan selatan Arabia. Bizantium sekitar tahun 590 M yang hendak menguasai kota Mekkah dapat dibaca sebagai upaya Bizantium untuk menancapkan kuku kekuasaannya.

Hingga permulaan abad ke-7 M, Persia mencatat serangkaian kemajuan yang menggembirakan dalam proses pengembangan sayap-sayap kekuasaannya. Kota Raha takluk pada tahun 611 M perlahan tapi pasti, satu per satu wilayah Bizantium dicaplok Persia. Syria tunduk pada tahun 613 M, diikuti Yarusalem pada tahun 614 M dan Mesir pada tahun 617 M ibu kota Bizantium, konstantinopel, sempat pula diserbu, namun tidak membuahkan hasil.

            “Kekalahan” yang beruntun ini sempat melemahkan kekuatan Bizantium. Hingga pada masa pemerintahan Heraclitus, Bizantium mulai membenahi armada meliternya. Pada tahun 622 M, Heraclius berkonsentrasi untuk menyerang Persia. Invasi militer ke Irak diawali pada tahun 627 M setelah setahun sebelumnya penguasa Persia, Khusru II, terbunuh dalam sebuah insiden politik. Sejak itu, kekuatan Persia semakin melemah sampai sampai pada kesempatan damai sekaligus penyerahan daerah Persia di mana Bizantium pada tahun 629 M menjadi pemenangnya.

            Konflik berkepanjangan Bizantium dan Persia ini kelak digambarkan dengan sangat menarik dalam Surah ar-Rum [30] ayat 2-4:

 “Telah dikalahkan bangsa Romawi di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang dalam beberapa teahun lagi…..(Q.S. ar-Rum [30]: 2-4

  1. C.     Kondisi Sosial

 Masyarakat Jazirah Arab adalah masyarakat yang ‘suka’ berperang. Karena itu, peperangan antarsuku  sering sekali terjadi. Sikap ini nampaknya telah menjadi tabiat yang mendarah daging dalam diri orang Arab. Dalam masyarak yang “suku” berperang tersebut, nilai perempuan menjadi sangat rendah. Situasi seperti ini terus berlasung sampai agama Islam lahir. Dunia arab ketika itu merupakan kancah peperangan terus menurus. Meskipun masyarakat Badui mempunyai pemimpin, namun mereka hanya tunduk kepada syeikh atau Amir (ketua kabilah) mereka dalam hal yang berkaitan dengan perperangan, pembagian harta rampasan dan pertempuran tertentu. Di luar itu, syeikh atau amir tidak kuasa mengatur anggota kebilahnya.

            (1). Norma-norma perilaku sosial

Dalam Arab Pra-Islam tidak ada kesatuan di struktur suku langsung, suku-suku yang bermusuhan secara terbuka satu sama lain. Merampok adalah hal yang biasa, seperti juga suku permusuhan, dendam dan berkelahi. Banyak darah ditumpahkan dan ada kurangnya penghormatan terhadap kehidupan.

             (2). Kejahatan dan kegagalan moral

Umumnya, orang-orang yang tidak brmoral. Pada tingkat individu orang termotivasi oleh keserakahan dan keinginan-keinginan egois lain dan tidak terlalu peduli pada orang lain. Kecemburuan, eksploitasi, keserakahan minum, perjudian, pembunuhan dan pembunuhan itu hanya beberapa dari kejahatan dan kegagalan moral rakyat of Arabia. Tidak ada system hukum Negara, atau hukum memang ada untuk menghadapi situasi dan setiap intervensi dating dari suku-suku misalnya dalam kasus pembunuhan. Tidak ada kerjasama, baik antara individu atau suku.

            (3). Keluarga dan masyarakat

Sebelum Islam hak-hak kelompok banyak orang yang diabaikan atau tidak ada. Immorality adalah masalah besar, yang Islam berusahan untuk memperbaiki. Wahyu ditetapkan tugas dan kewajiban dari beberapa orang dan hak orang lain, maka memperkenalkan lebih adil dan lebih bermoral masyarakat. Sebagai contoh, tugas-tugas suami istri itu diletakkan, tanggung jawab kepada sanak keluarga, fakir miskin yang menekankan; posisi perempuan budak dll. Fenomena kesukuan yang kental dalam kehidupan masyarakat Mekah memuculkan tesis masyarakat kabilah. Dalam konteks ini, system kependudukan masyarakat dibangun menurut kabilah. Dalam konteks ini, system kependudukan masyarakat dibangun menurut kabilah di mana anak-anak dari satu dianggap saudara yang memiliki pertalian darah.

D. Kondisi Budaya

 Arab. Letaknya yang dekat persimpangan ketiga benua, semenanjung Arab menjadi dunia yang paling mudah dikenal di alam ini. Dibatasi oleh Laut Merah ke sebelah barat, Teluk Persia ke sebelah Timur, Lautan India ke sebelah selatan, Suriah dan Mesopotamia ke utara, dahulu merupakan tanah yang gersang tumbuh-tumbuhan di Pegunungan Sarawat yang melintasi garis pantai sebelah barat. Meski tidak banyak perairan, beberapa sumbernya terdapat di bawah tanah yang membuat ketenangan dan sejak dulu berfungsi sebagai urat nadi permukiman manusia dan kafilah-kafilah.[6] Akibat perperangan yang terus menerus, kebudayaan mereka tidak berkembang dengan baik. Karena itu, bahan-bahan sejarah arab-Islam sangat langka didapatkan di dunia dan bahasa Arab. Ahmad Syalabi menyebutkan, sejarah mereka hanya dapat diketahui di masa kira-kira 150 tahun menjelang lahirnya agama Islam. Pengetahuan itu diperoleh melalui syair-syair yang beredar di kalangan para perawi syair. Dengan begitulah sejarah dan sifat masyarakat Badui Arab dapat diketahui, antara lain bersemangat tinggi dalam mencari nafkah, sabar menghadapi kekerasan alam, dan juga dikenal sebagai masyarakat yang cinta kebebasan.

Dengan kondisi yang seperti tidak pernah berubah itu, masyarakat Badui pada dasarnya tetap berada dalam fitrahnya. Kemurniannya tetap terjaga, jauh lebih murni dari bangsa-bangsa lain. Dasar-dasar kehidupan mereka mungkin dapat disejajarkan dengan bangsa-bangsa yang masih berada dalam taraf permulaan perkembangan budaya. Bedanya dengan bangsa lain adalah hamper seluruh penduduk badui adalah penyair.

Tentu saja, kondisi masyarakat Badui ini berbeda dengan penduduk negeri yang telah berbudaya dan mendiami pesisir jazirah Arab, sejarah mereka dapat diketahui denagn lebih jelas. Mereka selalu mengalami perubahan sesuai dengan perubahan situasi dan kondisi yang mengitarinya. Mereka mampu membuat alat-alat dari besi, bahkan mendirikan kerajaan-kerajaan. Sampai kehadiran Nabi Muhammad, kota-kota perniagaan dan memang Jazirah Arab ketika itu merupakan daerah yang terletak pada jalur perdagangan yang menghubungkan Syam dan Samudera India.

 D.    Kondisi Ekonomi

             Apa yang berkembang menjelang kebangkitan Islam itu merupakan pengaruh dari budaya bangsa-bangsa di sekitarnya yang lebih awal maju daripada kebudayaan dan peradaban Arab. Pengaruh tersebut masuk ke jazirah Arab melalui beberapa jalur; yang terpenting di antaranya adalah: (1) melalui hubungan dagang dengan bangsa lain, (2). Melalui kerajaan-kerajaan protektorat, Hirah dan Ghassan, dan (3) masuknya misi Yahudi dan Kristen.[7] Karena kondisi geografis Jazirah Arab pada umumnya tandus dan gersang maka aktivitas perekonomi lebih bertumpu pada sektor perdagangan. Memang, ada bertani, namun jumlahnya sangatlah kecil. Demikian halnya dengan kondisi perekonomian Mekkah.[8]

            Aktivitas perdagangan masyarakat Mekah didasarkan atas ikatan kesukuan dengan membentuk kongsi dagang. Inilah yang menciptakan komunitas dagang. Inilah yang menciptakan kemunitas dagang yang disebut kafilah ini disepakati sebagai jaminan keamanan dalam perjalanan. Sebab, tak bisa dimungkiri bahwa kriminalitas semisal perampokan merupakan momok yang sangat menakutkan.

Kendati demikian, berdagang secara berkelompok (kafilah) ini pun sebenarnya belum memberi kapastian keamanan di perjalanan. Karena itu, kafilah-kafilah kerapkali menjalin relasi senergismutualistis dengan Negara tetangga atau suku-suku yang dilewati selama menempuh perjalanan. Dari relasi ini, jika sewaktu-waktu terjadi gangguan keamanan, suku-suku tersebut akan membantu kafilah-kafilah dagang itu.

Meski iklim perdagangan tumbuh sangat kondusif di Mekah, bukan berarti pemerataan ekonomi yang berkeadilan dapat terwujud di sana. Kondisi gografis yang panas teryata turut membentuk karakter orang-orang Mekah menjadi temperamental. Fonomena ini lantas menyulut hasrat monopoli ekonomi sehingga menimbulkan praktik-praktik perekonomian yang tidak etis dan sangat eksploitatif. Denagan ungkapan lain, ketimbangan ekonomi amat kentar. Jurang pemisah antara kaum berpunya dan kaum miskin begitu menganga. Karena itulah, acapkali terjadi insiden-insiden kecil yang berujung pada pecahnya konflik sosial.[9]

 Kenabian Muhammad Saw

Kepribadian Nabi Muhammad Saw yang mulia sejak kecil telah diketahui oleh semua penduduk Mekkah. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan apabila Nabi mendapatkan gelar yang amat terhormat, yaitu al-Amin yang artinya orang yang terpercaya dari kaum Quraisy.[10]

            Nabi Muhammad Saw lahir pada tanggal 12 Rabiul awal tahun 571 Masehi, atau yang lebih akrab dengan sebutan tahun gajah. Sebutan tahun gajah ini diambil berdasarkan peristiwa luar biasa yang terjadi pada tahun tersebut. Yaitu peristiwa penyerangan pasukan gajah yang menghancurkan ka’bah. Namun, tentara bergajah ini kemudian dihancurkan oleh burung-burung yang dikirimkan oleh Allah Swt untuk melindungi ka’bah. Ka’bah inilah yang kemudian dijadikan kiblat suci umat Muslim di seluruh penjuru dunia. Nabi Muhammad lahir ditengah-tengah luar biasanya kebobrokan moral masyarakat Arab. Penyembahan berhala, perampokan pemerkosaan, minuman keras, perjudian, pembunuhan bayi-bayi perempuan, semua merajalela dengan bebas dan sudah menjadi pemandangan yang lumrah. Nabi Muhammad Saw inilah yang kemudian ditunjuk oleh Allah untuk memperbaiki moral dan aqidah masyarakat Arab dan seluruh umat manusia. Tanda-tanda kenabian Muhammad Saw sebenarnya sudah tampak sejak beliau dilahirkan. Keistimewaan yang sangat luar biasa.

            Pada usianya yang baru mencapai 5 bulan, Nabi Muhammad Saw sudah memiliki kemampuan untuk berjalan. Kemudian, pada usianya yang ke 9 bulan, beliau sudah dapat berbicara. Menginjak usianya yang ke 2 tahun, Nabi Muhammad sudah dapat dilepas untuk menggembala kambing bersama anak-anak Halimah (Ibu susuan Nabi Muhammad Saw) yang lain. Dan pada usia itu itu pulalah beliau harrus dipulangkan kembali kepada ibu kandungnya (Aminah), karena pada usia tersebut Nabi Muhammad sudah berhenti menyusu. Meskipun dengan berat hati, halimah pun akhirnya mengembalikan Nabi Muhammad Saw ke tangan Aminah, ibu kandungnya.[11]

A).  Sebelum Diangkat menjadi Nabi

Kelahiran Nabi Muhammad disebut Aminah dan Abdul Mutali dengan suka cita yang yang gegap gempita. Apalagi Abdul Mutalib, ia merasa pengganti anaknya, Abdullah, kini telah dating dan sedang ada di depan mata. Segera ia membawa Nabi Muhammad ke ka’bah untuk mengungkapkan syukur atas kelahiran cucunya itu. Kini, mereka sedang menantikan seorang yang akan menysusukannya dari kelurga Sa’d (Banu Sa’d) untuk kemudian  mnyerahkan anaknya itu kepada dalah seorang dari mereka sebagaimana sudah menjadi adat kaum bangsawan Arab di Mekkah

Halimah kemudian mengambil Nabi Muhammad dan dibawa-nya pergi bersama-sama dengan teman-temannya ke pendalaman. Dia bercerita, sejak ia mengambil anak itu (Nabi Muhammad Saw), ia merasa mendapatkan berkah. Ternak kambingnya gemuk-gemuk dan susunya pun bertambah. Tuhan telah memberkati semua yang ada padanya. Selama dua tahun, Nabi Muhammad tinggal di sahara, disusukan oleh Halimah dan diasuh oleh syaima’, putrinya. Udara Sahara dan kehidupan pendalaman yang kasar menyebabkannya cepat sekali menjadi besar, dan menambah indah bentuk dan pertumbuhan badannya.

Setelah lima tahun dalam asuhan Halimah, Nabi Muhammad pun dikembalikan kepada ibu kandungnya, Aminah. Setahun kemudian, Aminah mengajak Nabi Muhammad ke Madinah, selain untuk silaturahmi kepada para kerabat di sana, juga untuk menziarahi makam ayahnya. Namun naas, dalam perjalanan menziarahi makam ayahnya. Namun naas, dalam perjalanan kembali ke Mekkah, tepatnya di kampong Abwa’, Aminah jatuh sakit hingga meninggal dunia.

Nabi Muhammad di asuh Mutalib selama dua tahun sebelum diambil alih oleh Abu  Talib setelah Abdul Mutalib wafat. Abu Talib adalah paman Nabi Muhammad sekaligus pemimpin suku Quraisy yang amat disegani. Meski miskin ia sangat terhormat.[12] Pada usianya yang ke 12 tahun, Nabi Muhammad Saw mendapat izin untuk mengikuti perjalanan ke negeri Syam (Suriah). Dalam perjalanan itu, Abi Thalib bertindak sebagai pemimpin kafilah. Jika dilihat dari segi usia, Nabi Muhammad Saw memang tergolong masih terlalu muda untuk mengikuti perjalanan semacam itu. Namun Allah telah berkehendak lain, justru dalam perjalanan itulah Nabi Muhammad Saw kembali menampakkan tanda-tanda kenabiaannya.[13]

B). Setelah Diangkat Menjadi Nabi

Perjumpaan Nabi Muhammad  dengan malaikat Jibril merupakan titik klimaks percapaian spritualnya, hingga ia menggigil dan menghamburkan dari untuk pulang. Dengan gementar ia menemui istrinya, khadijah. Dalam ketaatan yang luar biasa, khadijah menyakinkan suaminya, Nabi Muhammad, akan kesejatian pengalaman spiritual tersebut. Sejak saat itu rutinitas spiritual ke gua hira dipungkasi, dan ia memulai misi histories sebagai Rasulullah.

Sebelum menyampaikan risalah kenabian ke tengah-tengah masyarakat Mekkah, Nabi Muhammad terlebih dahulu mendakwahkannya secara khusus kepada keluarga dan kerabat dekatnya contohnya istrinya, Khadijah, dan keponakannya, Ali bin Abi Talib, yang waktu itu masih berusia bocah. Di masa awal dakwanya Nabi Muhammmad hanya mampu merekrut pengikut dari golongan tertindas dengan strata social yang terpinggirkan seperti seorang budak bernama Zaid bin Haritsah meski tersebut juga Abu Bakar, seorang budak saudagar kaya raya. Hal ini bisa dimaklumi lebih-lebih karena para aristocrat Mekah melihat misi dakwah Nabi Muhammad sebagai sebuah ancaman terhadap kelestarian tradisi keagamaan paganistik yang dianut turun temurun.

Baru dua tahun setelah misi kenabian dipancangkan, Nabi Muhammad mulia berani tampil di muka umum.

C). Kritikan terhadap klaim kenabian

Pengakuan Muhammad bahwa ia merupakan seorang Nabi dan Rasul serta menerima pesan-pesan dari Tuhan yang harus disampaikan kepada rekan-rekan arabnya, telah dikritik dan deserang bahkan sejak hari pertama klaim tersebut dikemukakan. Dari Al-Qur’an sendiri kita ketahui bahwa orang-orang pagan menyebut pesan ketuhanan itu sebagai dongeng-dongeng masa silam (asatir al-awwalin); sementara orang-orang yahudi Madinah pun mengejek klaim-klaim Nabi Muhammad tersebut. Kritik-kritik semacam ini kemudian diikuti oleh para sarjana Kristen. Di Eropa pada abad pertengahan, terdapat konsepsi terinci tentang Muhammad sebagai Nabi palsu, yang hanya berpura-pura telah menerima pesan dari Tuhan.[14]

Wahyu dan Penurunan al-Qur’an

Wahyu secara kebahasaan, wahyu memiliki banyak arti yang berbeda-beda. Di antaranya adalah: isyarat, tulisan, risalah, pesan, perkataan yang terselubung, pemberitahuan secara rahasia bergegas, setiap perkataan atau tulisan atau pesan atau isyarat yang disampaikan kepada orang lain.

Menurut Raghib Ishfahani, wahyu adalah isyarat yang cepat.[15]Nabi Muhammad Saw bukanlah seorang Rasul yang berbeda dari Nabi dan Rasul sebelumnya. Beliau pun bukanlah Nabi pertama yang berbicara dengan manusia atas nama wahyu, kalam ilahi. Sejak Nabi Nuh As muncul berturut-turut pribadi-pribadi suci pilihan Allah, yang semuanya berbicara atas nama Allah dan semua ucapannya bukanlah keluar dari hawa nafsu. Wahyu Ilahi yang mendukung dan memperteguh kenabian Muhammad Saw yang serupa.[16]

Kata wahyu dalam al-Qur’an memiliki empat arti:

1). Isyarat secara rahasia. Ini adalah pemaknaan wahyu secara kebahasaan. Sebagaimana ayat yang dimamaktubkan dalam al-Qur’an berkenaan dengan Nabi Zakariaya As, maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka,  “Hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang.”

2). Petunjuk naluriah, yaitu petunjuk-petunjuk yang bersifat naluriah yang ada di dalam diri semua makhluk. Setiap maujud, baik itu benda padat tumbuhan, hewan dan manusia, secara instingtif mengetahui jalan keabadian dan keberlasungsungan hidupnya.

3). Ilham, (bisikan gaib). Kadangkala manusia menerima pesan, tetapi tidak mengetahui dari mana asa pesan tersebut. Baisanya pesan ini muncul dalam kondisi terdesak, ketika dia menganggap telah menapaki jalan buntu. Tiba-tiba muncul pancaran dari dalam hati yang memberitahu adanya jalan terang dan memberi harapan untuk terbebas dari kesulitan. Pesan-pesan pemberitahu jalan keluar ini adalah suara gaib yang membantu manusia dari balik layer wujud. Inilah inayah sang pencipta kepada alam semesta.[17]

Al-Qur’an tidak turun sekaligus. Al-Qur’an turun secara berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Oleh ulama membagi masa turun ini dibagi menjadi dua periode yaitu periode Mekkah dan periode Madinah. Periode Mekkah berlasung selama 12 tahun masa kenabian Rasulullah Saw dan surat-surat yang turun pada waktu ini tergolong surat makkiyyah. Sedangkan periode Madinah yang dimulai sejak peristiwa hijrah berlasung selama 10 tahun dan surat yang turun pada kurun waktu ini disebut surat Madaniyah.[18]

Tidak dapat dimungkiri bahwa ketika al-Qur’an diturunkan pertama kali kepada Nabi Muhammad Saw. Dia merasa terkejut dan ketakutan. Kejadian ini membuatnya trauma beberapa hari, padahal sebelumnya ia telah mempersiapkan diri dengan kontemplasi untuk beberapa lama di Gua Hira meski ia tidak mengharapkan dan tidak menduga akan datangnya wahyu kepadanya, sebab, pada dasarnya Nabi Muhammad adalah orang yang paling sadar dan peduli akan kekacauan masyarakatnya; ia sengaja memisahkan diri dari kaumnya untuk mendapatkan simpul penyebab kekacauan dan mencari solusinya yang paling tepat.

Dalam perenungannya yang mendalam, Allah bermaksud untuk membantu memecahkan apa yang menjadi beban pikirannya dengan mengangkatkannya menjadi Rasul yang diberi pesan-pesan oleh Allah berupa wahyu untuk disampaikan kepada umatnya dalam rangka mengeluarkam mereka dari dunia kegelapan menuju dunia yang penuh cahaya terang.[19] Permulaan turunnya al-Qur’anul karim adalah tanggal 17 Ramadhan tahun ke-40 kelahiran Nabi Saw., ketika beliau sedang bertahannus (beribadah) di gua hira. Pada saat itu turunlah wahyu dengan perantaraan Jibril mendekap Nabi ke dadanya lalu melepaskannya (dan melakukan itu sampai tiga kali), sambil mengatakan “iqra’ (bacalah)” pada setiap kalinya, dan Rasul Saw, menjawabnya “ma ana bi bi qa ri (saya tidak bisa membaca)” Pada dekapan ketiga Jibril membacakan:

Artinya: Bacalah! Dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah, bacalah! Dan Tuhanmulah yang paling pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam, Dia mengajarkan manusia apa yang diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5).

Ada beberpa pendapat mengenai proses penurunan al-Qur’an dari Al-Qur’an dari Allah sampai kepada nabi Muhammad Saw., perbedaan pedapat itu pada dasarnya dapat dibedakan kedalam tiga kelompok besar, yaitu:

1). Kelompok yang berpendappat bahwa al-Qur’an diturunkan sekaligus (dari awal sampai akhir) ke langit dunia pada malam al-Qadar. Kemudian setelah itu diturunkan secara berangsur-angsur dalam tempo 20, 23, atau 25 tahun sesuai perbedaan pendapat diantara mereka.

2). Golongan yang berpendirian bahwa al-Qur’an diturunkan ke langit dunia bagian demi bagian (tidak sekaligus) pada setiap malam al-Qadar karena tidak ada kesepakatan diantara kelompok ini. Jadi, menurut mereka, setiap dating malam al-Qadar setiap Ramadhan, bagian tertentu dari al-Qur’an diturunkan ke langit dunia sekadar kebutuhan untuk selama satu tahun, sampai ketemu malam al-Qadar’ tahun berikutnya.

3). Aliran yang menyimpulkan bahwa al-Qur’an itu untuk pertama kalinya diturunkan pada malam al-Qadar sekaligus, dari lauh Mahfudz ke bait al-izzah dan kemudian setelah itu diturunkan sedikit demi sedikit dalam berbagai kesempatan sepanjang masa-masa kenabian/kerasulan Muhammad Saw.[20]

Awal mula turunnya wahyu risali pada tanggal 27 Rajab, tiga belas tahun sebelum hijrah (609 M), Namun, turunya al-Qur’an sebagai kitab semawi, pernah tertunda selama tiga tahun. Ketertundaan ini disebut fatrah. Ketika berada dalam rentang waktu itu, rasulullah Saw menjalankan misi dakwahnya secara diam-diam hingga ayat ini diturunkan, maka sampaikanlah secara terang-terangan segala yang diperintahkan (kepadamu) (QS. Al-Hijr:94).[21]

Pengumpulan al-Qur’an masa Nabi

Masa pengumpulan al-Qur’an dengan menggunakan dua kategori, yaitu: (1) pengumpulan dalam dada (2) dalam dukumen/catatan berupa penulisan pada kitab maupun berupa ukiran.

1). Pengumpulan al-Qur’an dalam dada

Al-Qur’an karim turun kepada Nabi yang ummy (tidak bisa baca tulis), karena itu perhatian Nabi hanyalah dituangkan untuk sekedar menghafal dan menghayatinya, agar ia dapat menguasai al-Qur’an persis sebagaimana halnya al-Qur’an yang diturunkan. Setelah itu ia membacakannya kepada orang-orang dengan begitu terang agar merekapun dapat menghafal dan memantapkannya. Yang jelas adalah bahwa Nabi seorang yang ummy dan diutus Allah di kalangan orang-orang yang ummy pula, Allah berfirman:

 Artinya: Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah.(al-Jumu’ah: 2)

            Biasanya orang-orang yang ummy itu hanya mengandalkan kekuatan hafalan dan ingatanya, karena mereka tidak bisa membaca dan menulis. Memang bangsa Arab pada masa turunya al-Qur’an, mereka berada dalam budaya Arab yang begitu tinggi, ingatan mereka sangat kuat dan hafalannya cepat serta daya fikirnya begitu terbuka.

            Orang-orang Arab banyak yang hafal beratus-ratus ribu syair dan mengetahui silsilah serta nasab keturunannya. Mereka dapat mengungkapkannya di luar kepala, dan mengetahui sejarahnya. Jarang sekali diantara mereka yang tidak bisa mengungkapkan silsilah dan nasab tersebut atau tidak hafal al-Muallaqatul asyar yang begitu banyak syairnya lagi pula sulit dalam menghafalnya.

            Begitu al-Qur’an dating kepada mereka dengan jelas, tegas ketentuannya dan kekuasaannya yang luhur mereka merasa kagum akal fikiran mereka tertimpa dengan al-Qur’an, sehingga perhatiannya dicurahkan kepada al-Qur’an. Mereka menghafalkannya ayat demi ayat dan surat demi surat, mereka tinggalkan syair-syair karena merasa memperoleh ruh/jiwa dari al-Qur’an.

            2). Pengumpulan dalam betuk tulisan

            Keistimewaan yang kedua dari al-Qur’an karim ialah pengumpulan dan penulisannya dalam lembaran. Rasulullah Saw, mempunyai beberapa orang sekretaris wahyu. Setiap turun ayat al-Qur’an beliau memerintahkan kepada mereka menulisnya, untuk untuk memperkuat catatan dan dokumentasi dalam kehati-hatian beliau terhadap kitab Allah ‘azza Wa Jalla, sehingga penulisan tersebut dapat melahirkan hafalan dan memperkuat ingatan.

            Penulisan-penulisan tersebut adalah sahabat pilihan yang dipilih oleh Rasul dari kalangan orang yang terbaik dan indah tulisannya agar mereka dapat mengemban tugas yang mulia ini. Diantara mereka adalah Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab; Muadz bin Jabal, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Khulafaur Rasyidin dan sahabat-sahabat lain. Imam Bukhari dan Muslim meriwatkan dari Anas r.a. bahwasanya ia berkata: “al-Qura’an dikumpulkan pada masa Rasul Saw oleh empat orang yang kesemuanya dari kaum Anshar; Ubay bin Ka’ab, Mu’adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit dan Abu Zaid. Anas ditanya: “Siapa ayah Zaid?” Ia menjawab: “dalah seorang pamanku”.[22]

Pengumpulan al-Qur’an di masa Abu Bakar

 Sebab utamanya adalah terbunuhnya sejumlah besar para Qurra’ pada perang Yamamah, diantaranya Salim, Mawla Abu Hudzaifah yang merupakan salah seorang dari kalangan mereka yang Nabi perintahkan agar al-Qur’an ditransfer darinya.

            Lulu Abu Bakar memerintahkan pengkodifikasi al-Qur’an agar tidak lenyap (dengan banyaknnya yang meninggal dari kalangan Qurra’). Hal ini sebaimana. Disebutkan di dalam Shahih al-Bukhariy bahwasanya ‘Umar bin al-Khathab memberikan isyarat agar Abu Bakar melakukan kodifikasi terhadap al-Qur’an setelah perang Yamamah, namun dia belum memberikan jawaban (abstain), ‘Umar terus mendesaknya dan menuntutnya hingga akhirnya. Allah melapangkan dada Abu Bakar terhadap perkerjaan besar itu. Lalu dia mengutus orang untuk menemui Zaid bin Tsabit, lantas Zaid pun datang menghadap sementara di situ ‘Umar sudah ada ‘Umar. Kemudian Abu Bakar berkata kepadanya, “sesungguhnya engkau seorang pemudah yang intelek, dan kami tidak pernah menuduh terhadapmu. Sebelumnya engkau telah menulis wahyu untuk Rasulullah Shallaahu ‘alaihi Wa Sallam, kerenanya telusuri lagi  al-Qur’an dan mengumpulkannya dari pelapah korma, lembaran kulit dan juga hafalan beberapa sahabat. Ketika itu, Shuhuf (jamak dari kata Shahifah, yakni lebaran asli ditulisnya teks al-Qur’an padanya) masih berada di tangan ‘Umar semasa hidupnya kemudian berpindah lagi ke tangan Hafshoh binti ‘Umar. Mengenai hal ini, Imam al-Bukhari meriwayatkankannya secara panjang lebar.

            Kaum muslimin telah menyetujui tindakkan Abu Bakar atas hal tersebut dan menganggapnya sebagai bagian dari jasa-jasanya yang banyak sekali. Bahkan Ali samapai-sampai berkata, “orang yang paling besar pahalanya terhadap mushaf-mushaf tersebut adalah Abu Bakar. Semoga Allah merahmati Abu Bakar. Dialah orang yang pertama kali melakukan kodifikasi terhadap kitabullah”.

            Pada masa Amirul Mu’minin bin ‘Affan radliyallahu ‘anhu, sebab utamanya adalah timbulnya beragam versi bacaan terhadap al-Qur’an sesuai dengan Shuhuf yang berada di tangan para sahabat, sehingga dikhawatirkan terjadinya fitnah. Oleh karena itu, ‘Utsman memerintahkan agar dilakukan kodifikasi terhadap Shuhuf tersebut sehingga menjadi satu Mushaf saja agar manusia tidak berbeda-beda bacaan lagi, yang dapat mengakibatkan mereka berselisih terhadap Kitabullah dan berpecah-belah.

            Di dalam Shahih al-Bukhari disebutkan bahwa Hudzaifah bin al-Yaman menghadap ‘Utsman seusai penaklukan terhadap Armenia dan Azerbeijan. Dia merasa gelisah dan kalut dengan terjadinya perselisihan manusia dalam beragam versi bacaan al-Qur’an, sembari berkata padanya, “wahai Amirul Mukminin, lakukan sesuatu buat umat sebelum mereka berselisih, “wahai Amirul Mukminin, lakukan sesuatu buat umat sebelum mereka berselisih pendapat kaum Yahudi dan Nasharani.”

            Lalu ‘Utsman mengutus seseorang untuk menemui Hafshoh agar menyerahkan kepada bepada beliau Shuhuf (lembaran-lembaran) yang berada di tanggannya untuk disalin ke Mushhaf-mushhaf, kemudian akan dikembalikan naskah aslinya tersebut kepadanya lagi. Hafshopun menyetujuinya. Lalu ‘Utsman memerintahkan Zaid bin Tsabit, Abdullah bin az-Zubair, Sa’id bin al-Ash, ‘Abdulrrahman bin al-Harits bin Hisyam, lalu merekapun menulis dan menyalinnya ke dalam mushhaf-mushhaf.

            Perbedaan antara proses kodifikasi pada Utsman dan Abu Bakar, bahwa tujuan pengkodifikasi al-Qur’an pada masa Abu baker radliyallah adalah menghipun al-Qur’an secara keseluruhan dalam satu Mushaf sehingga tidak ada satupun yang tercecer tanpa mendorong orang-orang agar bersatu dalam satu mushhaf saja, dan hal ini karenakan belum tampak implikasi yang sinnifikan dari adanya perbedaan seputar Qira’at sehingga mengharuskan tindakkan ke arah itu.

            Sementara tujuan kodifikasi pada masa ‘Utsman adalah menghimpun al-Qur’an secara keseluruhan dalam satu mushaf namun mendorong orang-orang agar bersatu-satu dalam mushaf saja. Hal ini, karena adanya implikasi yang sangat mengkhawatirkan dari beragam versi Qira’ah tersebut.

            Jerih payah pengkodifikasian ini teryata membuahkan mashlahat yang besar bagi kaum muslimin, yaitu bersatu-padunya umat, bersepakatnya kata serta terbitnya suasana keaakraban diantara mereka. Dengan terciptanya hal tersebut, maka kerusakan besar yang ditimbulkan oleh perpecahan umat, tidak bersepakat dalam satu kata serta menyeruaknya kebencian dan permusuhan telah dapat dibuang jauh-jauh. Hal seperti ini terus belanjut hingga hari ini, kaum muslimin bersepakat atasnya diriwayatkan secara mutawatir diantara mereka melalui proses transfer dari generasi tua kepada generasi muda dengan tanpa tersentuh oleh tangan-tangan jahat dan para penghamba hawa nafsu. Hanya bagi Allah lah, segalah puji.

TAHSIN AL-QUR’AN

Pemberian harakat (Nuqath al-I’rab)

Sebagamana telah diketahui, bahwa naskah mushaf usmani generasi pertama adalah naskah yang ditulis tanpa alat Bantu baca yang berupa titik pada huruf dan harakat yang lazim kita temukan hari ini dalam berbagai edisi mushaf dalam al-Qur’an langkah ini sengaja ditempuh oleh khalfah Usman ra dengan tujuan agar rasm (tulisan) tersebut dapat mengakomodir ragam qira’at yang diterima lalu diajarkan oleh rasulullah saw. Dan ketika naskah-naskah itu dikirim keberbagai wilayah, semaunya pun diterima langkah tersebut, lalu kaum muslimin melalukan langkah duplikasi terhadap mushaf-mushaf tersebut, terutama untuk keperluan pribadi mereka masing-masing. Dan duplikasi itu tetap dilakukan tanpa adanya penamaan titik ataupun harakat terhadap kata-kata dalam mushaf tersebut.[23] Hal ini berlasung selama kurang lebih empat puluh tahun lamanya.

Dalam masa itu, terjadilah berbagai perluasan dan pembuakaan wilayah-wilayah baru. Konsekowensi dari perluasan wilayah ini adalah banyaknya orang-orang non arab yang kemudian masuk kedalam Islam, disamping tentu saja meningkatkan interaksi muslimin arab dengan orang-orang non arab muslim ataupun non muslim. Akibatnya, al-ujma (kekeliruan) dan al-lahn (kesalahan) menjadi sebuah fenomena yang tak terhindarkan. Tidak hanya di kalangan kaum muslimin non arab, namun juga dikalangan muslimin arab sendiri.

Hal ini kemudian menjadi sumber kekwatiran tersendiri dilakalangan kaum mmuslimin sendiri. Terutama karma mengingat mushaf al-Qur’an yang umum tersebar saat itu tidak didukung dengan alat Bantu baca berupa titik dan harakat.

Dalam beberapa refrensi [24]disebutkan bahwa yang pertama kali mendapatkan ide pemberian tanda bacaan terhadap muzhab Al-Qur’an adalah Ziyad bi Abihi, salah seorang gubernur yang di angkat oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan r.a. untuk wilyah Basrah (45-53 H). Kisah munculnya ide itu di awali ketika Mu’awiyah menulis surat kepadanya agar mengutus putranya, ‘Ubaidullah, untuk mengahadap Mu’awiyah terkejut melihat bahwa anak muda itu telah melakukan banyak al-lahn dalam pembicaraannya. Mu’awiyah pun mengirimkan surat teguran kepada Ziyad atas kejadian itu. Tanpa buang waktu Ziyad pun menulis surat kepada Abu-al_qur’an Aswad al-Du’aly.[25]

Sesungguhnya orang-orang non Arab itu telah semakin banyak dan telah merusak bahasa orang-orang Arab. Maka cobalah anda menuliskan sesuatu yang dapat memperbaiki bahasa orang-orang itu dan membuat mereka membaca al-Qur’an dengan benar.

Abu al-Aswad sendiri pada mulanya menyatakan keberatan untuk melakukan tuga itu. Namun Ziyad membuat semacam ‘perangkap’ kecil untuk menunggu dijalan yang biasa dilalui Abu al-Aswad, lalu berpesan: “Jika Abu al-Aswad lewat dijalan ini, bacalah salah satu ayat al-Qur’an tapi lakukanlah lahn terhadapnya” ketika Abu al-Aswad lewat, orang inipun membaca firman Allah yang berbunyi:

“Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrik” (al-Taubah: 3)

Tetapi ia mengganti bacaan “wa rasuluhu” menjadi “wa rusulihi”. Bacaan itu didengankan oleh Abu al-Aswad, dan itu membuatnya terpukul. “Maha mulia Allah! Tidak mungkin ia terlepas diri dari Rasul-Nya1” ujarnya. Inilah yang kemudian membuatnya memenuhi permintaan yang diajukan oleh Ziyad. Ia pun menunjuk seorang pria dari suku ‘Abd al-Qais untuk untuk membantu usahanya itu. Tanda pertama yang diberikan oleh Abu al-Aswad adalah harakat (nuqath al-I’rab). Metode pemberian harakat itu adalah Abu al-Aswad membaca al-Qur’an dengan hafalannya, lalu stafnya sembari memegang mushaf memberikan harakat pada huruf terakhir setiap kata dengan warna yang berbeda dengan warna tinta kata-kata dalam mushaf tersebut. Harakat fathah ditandai dengan satu titik di atas huruf, kasrah ditandai dengan satu titik dibawahnya, dhammah ditandai dengan titik didepannya, dan tanwin ditandai dua titik. Demikianlah, dan Abu al-Aswad pun membaca Al-Qur’an dan stafnya memberikan tanda itu. Dan setiap kali usai dari satu halaman. Abu al-Aswad pun memerikanya kembali sebelum melanjutkan ke halaman berikutnya.[26]

Murid-murid Abu al-Aswad kemudian mengembangkan beberapa variasi baru dalam penulisan bentuk harakat tersebut. Ada yang menulis tanda itu dengan bentuk kubus (murabba’ah), ada yang menulisnya dengan bentuk lingkaran utuh, da ada pula yang menulisnya dalam bentuk lingkaran yang dikosongkan bagian tengahnya. Dalam perkembangan selanjutnya, mereka kemudoan menambahkan tanda sukun (yang menyerupai bentuk busur) yang diletakan di bagian atas huruf). Dan seperti yang disimpulkan oleh al-A’zhamy, nampaknya setiap wilayah kemudian mempraktekkan system titik yang berbeda. System titik yang digunakan penduduk Mekkah misalnya berbeda dengan yang digunakan oleh penduduk Bashrah. Dalam hal ini, Bashrah lebih berkembang hingga kemudian penduduk Madinah mengadopsi system mereka). Namun lagi-lagi perlu ditegaskan, bahwa perbedaan ini sama sekali tidak mempengaruhi apalagi mengubah bacaan Kalamullah. Ia masih tetap seperti yang diturunkan Allah kepada Rasulullah SAW.

Satu hal lagi yang perlu disebutkan disini bahwa beberapa peneliti seperti Guidi, Israil Wilfinson, dan DR. ‘Izzat Hassan menyimpulkan bahwa tanda harakat ini sebenarnya dipinjam oleh Bahasa Arab dari Bahasa Syriak. Tetapi mengutip al-A’zhamy- yusuf Dawud Iqlaimis, Biskop Damaskus, menyatakan:

Ini jelas yakin tanpa diragukan bahwa pada zaman Yakub dari Raha, yang meninggal di awal abad kedelapan masehi, disana tidak ada metode tanda diakritikal Bahasa Syriak tidak dalam huruf hidup bahasa Yunani maupun system tanda titiknya.).

Yakub (Yakob?) Raha sendiri menurut B.Davidson, menemukan tanda bacaan pertama (untuk Bahasa Syriak) pada abad ke 7, sedangkan Theophilus menemukan huruf hidup Bahasa Yunani pada abad ke 8. bila dihitung, akhir abad ke-7 M itu sama dengan tahun 81 H, dan akhir abad ke-8 sama dengan tahun 184 H. sementara Abu al-Aswad al-du’aly penemu tanda diakritikal Bahasa Arab meninggal dunia pada tahun 69 H (688 M). ditambah lagi, seperti yang dicontohkan oleh B. Davidson system diakritikal Syriak begitu mirip tanda yang digunakan oleh al-Du’aly.

Fakta lain adalah bahwa tata bahasa Syriak dapat dikatakan menemukan identitasnya melalui upaya Hunain bi Ishaq. Hunain sendiri dilahirkan sendiri pada tahun 194 H (810 M), smentara Sibawaih, tokoh besar tata bahasa arab penulis al-Kitab (sebuah referensi puncah dalam Nahwu) meninggal pada tahun 180 H (796 M). maka tidak mungkin Hunain dapat disebut memberi pengaruh pada tata Bahasa Arab. Apalagi sejarah mencatat bahwa Hunain pernah belajar bahasa Arab di Bashrah. Tepatnya pada Khalil bin Ahmad al-Farahidy (w. 170 H), seorang tokoh ensiklopedi Bahasa Arab terkemuka. Jadi pertanyaannya siapa yang meminjam pada siapa.?[27]

  PENCETAKAN DAN TERJEMAH AL-QU’AN

 Percetakan al-Qur’an pertama menurut Dr. Yahya Muhammad Junaid. Percetakan al-Qur’an pertama setidaknya dilakukan di tiga tempat di Eropa:

(a). Venesia atau Roma pada kisaran tahun 1499 sampai 1538 M, terdapat perbedaan pandangan tentang hal ini. Termasuk juga siapa yang memimpin proyek ini. Tetapi yang pasti salah satu dari versi cetak ini ditemukan oleh Angela Novo di perpustakaan seorang pendeta di Banduqiyah. Namun juga kemudian disepakati bahwa cetakan ini lalu dimusnahkan atas perintah Paus saat itu, dengan berbagai dugaan seputar motivasi permusnahkan itu.

(b). Hamburg pada tahun 1694. proyek percetakan ini dilakukan oleh seorang oriantalis Jerman yang beraliran Protestan, Ebrahami Hincklmani. Ia menegaskan bahwa tujuaannya menjalankan proyek ini bukan untuk mempelajari Bahasa Arab dan Islam, cetakan ini terdiri dari 560 halaman, dicetak dengan tinta hitam, namun sangat disanyangkan memiliki banyak sekali kesalahan, terdapat penggantian posisi huruf, hilangnya huruf tertentu dari satu kata dan kesalahan lain terkait dengan penamaan surat.

(c). Batavia pada tahun 1698. Versi cetakan ini terdiri teks al-Qur’an itu sendiri, serta terjemah dan catatan komentar terhadapnya. Versi ini sendiri disiapkan oleh seorang pendeta Italia bernama Ludvico Merracei Lucersi. Cetakan ini memiliki kelebihan dari segi pengunaan jenis huruf yang lebih bagus dari 2 versi cetakan sebelumnya.[28]

Terjemahan Al-Qur’an adalah hasil usaha penerjemahan secara literal teks Al-Qur’an yang tidak dibarengi dengan usaha interpretasi lebih jauh. Terjemahan secara literal tidak boleh dianggap sebagai arti sesungguhnya dari Al-Qur’an. Sebab Al-Qur’an menggunakan suatu lafazh dengan berbagai gaya dan untuk suatu maksud yang bervariasi; terkadang untuk arti hakiki, terkadang pula untuk arti majazi (kiasan) atau arti dan maksud lainnya. Terjemahan dalam bahasa Indonesia di antaranya dilaksanakan oleh:

  1. Al-Qur’an dan Terjemahannya, oleh Departemen Agama Republik Indonesia, ada dua edisi revisi, yaitu tahun 1989 dan 2002
  2. Terjemah Al-Qur’an, oleh Prof. Mahmud Yunus
  3. An-Nur, oleh Prof. T.M. Hasbi Ash-Siddieqy
  4. Al-Furqan, oleh A.Hassan guru PERSIS

Terjemahan dalam bahasa Inggris

  1. The Holy Qur’an: Text, Translation and Commentary, oleh Abdullah Yusuf Ali

The Meaning of the Holy Qur’an, oleh Marmaduke Pickthall

Terjemahan dalam bahasa daerah Indonesia di antaranya dilaksanakan oleh:

  1. Qur’an Kejawen (bahasa Jawa), oleh Kemajuan Islam Jogyakarta
  2. Qur’an Suadawiah (bahasa Sunda)
  3. Qur’an bahasa Sunda oleh K.H. Qomaruddien
  4. Al-Ibriz (bahasa Jawa), oleh K. Bisyri Mustafa Rembang
  5. Al-Qur’an Suci Basa Jawi (bahasa Jawa), oleh Prof. K.H.R. Muhamad Adnan
  6. Al-Amin (bahasa Sunda)[29]

 

PERKEMBANGAN Al-QUR’AN DI INDONESI

Masyarakat Muslim Indonesia terdiri dari, pada tingkat pertama, mereka yang dalam beberapa hal dikenal sebagai Muslim yang memegang serta melaksanakan prinsip-prinsip ajaran Islam dalam kehidupan mereka sehari-hari.[30] 

Kapan tafsir al-Qur’an mulai dipelajari di Indonesia, apakah berbarengan dengan ilmu-ilmu lain, tidak ada kejelasan pasti. Namun, dalam kitab Chentini(naskah klasik jawa) ada disebutkan 20 kitab yang berbeda, enam kitab fiqh (termasuk Taqrib dan idhah fi al-Fiqh), sembilan kitab aqidah ((termasuk kitab pengantar al-Samaeqandi dan dua karya al-Sanusi yang terkenal dengan berbagai syarahnya), dua kitab tafsir (jalalain dan Baidhowi) dan tiga kitab tasawuf  (ihya karya al-Ghazali, al-Insan al-Kamil karya al-Jilli, Hidayah al-Azkiya karya Zain al-Din al-Malibari).[31]

Studi mengenai sejarah perkembangan kajian al-Qur’an di Indosesia pada abad kedua puluh secara khusus telah beberapa kali dilakukan. Dalam hal ini, kita bisa sebut misalnya, buku Horward M.Federpiel, Popular Indoseia Literature of the Qur’an dan penelitian Yunan Yusuf bertajuk Karakteristik Tafsir Qur’an di Indonesia pada Abad keduapuluh.[32]memasuki abad ke-17, tradisi kajian al-Qur’an di Melayu kian memapan. Pada awal abad ini, murid Fansuri, Syams al-Din al-Sumatrani (w.1630) dikatakan melakukan hal yang serupa dengan apa yang dilakukan Fansuri; yanitu menafsirkan beberapa ayat yang bertalian dengan mistik dalam karya-karyanya.Tafsir lengkap berbahasa Melayu (kuno) tertua yang masih ada saat ini berasal dari akhir abad ke-17. adalah ‘Abd al-Ra’uf Singkel (1615-93) yang menulis Tarjuman al-Mustafid di Aceh sekitar tahun 1675. kitab ini merupakan adaptasi dari Tafsir al-Jalalayn, mekipun telah lama dianggap sebagai terjermah dari tafsir al-Baydhawi. Tafsir al-Jalalayn dijadikan Singkel dalam bahasa Riddell “starting point” untuk kitabnya. Ia memilihnya sangat mungkin adalah karena selalu seorang guru ia bermaksud menulis tafsir yang bisa dipahami oleh kalangan luas mengingat al-jalalayn merupakan tafsir yang cukup ringkas dan mudah diserna. Di samping, al-jalalayn sendiri sudah merupakan kitab tafsir yang paling banyak dipelajari di Nusantara waktu itu.[33]

Dari penelitian terhadap salah satu manuskrip tulis tangan, Salman Harun[34]menyimpulkan bahwa yang dilakukan Singkel terhadap al-Jalalayn dalam menyusun tafsirnya dalam pembahasan penulis adalah: (a). membuang penjelasan mengenai I’rab, (b). membuang penjelasan mengenai pengertian kata dari tinjauan semantic, (c). membuang sebagian interprestasi yang panjang, (d) membuang interprestasi yang susah dicerna, (e). membuang penjelasan yang tidak terdapat dalam tafsir induknya, al-Khazin, (f). mengkonkretkan kata ganti atau menyesuaikan redaksi, (g) sesekali menambahkan penafsiran, (h). sesekali mengganti pendapat yang tidak ia sepakati, dan (i). sesekali meninggalkan beberapa penafsiran (bahkan terjemah ayat) begitu saja.[35]


[1] Nur Faizah, Sejarah al-Qur’an, (Jakarta: CV Arta Ruvera), h. 2.

[2] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2005), cet. Ke-17. h. 9.

[3]  Faizah, Sejarah al-Qur’an, h. 3

[4] W. Montgomery watt, Pengantar Studi al-Qur’an, (Jakarta:  PT RajaGrafindo Persada, 1995),cet ke-2.h 5.

[5] A. Syalabi. Sejarah Bangsa Arab sebelum Islam, artikel ini di akses pada tanggal 31 oktober 2009 dari, http://translate.google.co.id

[6] M. M. Azami The History of the Qur’anic text, (Jakarta: Gema insani, 2003), h. 15-16

[7] Yatim, Sejarah Peradaban Islam, h. 15

[8] Millatu ibrahim,Arabia Pra Islam,  artikel ini di akses pada tanggal 31 oktober 2009 dari, http://islamic.xtgem.com/ibnuisafiles/list/des08/listasiman/036.htm

[9] Faizah, Sejarah al-Qur’an, h. 5

 [10] Ahmad, dkk, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Pustaka Asatruss, 2005), h. 4.

[11]  Nurdiyon, Kenabian Muhammad saw, artikel ini di akses pada tanggal 23 semtember 2009 dari, http:// naugan islami.wordpress.com/about/

[12] Nur Faizah, Sejarah al-Qur’an, (Jakarta: CV Arta Ruvera), h. 19-20.

[13] Nurdiyon, Kenabian Muhammad saw, artikel ini di akses pada tanggal 23 semtember 2009 dari, http:// naugan islami.wordpress.com/about/

[14] W. Montgomery watt, Pengantar Studi al-Qur’an,h. 25.

[15] M. Hadi Ma’rifat, Sejarah Al-Qur’an, (Jakarta: al-Huda , 2007),h. 8.

[16] Syamsuri, Hasani ahmad, Studi Ulumu Qur’an, (Jakarta: Zikra Multi Service, 2009), h. 14.

[17] M. Hadi Ma’rifat, Sejarah Al-Qur’an, h. 9-10.

[18] Wikipedia, artikel ini di akses pada tanggal  25 semtember 2009 dari, http:// id. Wikipedia.org/wiki/Al-Qur’an.

[19] Nur Faizah, Sejarah al-Qur’an, (Jakarta: CV Arta Ruvera), h. 59-60.

[20] Syamsuri, Hasani ahmad, Studi Ulumu Qur’an, h. 4-5.

[21] M. Hadi Ma’rifat, Sejarah Al-Qur’an, h. 43.

[22] M. Syafi’I ,Pengumpulan al-Qur’an masa Nabi, artikel ini di akses pada tanggal 25 Semtember 2009 dari http://www.cybermq.com/index.php?pustaka/detail/3/1/pustaka-62.html

[23] Lih. Tarikh al-Mushaf al-Syarif, hl. 73, dan naqth al-Mushaf al-Syarif, hal. 1.

[24] Lih. Shubh al-Shubh al-A’sya, 3/156, Tarikh al-Mushaf, hal. 74-75, dan nuqath al-mushaf al-Syarif, hal. 1.

[25]Nama lengkapnya adalah Zhalim bin ‘Amr al-Du’aly al-Kinanny, ia adalah salah seorang pemuka tabi’in. Turut serta dalam pasukan Ali bin Abi Thalib r.a , dalam peristiwa perang siffin tahun 37 H. Ia dipercaya sebagai orang pertama yang memunculkan ilmu Nahwu dan memberikan tanda bacaan pada mushaf al-qur’an, ia kemudian meninggal dalam peristiwa wabah (tha’un) amwasn tahun 69 H.. Lih. Al-A’lam, 3/340.

[26] Al-A’zhamy menjelaskan bahwa yang pertama kali menyuruh Abu al-Aswad menulis sebuah referensi tata bahasa Arab dalam khalifah Umar r.a. Ia pun menjelaskan tugas itu dan menetapkan emapat tanda harakat yang akan diletakkan pada ujung huruf  tiap kata.

[27] Nuqath al-Mushaf al-Syarif, hal. 2.

[28] Lih. Tarikh Thiba’ah al-Qur’an al-karim hal. 516-525. dan al-Thaba’at al-Mubakkirah li al-Mushaf al-Syarif, hal. 1-3. bahasan ini sepenuhnya merujuk pada dua sumber ini.

[29] Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, artikel ini di akses pada tanggal 04 semtember 2010 dari, http://id.wikipedia.org/wiki/Al-Qur’an#Terjemahan

[30] Herward M.Federspiel, Kajian al-Qur’an di Indonesia, (Bandung: Mizan, 1996) h. 26.

[31]  Musyrifah Sunanto Sejarah Peradaban Islam Indonesia,(Jakarta: sebuah penelitian fakultas ushuluddin dan filsafat, 2004), h. 205.

[32] M. Yunan Yusuf, Karakteristik Tafsir Qur’an di Indonesia pada Abad Keduapuluh, laporan penelitian pada fakultas Ushuluddin IAIN Jakarta, 1990, 44 halaman. Rangkuman atau modifikasi laporan ini dimuat dengan redaksi judul yang mirip “Karakteristik Tafsir Al-Qur’an di Indonesia Abad Keduapuluh”, pada Ulumul Qur’an (Jakarta: LSAF), Vol.111, No. 4, 1992, h. 50-61.

[33] Ini misalnya manuskrip di Perpustakaan Nasional RI bernomor MI373.

[34] Salman Harun Hakikat tafsi..,h. 47-8, dan h. 273-5; serta Mutiara al-Qur’an; Aktualisasi Pesan al-Qur’an dalam kehidupan (Jakarta: Logos, 1999), h. 199-203.

[35] Riddel “Tafsir Klasik di Indonesia..”.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: