Solat ‘Id Berdasar Hadis Sunni-Syi’ah

Sampai sekarang, orang-orang NU—yang notabene merupakan komunitas sunni terbesar di Indonesia—lebih suka memilih masjid untuk sholat hari raya. Agaknya, mereka memandang masjid sebagai baitullah, ini jauh lenih afdhal. Di samping itu, masjid lebih akrab dan pasti ada, meski mereka juga paham bahwa lapangan lebih syiar dan masjid pun kadang terlalu sesak menampung warga. Di samping itu, cirri lain yang tidak tertulis ialah pada hari raya idul fitri, setiap orang seakan wajib memakai kopiah baru, baju baru, sarung baru, sandal baru, demikian pula yang putri; dari atas sampai bawah pun tidak ketinggalan. Rasanya tidak ada artinya hari raya bila pada hari itu tidak dapat ganti pakaian, hingga utang pun biasa dilakukan karena tidak tega ditangisi anak.

Dasar mengapa mereka hari raya di masjid, antara lain

وان كان المسجد واسعا فالصحيح انّّ المسجد اولى.                                        

Kalau masjidnya luas, lebih utama shalat di masjid.[1]

 Dalil lainnya adalah,

عن ابى هريرة رضي الله عنه انّ رسول الله صلّى الله عليه وسلّم قال: الا ادلّكم على مايمحوا الله به الخطايا ويرفع به الدرجات؟ قالوا بلى يا رسول الله قال: اسباغ الوضوء على المكاره و كثرة الخطا الى المساجد وانتظار الصلاة بعد الصلاة فذالكم الرباط فذالكم الرباط. رواه مسلم

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: Maukah kalian saya tunjukkan sesuatu yang Allah berkenan akan menghapus dosa-dosa dan meninggikan derajat kalian? Sahaba-sahabat menjawab: kami mau, ya rasul. Nabi pun bersabda: sempurnakanlah wudu kalian mesti keadaan kurang menguntungkan; sering-seringlah pergi ke masjid dan selalu setia menunggu waktu shalat. Percayalah, semua itu bias menjadi pengikat komitmen kalian (HR. Muslim)

 Shalat id ini dilakukan dua raka’at, setelah takbirat al-ihram mengucap takbir 7 kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua setelah takbir dari sujud. Selain itu, melakukan ruku atau sujud dan lainnya sebagaimana shalat biasa, kemudian dilanjutkan khotbah setelah salam—bahkan apabila khotbah dikerjakan sebelum shalat maka khotbahnya tidak sah—dan dua kali, sama halnya khotbah jum’at. Alasan klasik yang digunakan orang-orang NU yang awam bahwa di mana-mana khotbah dilakukan dua kali, terutama yang kita saksikan sendiri di Masjid al-Haram, Makah, dan Masjid al-Nabawy, Madinah, terkecuali khotbah tanggal 7, 9, dan 11 Dzulhijjah yang berkenaan dengan ibadah haji.[2]

Mereka mengambil dasar sebagaimana tertulis dalam Kifayat al-Akhyar,

ثمّ يسنّ بعد الصلاة خطبتان لما روى الشيخان عن ابن عمر رضي الله عنهما انّ رسول الله صلّى الله عليه وسلّم وابا بكر وعمر رضي الله عنهما كانوا يصلّون العيد قبل الخطبة فلو خطب قبل الصلاة لم يعتدّ بها على الصحيح الصوابّ الّذي نصّ عليه الشافعيّ وتكرير الخطبة هو بالقياس على الجمعة ولم يثبت فيه حديث. قاله النوويّ فى الخلاصة.

Disunnahkan setelah mengerjakan shalat ‘id, imam menyampaikan khotbah dua kali. Hal ini karena ada hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW, Abu Bakar, dan Umar menjalakan shalat ‘Id sebelum khotbah. Apabila khotbah dikerjakan sebelum sholat maka khotbahnya tidak sah, ini menurut pendapat sahih sesuai uraian Imam Syafi’I sendiri. Cara menjalankan khutbah dua kali disamakan dengan khutbah dua kali pada hari jum’at, meski tidak ada hadis yang menetapkannya. Hal ini dikuatkan juga dengan uraian Imam Nawawi dalam Khulashahnya.[3]

Berkaitan dengan pelaksanaan khotbah, di dalam Nihayat al-Zain disebutkan bahwa khotbah yang dilaksanakan itu ada 10 macam; khutbah Jum’at, khutbah Idul Fitri, Idul Adha, Khutbah Gerhana Matahari, khutbah Gerhana Bulan, khutbah solat Istisqa’, dan empat khobah dalam ritual haji. Semuanya dijalankan sesudah solat, kecuali khotbah Jum’at dan khotbah Hari Arafah, dan semua khotbah di atas dikerjakan dua kali khotbah kecuali tiga sisa khotbah yang diselenggarakan dalam rangkaian ibadah haji.[4]

Ritual mengenai solat ‘Id yang berlaku pada kalangan sunni ini terdapat beberapa kesamaandan dan perbedaan juga bila kita kaitkan dengan amaliah kaum syi’ah. Di antara perbedaan tersebut antara lain pada jumlah takbir yang mana pada hadis syi’ah disebutkan,

عليّ ابن محمّد عن محمّد بن عيسى عن يونس عن معاوية قال سألته عن صلاة العيدين فقال ركعتان ليس قبلهما وبعدهما شيء وليس فيهما أذان و لا اقامة يكبّر فيهما اثنتي عشر تكبيرة يبدأُ فيكبّر ويفتتح الصّلاة ثم يقرأ فاتحة الكتاب ثمّ يقرأ والشمس وضحيحا ثم يكبّر خمس تكبيرات ثم يكبّر ويركع بالسّابعة ثم يسجد سجدتين ثم يقوم فيقرأ فاتحة الكتاب وهل أتيك حديث الغاشية ثم يكبّر أربع تكبيرات ويسجد سجدتين ويتشهّد ويسلّم قال وكذلك صنع رسول الله ص.م. والخطبة بعد الصلاة إنّما أحدث الخطبة قبل الصلاة عثمان وإذا خطب الإمام فليقعدبين الخطبتين قليلا وينبغي للإمام أن يلبس يوم العيدين بردا وأتمّ شاتيا كان أو قائظا ويخرج إلى البرّ حيث ينظر ال آفاق السماء ولا يصلّى على حصير ولا يسجد عليه وقد كان رسول الله (ص)يخرج الى البقيع فيصلّى بالناس[5]

 Mengenai pelaksanaan waktu khutbah setelah solat, kalangan syi’ah sama pendapatnya dengan sunni, berdasarkan hadis riwayat Abu Ja’far as.,

ليس فى يوم الفطروالاضحى أذان ولا اقامة أذانهما طلوع الشمس اذا طلعت خرجوا وليس قبلهما ولا بعدهما صلاة ومن لم يصلّ مع امام فى جماعة فلا صلاة له ولا قضاء عليه.[6]

Selanjutnya, apabila hari raya jatuh bertepatan dengan hari jum’at ada sebuah keringanan dari nabi dari kalangan sunni sebagaimana disebutkan,

فعن زيد بن أرقم قال صلّى الله عليه وسلّم: العيد ثمّ رخّص فى الجمعة فقال: من شاء ان يصلّى فليصلّ. رواه الخمسة وصحّحه ابن خزيمة والحاكم

Mereka berbeda pendapat khususnya yang terjadi pada para Imam Madzhab. Menurut Imam Syafi’i: jika kebetulan hari raya bertepatan dengan hari jum’at maka kewajiban seseorang untuk menjalankan solat Jum’at tidaklah gugur meski ia telah mengerjakan ‘Id, terutama bagi penduduk perkotaan. Lain halnya bagi penduduk desa (yang jauh dari masjid), kewajibannya mengerjakan sholat Jum’at gugur, mereka diperbolehkan untuk tidak jum’atan. Pendapat semacam ini sama dengan pendapat Imam Abu Hanifah. Sedang Imam Ahmad bin Hambal mengatakan: tidaklah wajib Jum’atan bagi penduduk desa maupun kota, dan gugurlah kewajiban Jum’atannya disebabkan mereka telah mengerjakan solat ‘Id, hanya saja mereka tetap wajib solat Zhuhur. Malah, menurut Imam Atha’: Jum’atan dan Dhuhurnya gugur sekaligus, dan pada hari itu tidak ada solat setelah solat ‘Id, kecuali solat Asar.[7]


[1] Kifayat al-Akhyar, juz. I, hal. 96

[2] H. Munawir Abdul Fattah, Tradisi Orang-orang NU, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2008), h. 121

[3] Kifayat al-Akhyar, juz. I, hal. 95

 [4] Nihayat al-Zain, h. 111

[5] Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini, al-Furu’ min al-Kafi, jld. 2, juz. III, h. 826, no. 5597

[6] Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini, al-Furu’ min al-Kafi, jld. 2, juz. III, h. 826, no. 5595

 [7] Al-Mizan li al-Sya’rani, juz. I, h. 202

Satu Tanggapan to “Solat ‘Id Berdasar Hadis Sunni-Syi’ah”

  1. Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: