HUKUM ADOPSI ( Kajian Tafsir Ijtima`i )

A. Pendahuluan

Dalam memahami sesuatu tentang eksitensi dan substansi kehidupan dan segala pengaruhnya, dapat ditinjau dari berbagai dimensi. Lain halnya ketika berbicara melalui perspektif agama adalah akan menghasilkan pemahaman yang berbeda-beda, karena pada agama adalah merupakan kumpulan-kumpulan teks yang perlu ditafsirkan.

As-Sunnah adalah sumber kedua – setelah Al-Quran – dalam penetapan hukum-hukum fiqih dan syariat. Karena itu, pembahasan tentang As-Sunnah, sebagai dasar serta dalil bagi hukum-hukum syariat, dilakukan secara luas dalam semua kitab Ushul Al-Fiqh dan dari semua mazhab. Sedemikian pentingnya, sampai-sampai Al-Auza’iy (w. 157 H) menyatakan bahwa “Al-Quran lebih membutuhkan As-Sunnah dibandingkan dengan kebutuhan As-Sunnah kepada Al-Quran.”[1]. Dari segi dalalh-nya, Al-Quran sama dengan Hadis, masing-masing ada yang qath’I al-dilalah dan ada yang zhanni al-dilalah.[2] Hanya saja, Al-Quran pada umumnya bersifat global, sedangkan Hadis bersifat terperinci.[3] Di antara tugas Rasulullah SAW., beliau menjelaskan hal-hal yang masih global dalam Al-Quran yang tentu saja hal ini atas perintah dari Allah SWT. Allah berfirman:

 “Dan kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang Telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka berpikir[4]

Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi dan memelihara nasab (keturunan). Penetapan asal usul anak dalam perspektif hukum islam memiliki arti penting, karena dengan penetapan itulah dapat diketahui hubungan nasab antara anak, ayah, ibu dan keluarga lainnya.

Adopsi atau yang lebih kita kenal dengan mengangkat seorang anak dari orang tua lain dengan sebab tidak bisa hamil ( mandul ), impotensi, dan lain sebagainya. Persoalan ini bisa dikatakan tidak baru, dalam catatan sejarah persoalan ini telah dialami oleh berbagai bangsa dan orang telah mencoba untuk mengatasinya dengan bermacam-macam cara[5] 

Melahirkan keturunan spesies manusia adalah bagian dari kehendak tuhan. Hal ini dijelaskan dengan baik dalam ayat Al-qur`an sebagai berikut :

  “Hai manusia bertakwalah kepada tuhanmu yang telah menciptakanmu dari satu diri yaitu Adam, dan darinya Allah menciptakan pasangan, Hawa. Dan dari keduanya Allah mengembang biakkan banyak laki-laki dan perempuan” ( Annisa : 1 )

Kaum Muslimin ingin memiliki anak-anak dan mereka benar-benar menyadari hadis Nabi “Nikahilah wanita yang akan mengasihimu dan memberikan banyak anak karena aku akan membanggakan banyaknya umatku”. Tetapi pada saat yang bersamaan, mereka juga yakin bahwa segala sesutau tidak akan terjadi kecuali atas kehendak Allah. Dengan merujuk kepada karunia anak dan ketidak suburan atau kemandulan, Al-qur`an menyatakan :

“Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi. Diciptakan apa yang dikehendaki. Dikaruniakannya anak perempuan saja kepada siapa yang dikehendakinya dan anak laki-laki saja kepada siapa yang dikehendakinya. Atau dikaruniakannya anak laki-laki maupun anak perempuan. Dan dia jadikan mandul siapa yang dikehendakinya. Sesungguhnya Dia maha Mengetahui dan maha Kuasa.” ( As-Syura : 49-50 )

Menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir mengatakan bahwa Allah yang Maha Kuasa mengatakan kepada kita bahwa Dialah yang sang Pencipta langit dan bumi, dan bahwa dia sendiri yang memutuskan apa yang terjadi pada mereka. Dia memberikan kepada mereka yang Dia kehendaki dan menahan karunia-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Dia menciptakan apa-apa yang dikehendaki-Nya. Dia mengaruniakan kepada suami-istri anak-anak perempuan saja dan anak laki-laki saja kepada suami-istri yang lain, sedangkan kepada yang lain dikaruniakan-Nya baik anak laki-laki maupun anak perempuan dan membuat mandul mereka yang dikehendaki-Nya.

Al-qur`an membuat rujukan paling tidak kepada dua orang Nabi, yaitu Zakaria dan Ibrahim A.S yang istri-istrinya tidak dapat mengandung tetapi akhirnya mengandung ketika mereka telah berusia lnjut, sebagai contoh Al-qur`an mencatat yang diucapkan Zakaria dan istri Ibrahim, ketika diberi kabar gembira bahwa mereka akan dikarunia keturunan, dalam kalimat berikut :

“Kata Zakaria : `Wahai Tuhanku! Bagaimana aku dapat memperoleh anak sedangkan aku sudah tua begini, lagi pula istriku mandul? Firman-Nya : Begitulah Allah berbuat menurut kehendak-Nya” ( Ali Imran : 40 )

“Sarah istri Ibrahim berkata : `Aduhai, mungkinkah aku yang sudah setua ini, akan melahirkan anak, sedang suamiku ini sudah sangat tua pula? Ini sungguh sangat aneh sekali” ( Hud : 72 )

Dengan demikian, dari rujukan-rujukan mengenai ketidak suburan atau kemandulan dalam Al-qur`an jelaslah bahwa ada orang-orang yang tidak bisa mengandung tetapi meskipun demikian keadaan ini bisa berubah jika Allah menghendaki.

Kaum Muslimin yang tidak memiliki anak biasanya berharap bahwa mereka seperti Nabi Ibrahim dan Zakaria A.S suatu hari akan di anugerahkan Allah dengan keturunan. Karena itu harapan mereka yang pertama kali adalah memohon kepada Allaah agar menyembuhkan mereka dari kemandulan. Tetapi harus dicatat bahwa walaupun memohon kepada Allah merupakan harapan mereka yang pertama ada cara-cara lain yang dilakukan kaum muslim diberbagai belahan bumi untuk mengatasi persoalan ini. Beberapa dari mereka memilih poligami, yang lainnya mencari pertolongan melalui jimat atau ta`widh  dan yang lain lagi memilih untuk mengangkat anak ( adopsi ).  

Di Afrika Selatan, sejumlah orang Islam telah diangkat sebagai anak oleh bibi atau paman yang tidak memiliki anak. Kesimpulan yang dapat di ambil dari kejadian ini adalah bahwa di Afrika Selatan kaum muslim mencoba untuk mengatasi persoalan ketidak mampuan mereka menghasilkan keturunan denagn menjadi orang tua angkat bagi anak-anak baik yang laki-laki maupun yang perempuan. Syari`at melarang kaum muslim mengangkat secara sah anak-anak dari orang tua lain. Al-qur`an menjelaskan secara eksplisit mengenai masalah ini :

“Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya. Diapun tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sama dengan ibumu. Dan dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak-anak kandungmu. Itu hanya sebutanmu dimulut saja. Sedangkan yang disebutkan Allah adalah yang sebenar-benarnya. Dan Dia menunjukan jalan yang benar”

“Panggillah mereka ( anak-anak angkatmu ) itu serangkai dengan nama bapaknya, itulah yang paling wajar menurut pandangan Allah. Jika kamu tidak mengetahui nama bapaknya sebut saja saudara seagama atau para Maula. Tidak ada celanya jika kamu keliru dalam hal ini, tetapi yang patut dicela ialah perbuatan kamu yang sengaja. Allah adalah Maha Pengampun dan Penyayang” ( Al-Ahzab : 4-5 )

Ibnu Katsir mencoba menafsirkan dengan menjelaskan bahwa ayat-ayat ini diturunkan menyangkut Zaid bin Haritsah R.A yang diangkat oleh Nabi sebagai puranya sendiri sebelum kenabian di anugerahkan kepadanya. Zaid saat itu dipanggil Zaid ibnu Muhammad, Allah memerintahkan agar hubungan ini diputuskan. Dan lagi, mengambil  seseorang dan menyebutnya sebagai anak sendiri sama sekali tidak akan membuatnya benar-benar menjadi putramu karena dia adalah keturunan dari laki-laki lain dan tidak mungkin baginya untuk memiliki dua orang ayah  seperti tidak mungkinnya bagi seorang laki-laki untuk memiliki dua hati[6].               

Dr. Hammudah `Abd Al-`Ati mencoba untuk menjelaskan hikmah dilarangnya kaum muslim untuk mengangkat anak dalam pengertian hukum dengan mengatakan bahwa “mengangkat anak adalah salah satu alasan utama yang mendorong banyak orang untuk melampiaskan nafsu dalam perbuatan-perbuatan yang tidak bertanggungjawab dan perzinahan. Kini hal ini dikomersilkan, ada beberapa yang menyerahkan anak-anak mereka untuk  `dijual` diperdagangkan seperti yang ditunjukkan berita-berita media. Karenanya, islam tidak menerima lembaga atau mentoleransi pengangkatan anak di antara kaum muslim.

Dr. Abd Al-`Ati tidak dapat menemukan hikmah dilarangnya adopsi anak secara hukum menurut Al-qur`an. Dia tampaknya tidak memahami masalah tersebut sama sekali. Jelas sekali larangan Al-qur`an dalam masalah ini tidak mungkin dimotivasi oleh kenyataan bahwa perbuatan pengangkatan anak ini kemunggkinan dislah gunakan. Dapat ditunjukan disini bahwa meskipun Al-qur`an mengutuk adopsi anak secara sah, tetapi disisi lain, dengan tegas mendukung pengangkatan anak yatim dan memaksa umat islam untuk mendukung praktik ini. Bila mengangkat anak dari orang lain, nama keluarganya harus tetap sama, tidak seperti adopsi yang menyebabkannya kehilangan nama keluarganya. Alasan agar anak mempertahankan nama keluarganya adalah mencegah supaya dia tidak menikah dengan saudara sekandungnya secara tak sengaja. Selanjutnya pelarangan Al-qur`an dalam mengangkat anak dan rinciannya mengenai masalah tersebut ditemukan dalam Surah Al-Nisa ayat 23-24.

Al-qur`an menunjukkan bahwa adalah Allah yang Maha Kuasa yang menganugerahkan keturuna kepada orang-orang yang dikehendaki–Nya dan dijadikan mandul orang-orang yang dikehendaki-Nya. Menarik untuk dicatat bahwa kaum muslim bereaksi secara positif dalam usahanya untuk mengatasi persoalan kemandulan. Tetapi sepraktis apapun tindakan yang mereka ambil, tetap saja dapat menjadi sasaran kritik. Sebagai contoh, poligami dapat mengatasi persoalan seorang laki-laki jika istri mandulnya tidak dapat memberikan keturunan, sehingga mungkin dia mempunyai anak dari istri yang lain. Tetapi jika kemandulan justru diderita oleh laki-laki, poligami tidak akan menyelesaikan masalah. Jika dapat dipastikan bahwa dia tidak mandul, maka beristri lagi mungkin akan memberinya anak, tetapi hal ini sama sekali tidak membuat istrinya yang mandul menjadi seorang ibu. Secara biologis, wanitalah yang memiliki dorongan yang lebih besar untuk memiliki anak sendiri karena sifat psikologisnya. Karena itu mungkinkah dapat dilakukan sesuatu untuk menolongnya mengatasi persoalan kemandulannya?

B. Pembahasan

I. Pengertian Adopsi

Istilah adopsi berasal dari bahasa latin yaitu Adoptio, Adopsio yang berarti pemungutan atau pengangkatan anak orang lain oleh seseorang yang menjadi anak adopsi itu sebagai anak kandung bagi pengangkat.[7] Dalam bahasa Belanda yaitu Adoptie, yang berarti pengangkatan anak untuk dijadikan anak kandung sendiri.[8] Sedangkan menurut kamus Bahasa Indonesia, adopsi adalah pengambilan (pengangkatan) anak secara sah sebagai anak sendiri.[9] Dalam istilah bahasa Arab di kenal dengan  ,التَّبَنِىyang berarti pengangkatan anak orang lain sebagai anak sendiri.[10] Dalam kamus Munjid diartikan dengan إَنْخَدُ  إِبْنَا , yaitu menjadikannya sebagai anak.[11]

Sedangkan Prof. Dr. Syekh Mahmud Syalthut, seorang ahli fiqih kontemporer dari Mesir mengemukakan bahwa setidaknya ada dua definisi tentang adopsi anak, yaitu Pertama, adopsi adalah seseorang yang mengangkat anak, yang diketahuinya bahwa anak itu termasuk anak orang lain. kemudian ia memperlakukan anak tersebut sama dengan anak kandungnya, baik dari segi kasih sayang maupun nafkahnya, tetapi agama tidak menganggap sebagai anak kandungnya, karena itu tidak boleh disamakan statusnya dengan anak kandungnya, karena itu tidak boleh disamakan statusnya dengan anak kandung. Kedua, adopsi adalah adanya seseorang yang tidak memiliki anak, kemudian menjadikan seorang anak menjadi anak angkatnya.[12]

Adapun definisi dalam UUPA (Undang-Undang Perlindungan Anak) tentang Anak angkat adalah anak yang haknya dialihkan dari lingkungan kekuasaan keluarga orang tua, wali yang sah, atau orang lain yang bertanggung jawab atas perawatan, pendidikan, dan membesarkan anak tersebut, ke dalam lingkungan keluarga orang tua angkatnya berdasarkan putusan atau penetapan pengadilan putusan atau penetapan pengadilan (Pasal 1 angka 9). Tetapi UU yang sama juga memberikan definisi tentang anak asuh yaitu anak yang diasuh oleh seseorang atau lembaga, untuk diberikan bimbingan, pemeliharaan, perawatan, pendidikan, dan kesehatan, karena orang tuanya atau salah satu orang tuanya tidak mampu menjamin tumbuh kembang anak secara wajar (Pasal 1 angka 10) 

Prinsipnya adalah bahwa Setiap anak berhak untuk diasuh oleh orang tuanya sendiri, kecuali jika ada alasan atau aturan hukum yang sah menunjukkan bahwa pemisahan itu adalah demi kepentingan terbaik bagi anak dan merupakan pertimbangan terakhir. (pasal 14)

II. Tafsiran Ayat-ayat tentang Adopsi

v  Surat Al-Ahzab ayat 4 :

“…. Dan dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu Sendiri. Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah Swt mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukan jalan (yang benar)”  (Q.S. al-Ahzab : 4)

Sesungguhnya ayat ini di turunkan berkenaan dengan Zaid bin Haristah r.a. maula Nabi Saw. Dahulu Nabi mengangkatnya sebagai anak sebelum beliau menjadi Nabi, dan ia dikenal dengan sebutan “Zaid anak Muhammad”. Maka dengan turunnya Ayat ini Allah Swt berkehendak menghapuskan penisbatan tersebut.[13]

 “…Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja” ; yakni pengangkatan anak oleh kalian hanyalah dalam sebutan belaka, tidak menjadikan anak yang bersangkutan sebagai anak kandung orang yang bersangkutan, karena dia diciptakan dari sulbi orang lain. Ayat ini sebagai pembatalan terhadap adat dan hukum sistem adopsi yang berlaku pada zaman jahiliyah. Panggilan untuk anak asuh harus dikembalikan kepada nasab ayah kandungnya. Seluruh hubungan dan ikatan keluarga dikembalikan kepada tabiat alaminya yang murni. Perkataan tidak bisa mengubah kenyataan. Juga tidak bisa menciptakan hubungan lain selain hubungan darah, hubungan warisan yang dibawa oleh karakter-karakter dalam sari air mani, dan hubungan alami yang tumbuh dari kenyataan bahwa anak merupakan darah daging dari orang tua yang hidup.[14]

“….Allah Swt mengatyakan yang sebenarnya dan Dia menunjukan jalan (yang benar” ;  Allah menyatakan kebenaran yang mutlak yang tidak bercampur sama sekali dengan kebatilan. Dan, di antara kebenaran itu adalah membangun hubungan atas dasar kenyataan dan ikatan yang bersumber kepada darah dan daging bukan atas perkataan yang diucapkan oleh mulut saja.

Allah Swt menunjukan jalan yang lurus, yang memiliki hubungan dengan hukum fitrah yang murni. Jalan itu tidak dapat diganti dengan jalan apa pun yang dibuat oleh manusia.

v     Al-ahzab ayat 5 :

“Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan memakai nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil di sisi Allah Swt, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu se-agama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Swt Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S. al-Ahzab : 5 )

III. Adopsi Yang Diperbolehkan

Pada dasarnya dalam ajaran islam tidak semua praktik adopsi (pengangkatan) anak dilarang. Pengangkatan anak ada yang diperbolehkan, tetapi harus mengikuti aturan yang sesuai dengan ajaran islam. Bahkan dalam sejarah pun Nabi Muhammad Saw, sebelum menerima kerasulannya telah mempunyai seorang anak angkat yang bernama Zaid putra Haristah dalam status hamba sahaya yang dihadiahkan oleh Khadijah bin Khuwailid kepadanya.

Adapun konsekuensi adopsi anak yang diperbolehkan dalam islam, seperti yang diungkapkan oleh Mahmud Syalthut, yaitu praktik pengangkatan anak yang dilakukan seseorang yang sudah diketahui bahwa anak yang diangkatnya tersebut adalah anak orang lain lalu diperlakukannya seperti anak sendiri dalam kasih sayang dan pendidikan, akan tetapi ia tidak memasukan nasab anak itu kepada dirinya.  Agama islam mendorong setiap muslim untuk memelihara anak orang lain yang terlantar, miskin, tak mampu, dan membutuhkan pendidikan tanpa memutuskan hubungan anak tersebut kepada orang tuanya. Pemeliharaan itu hanya berdasarkan atas penyantunan semata, sesuai dengan anjuran Allah Swt dan bukan karena imbalan yang mengikat.[15]

Dengan merujuk pada penjelasaan di atas, maka islam membolehkan pengangkatan anak (adopsi) dengan ketentuan syarat sebagai berikut :

  • Nasab anak angkat tetap dinisbatkan kepada orang tua kandungnya, bukan orang tua angkatnya
  • Anak angkat itu dibolehkan dalam islam, tetapi sekedar sebagai anak asuh, tidak boleh disamakan dengan status anak kandung; baik dari segi pewarisan, hubungan mahhram, maupun perwaliaan (dalam perkawinan)
  • Karena anak angkat itu tidak berhak menerima warisan dari orang tua angkatnya, maka boleh  mendapatkan harta benda dari orang tua angkatnya berupa hibah, yang maksimal sepertiga dari kekayaan orang tua angkatnya.[16]
  • Anak angkat tidak boleh mempergunakan nama orang tua angkatnya secara langsung kecuali sekedar sebagai tanda pengenal/alamat
  • Tidak memutuskan hubungan darah antara anak yang diangkat dengan orang tua biologis dan keluarga.[17]

Dari ketentuan tersebut di atas, dapat diketahui bahwa prinsip pengangkatan anak menurut islam adalah bersifat pengasuhan anak dengan tujuan agar seorang anak tidak sampai terlantar atau menderita dalam pertumbuhan dan perkembangan. agama islam menganjurkan untuk saling tolong menolong sesamanya. Jika melihat dari segi budi pekerti dan sosial, maka orang yang melakukan pengangkatan anak berarti telah melakukan perbuatan yang sangat baik, yang sangat sesuai dengan ajaran islam. Mengenai masalah ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) memberikan keputusannya tentang hukum anak angkat. Keputusan tersebut dituangkan dalam surat No. U-335/MUI/V/1982 tanggal 18 Sya’ban 1402 H, yang ditanda tangani oleh Ketua Umum MUI KH. M. Syukri Ghazali, yang berbunyi :

  1. Pengangkatan anak dengan tujuan pemeliharaan, memberi bantuan dan lain-lain yang sifatnya untuk kepentingan anak angkat adalah diperbolehkan
  2. Anak-anak yang beragama islam hendaknya dijadikan anak angkat oleh ayah/ibu angkat yang beragama islam pula. Agar keislamannya itu ada jaminan tetap terpelihara
  3. Pengangkatan anak angkat tidak mengakibatkan hak kekeluargaan yang biasa dicapai dengan nasib keturunan. Oleh karena itu, pengangkatan anak tidak mengakibatkan hak waris/wali, jika akan memberikan sesuatu kepada anak angkatnya, hendaknya dilakukan ketika masih hidup sebagai hibah biasa.[18]

Selain itu Rapat Kerja Nasional Majelis Ulama Indonesia tahun 1984 yang berlangsung pada bulan Jumadil Akhir 1405 H./Maret 1984 memfatwakan tentang adopsi sebagai berikut :

  1. Islam mengakui keturunan (nasab) yang sah, ialah anak yang lahir dari perkawinan (pernikahan)
  2. Mengangkat (adopsi) dengan pengertian anak tersebut putus hubungan keturunan (nasab) dengan ayah dan ibu kandungnya adalah bertentangan dengan syari’ah Islam
  3. Adapun pengangkatan anak dengan tidak mengubah status nasab dan Agamanya, dilakukan atas rasa tanggung jawab sosial untuk memelihara, mengasuh dan mendidik mereka dengan penuh kasih sayang, seperti anak sendiri adalah perbuatan yang terpuji dan termasuk amal saleh yang dianjurkan oleh agama Islam
  4. Pengangkatan anak Indonesia oleh Warga Negara Asing selain bertentangan dengan UUD 1945 Pasal 34, juga merendahkan martabat bangsa.

Pengaturan tentang pengangkatan anak ini juga di atur antara lain di KUH Perdata (Untuk Golongan Tionghoa dan Timur Asing) dan dalam UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (UUPA). Selain itu pengaturan teknisnya banyak tersebar dalam bentuk SEMA (Surat Edaran Mahkamah Agung). Pengangkatan anak ini diatur dalam Pasal 39 – 41 UUPA :

 Pasal 39 ayat :

  1. Pengangkatan anak hanya dapat dilakukan untuk kepentingan yang terbaik bagi anak dan dilakukan berdasarkan adat kebiasaan setempat dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
  2. Pengangkatan anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), tidak memutuskan hubungan darah antara anak yang diangkat dan orang tua kandungnya.
  3.  Calon orang tua angkat harus seagama dengan agama yang dianut oleh calon anak angkat.
  4. Pengangkatan anak oleh warga negara asing hanya dapat dilakukan sebagai upaya terakhir.
  5. Dalam hal asal usul anak tidak diketahui, maka agama anak disesuaikan dengan agama mayoritas penduduk setempat.

 Pasal 40 ayat :

  1. Orang tua angkat wajib memberitahukan kepada anak angkatnya mengenai asal usulnya dan orang tua kandungnya.
  2.  Pemberitahuan asal usul dan orang tua kandungnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan memperhatikan kesiapan anak yang bersangkutan.

Pasal 41 ayat :

  1. Pemerintah dan masyarakat melakukan bimbingan dan pengawasan terhadap pelaksanaan pengangkatan anak.
  2. Ketentuan mengenai bimbingan dan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Syarat calon orang tua angkat (pemohon); pengangkatan anak yang langsung dilakukan antar orang tua kandung dengan orang tua angkat (private adoption) diperbolehkan. Pengangkatan anak oleh orang yang sudah atau belum menikah juga diperbolehkan (single parents adoption)

 Syarat calon anak angkat (bila dalam asuhan suatu yayasan sosial); yayasan sosial harus mempunyai surat ijin tertulis dari Menteri Sosial bahwa yayasan yang bersangkutan telah diijinkan bergerak di bidang pengasuhan anak
calon anak angkat harus punya ijin tertulis dari Menteri Sosial atau pejabat yang berwenang bahwa anak tersebut diijinkan untuk diserahkan sebagai anak angkat

IV. Sebab-sebab diharamkannya Adopsi dalam Islam

Pada permulaan islam pengangkatan anak pernah dilakukan oleh sahabat bahkan oleh Nabi sendiri, karena masih terpengaruh oleh hukum Arab jahiliyah. dengan turunnya surat al-Ahzab ayat 4-5, maka pengangkatan anak diharamkan oleh agama islam. Ada beberapa sebab yang ditimbulkan dari pengangkatan anak yang menjadi praktik ini diharamkan dalam hukum islam, diantaranya :

  • Tabanni (pengangkatan anak) berarti mengada-adakan sesuatu yang tidak ada. Salah satu azas islam ialah mengakui sesuatu kenyataan sesuai dengan sunatullah, tidak boleh mengadakan sesuatu yang bukan tempatnya. Dengan mengangkat anak berarti menyatakan anak orang lain sebagai anak sendiri, hal ini tidak sesuai dengan sunatullah
  • Pengangkatan anak sering dilakukan untu suatu tujuan tertentu yang bertentangan dengan peri kemanusiaan, seperti agar mendapat waris orang lain dan sebagainya
  • Pengangkatan anak dapat menimbulkan perubahab dalam tingkatan dan susunan keluarga, sehingga menimbulkan perubahan dalam hak dan kewajiban. Seperti seorang adik seharusnya mendapatkan nafkah dari kakaknya yang kaya, namun karena kakaknya mengangkat anak maka nafkahnya itu menjadi berkurang.[19]

Sedangkan menurut Zakaria Ahmad al-Barry, sebab-sebab diharamkannya pengangkatan anak dalam islam diantaranya, adalah :

  • Mengambil anak angkat adalah sesuatu kebohongan dihadapan Allah Swt, manusi dan hanya berupa kata-kata yang diucapkan berulang kali, akan tetapi tidak mungkin menimbulkan kasih sayang yang sesungguhnya.
  • sering dijadikan suatu cara untuk menipu dan menyusahkan kaum keluarga seperti yang banyak terjadi sekarang ini
  • mengambil anak angkat dan menetapkan statusnya sama dengan anak kandung.[20]
  • untuk menghindari terganggunya hubungan keluarga berikut hak-haknya. Dengan mengangkat anak berarti kedua belah pihak (anak angkat dan orang tua angkat) telah membentuk keluarga baru. Keluarga baru ini akan menimbulkan hak dan kewajiban baru yang mungkin akan mengganggu hak dan kewajiban keluarga yang ditetapkan islam.
  • Masuknya anak angkat ke dalam keluarga orang tua angkat bisa menimbulkan permusuhan antara satu keturunan dalam keluarga itu
  • menghindari salah paham antara yang halal dan yang haram. Dengan masuknya anak angkat ke dalam keluarga maka ia menjadi mahram dari yang sebenarnya bukan, dalam arti ia tidak boleh menikah kepada orang yang sebenarnya boleh dinikahi.[21]  

C. Kesimpulan

Poligami ataupun Menemui `dukun` untuk memohon bantuan melalui alat jimat sama sekali tidak menjamin mengatasi persoalan kemandulan. Dan mengangkat anak ( adopsi ), katakanlah seorang anak yatim dapat bermanfaat dan melibatkan baik suami maupun istri dalam kesenangan membesarkan anak dan memelihara kesejahteraannya. Tetapi anak itu tidak akan pernah disebut anak kandung mereka dan sama sekali tidak mungkin memperoleh nama ayah angkatnya, tidak juga dia dapat menjadi keturunan sah dari orangtua angkatnya. Tetapi, harus diakui bahwa dari dua solusi ( poligami dan jimat ) yang diuraikan diatas, orang tua angkat adalah solusi yang paling praktis bagi pasangan yang mandul dalam pengertian bahwa keduanya sama-sama dapat menikmati kebahagiaan membesarkan anak, walaupun bukan anak kandung, anak angkat tetap dapat dibesarkan seolah-olah dia adalah keturunan mereka sendiri.

Berdasarkan pembahasan diatas, patut kita sadari bahwa segala apa yang dikehendaki Allah SWT, harus di syukuri. Dan mengambil hikmah dalam mencari ridha Allah SWT.


[1] Dr. Yusuf Qardhawi, Bagaimana Memahami Hadis Nabi SAW. Penerjemah Muhammad Al-Baqir (Bandung: Karisma, 1993), cet. ke-1, h. 46.

[2] Istilah qath’I  dan zhanni digunakan untuk menyatakan tingkat kebenaran sesuatu. Qath’I disinonimkan dengan kata-kata dharuri, yaqini, absolute, dan mutlak, sedangkan zhanni disinonimkan dengan kata-kata nazhari, relative, dan nisbi.

[3] Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadits ‘Ulumuhu wa Mushthalahuhu (Beirut: Dar al-Fikr, 1409 H/1938 M.), h. 46.

[4] Q.S. Al-Nahl: 44.

[5] A.F Mohsin Ebrahim, Aborsi, Kontrasepsi, dan Mengatasi Kemandulan, Mizan, h. 89

[6] Ibnu Katsir, Jilid III, h. 81

[7] Hasan Shadily, Adopsi, Ensiklopedia Indonesia (Jakarta : Ictiar Baru Van Hoeve, cet ke-1) h. 83 

[8] Subekti dan R. Tjorosodibio, Kamus Hukum (Jakarta : Pradnya Paramita, 1970), h. 6

[9] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta : Balai Pustaka, 1988), h. 7

[10] Abdul Azis Dahlan,  Adopsi, Ensiklopedia Hukum Islam (Jakarta : Ictiar Baru Van Hoeve, cet ke-1) h.

[11] Muderis Zaini, Adopsi, Suatu Tinjauan dari Tiga Sistem Hukum (Jakarta : Sinar Grafika, 2002), h. 4

[12] Mahmud Syalthut, Al-Fatwa, (Kairo : Dar Al-Qalam, tth), 321-322)

[13] Ibnu Katsir ad-Dimasyqi, Tafsir Ibnu Katsir (Bandung : Sinar Baru Algensindo, 2006, juz 21), h. 3

[14]  Ibid,.

[15] Muderis Zaini, Adopsi, Suatu Tinjauan dari Tiga Sistem Hukum, h. 52

[16] Mahjuddin, Masailul Fiqiyah (Jakarta : Kalam Mulia, 2005, cet ke-5), h. 86-87

[17]  Muderis Zaini, Adopsi, Suatu Tinjauan dari Tiga Sistem Hukum, h.54

[18] Kurnia Ilshi, Problematika Hukum Islam; Hukum Anak Pungut dalam Islam (Jakarta : Pustaka Firdaus, 1996), h. 125-126

[19] Zakiah Darajat, Ilmu Fiqih,  (Jakarta : Dana Bakti, 1995), h. 139

[20] Zakaria Ahmad Al-Arry, Hukum Anak-anak dalam Islam (Jakarta : Bulan Bintang, 1997), h. 34

[21]  Abdul Azis Dahlan,  Adopsi, Ensiklopedia Hukum Islam, h. 29

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: