Perspektif al-Qur’an Tentang Malaikat

PENDAHULUAN

Di dunia kita yang modern ini kita melihat beberapa Negara berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjalin hubungan diplomatik, kesepahaman, dan kehidupan yang baik. Demikian juga orang-orang intelek mereka berusaha memperbaiki hubungannya dengan yang lainnya agar mereka dapat menikmati kehidupan yang aman, tenang, dan tentram.

Sesuatu yang mungkin terlupakan oleh kebanyakan manusia bahwasanya di sana ada jenis makhluk Allah yang mengunjungi manusia khususnya, dari langit-Nya dan turun ke  bumi dengan ketentuan dari-Nya, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkannya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. Sudah seharusnya bagi setiap umat Islam untuk mencontoh kehidupan mereka, bersatu dengan mereka, dan menyerupai mereka dalam ketaatan dan kesuciannya.

  1. A.    Kewajiban Beriman Kepada Para Malaikat

 

آَمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آَمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ 

“Rasul telah beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah Malaikat-malaikat-Nya…”[1]

Dalam ayat di atas disebutkan dengan jelas, bahwa sudah menjadi keharusan bagi setiap umat Islam yang mengaku beriman, untuk meyakini keberadaan malaikat. Keberadaan malaikat yang terdapa di dunia gaib, memang tidak bisa diterangkan secara ilmiah. Karena itu, malaikat hanya bisa dipahami sebagai makhluk yang lebih tinggi dari benda. Tetapi untuk mengetahui malaikat seperti apa, baru akan diketahui setelah manusia mati. Kemudian, sekarang ini yang perlu ditekankan adalah meyakini saja.[2]

Al-Baihaqi, sebagaiman dikutip oleh Imam al-Suyuthi, mengatakan bahwa : beriman kepada malaikat bisa mengandung beberapa makna :

Pertama, membenarkan keberadaannya, sebagaimana dijelaskan di atas.

Kedua, menempatkan posisinya, menetapakan bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah dan makhluk-makhluk-Nya seperti halnya manusia dan jin, diperintahkan dan dibebani tanggung jawab, mereka tidak kuasa kecuali atas apa yang telah ditetapkan Allah terhadap mereka, kematian adalah hal yang mungkin bagi mereka, hanya saja AllahSwt. Menjadikan bagi mererka usia yang panjang, Dia tidak mematikannya sebelum sampai masa itu (hari kiamat). Kemudian, mereka tidak disifati dengan suatu sifat yang menyebabkan syirik kepada Allah.[3]

Ketiga, mengakui bahwa di antara para malaikat ada yang merupakan utusan Allah yang di utus-Nya kepada manusia yang dikehendaki-Nya, dan terkadang diutus pula kepada sesame mereka sendiri. Kemudian mengakui pula bahwa di antara mereka ada yang memikul Arsy, yang bershaf-shaf, yang menjaga syurga, menjaga neraka, yang mencatat segala perbuatan, dan yang menggiing awan, yang hal itu, telah disebutkan dalam al-Qur’an baik semuanya maupun sebagian besarnya.[4]

  1. B.     Sifat-sifat Malaikat

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kamu dan keluargamu dari apa yang bahan bakarnya manusia dan batu ; di atasnya ada malaikat yang keras-keras, yang tidak mendurhakai Allah menyangkut apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan.”[5]

Dalam ayat di atas, dijelaskan mengenai salah satu sifat malaikat yaitu “yang tidak mendurhakai Allah menyangkut apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan.”  Dalam ayat di atas, malaikat disifati dengan غِلَاظٌ (kasar), bukanlah dalam arti kasar jasmaninya, sebagaiamana dalam beberapa kitab tafsir, karena malaikat adalah makhluk-makhluk halus yang tercipta dari cahaya. Atas dasar tersebut, kata tersebut harus dipahami dalam arti kasar perlakuannya  atau ucapannya. Mereka telah diciptakan Allah khusus untuk menangani neraka. “hati” mereka tidak iba atau tersentuh oleh rintisan, tangis, atau permohonan belas kasih, mereka diciptakan Allah dengan sifat sadis, dank arena itulah maka mereka شِدَادٌ (keras-keras) yakni makhluk-makhluk yang keras hatinya dank keras pula kelakuannya.[6]

  1. C.    Tugas Para Malaikat

Malaikat, bagian sebagian orang, adalah “misteri”. Eksistensinya tak dapat diungkap secara kasat mata. Ia menjadi bagian dari alam gaib. Tak hanya itu, malaikat menjadi makhluk yang dipercaya Tuhan untuk menyampaikan pesan-pesan-Nya. Kenyataan ini membuat malaikat menjadi sosok yang semakin “tak terjangkau” secara logika.
Banyak gambaran tentang malaikat. Ada yang mempersonifikasikan malaikat sebagai makhluk kebaikan. Ada juga yang menggambarkan malaikat memiliki dua sayap, dan sebagainya. Ada juga yang menggambarkan malaikat memiliki dua sayap, dan sebagainya. Namun demikian, yang terpenting dalam konteks keberagamaan adalah bagaimana malaikat bukan sekadar menjadi realitas misteri yang diyakini. Iman kepada malaikat harus memiliki makna eksistensial yang signifikan bagi kehidupan manusia. Di sinilah perlunya sebuah interpretasi atas teks-teks kemalaikatan.

Muhammad Abduh, tokoh pembaru pemikiran Islam akhir abad ke-19, menyajikan tafsir tentang malaikat ke dalam idiom budaya manusia yang lebih maju. Ungkapan-ungkapan Kitab Suci, menurut Abduh, memiliki banyak kemungkinan metaforik, termasuk di dalamnya tentang malaikat. Iman, demikian Abduh, bukan semata-mata masalah hati, tapi juga masalah akal. Karena itu, iman kepada malaikat harus melekat di dalam kepribadian manusia baik individu maupun social secara ilmiah, rasional, dan dinamis. Yakni iman yang mendorong terwujudnya perbuatan-perbuatan yagn mencerahkan dan mencerdaskan umat.

Di samping sebagai utusan Tuhan, malaikat mempunyai fungsi khusus. Jibril adalah malaikat pembawa wahyu kepada Muhammad, sedangkan kematian dibawa oleh malaikat yang tidak disebutkan namanya dalam al-Qur’an, tetapi dalam hadis dikenal dikenal dengan Izra’il. Malaikat Munkar dan Nakir, mendatangi mayat di dalam kubur dan memeriksa apakah orang itu akan masuk surga ataukah neraka. Sebagian percaya bahwa kedua malaikat ini memberikan hukuman atas orang-orang yang berada di dalam kubur yang membuat sebelum periode sebelum hari pengadilan menjadi tempat sejenis penyucian dosa.[7]

Malaikat Malik penguasa neraka, dalam al-Qur’an disebutkan bahwa malik memerintah sembilan belas malaikat Zabaniyah, yang melemparkan manusia ke dalam siksaan. Q.S al-‘Alaq ayat : 18. Allah Swt menciptakan malaikat Malik, kemudian menciptakan baginya jari-jari sejumlah penghuni neraka. Tidaklah penghuni neraka disiksa kecuali ada malaikat Malik yang menyiksanya dengan salah satu jarinya. Demi Allah, apabila Malik meletakkan salah satu jarinya pada langit pastilah dia akan melelehkannya.[8]

Kemudian masih banyak lagi malaikat yang diberikan tugas oleh Allah Swt, yang tidak mungkin disebutkan satu per satu karena jumlahnya yang tak terhingga.

Adapun yang patut dijelaska bahwa malaikat diciptakan dari cahaya.[9] Ahlus Sunnah mengimani adanya Malaikat yang ditugaskan Allah di dunia dan di akhirat. Malaikat adalah alam ghaib, makhluk, dan hamba Allah Azza wa Jalla. Malaikat sama sekali tidak memiliki keistimewaan Rububiyyah dan Uluhiyyah. Allah menciptakannya dari cahaya serta memberikan ketaatan yang sempurna serta kekuatan untuk melaksanakan ketaatan itu. Dalil bahwa Malaikat diciptakan dari cahaya adalah hadits dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api yang menyala-nyala, dan Adam diciptakan Alaihissalam dari apa yang telah disifatkan kepada kalian.” Malaikat adalah makhluk Allah yang besar seperti disebutkan dalam ayat-ayat Al-Qur-an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih, seperti sifat para Malaikat yang memikul ‘Arsy.


[1] Depag,, Al-Qur’an dan Terjemahannya, ( Semarang: PT Karya Toha Putra, 1995), h. 72.

[2] Nurcholish Madjid, “Malaikat Mejelma Menjadi Manusia” dalam Ensiklopedi Nurcholish Madjid (Jakarta :Mizan dan Paramadina, 2006) jilid 3 h. 1802-1803.

[3] Imam al-Suyuthi, Menjelajah Alam Malaikat. Penerjemah. Muhammad al-Mighwar (Jakarta : Pustaka Hidayah, 2005), h. 19-20.

[4] Imam al-Suyuthi, Menjelajah Alam Malaikat, h. 20

[5] John L.Esposito, Ensikloedi Oxford (Bandung ; Mizan, 2001), h. 328.

[6] M.Quraish Shihab, Tafsir al-MIshbah (Jakarta : Lentera Hati, 2002), jilid 14,h. 327.

[7] Pendapat ini ditolak oleh kaum Mu’tazilah dan beragam kaum rasionalis yang pada gilirannya menggerakkan reaksi balik dikalangan sebagian kaum tradisionis dengan menetapkan percaya pada malaikat ini sebagai rukun iman.

[8] Imam al-Suyuthi. Menjelajah Alam Malaikat. h. 84.

[9] M. Quraish Shihab, M. Quraish Shihab menjawab 1001 soal keislaman yang patut anda ketahui, (Jakarta: Lentera Hati, 2008), h. 859.

2 Tanggapan to “Perspektif al-Qur’an Tentang Malaikat”

  1. Assalaamualaikum wr wb …
    terimakasih atas penjelasan tentang Malaikat ini …
    sy punya pertanyaan … ?
    bagaimana bentuk kongkrit dari keimanan kepada Malaikat … ?
    boleh atau tidak …
    bentuk keimanannya adalah sebuah sikap (iman) begini …
    Perbuatan Baik dan atau niat baik akan di-ijabah, didukung Alloh melalui mekanisme Malaikat …
    Perbuatan Jahat dan atau Niat jahat akan dibantu oleh setan …
    meskipun pada prinsipnya, semua daya upaya datang dari Alloh swt

    bila berkenan mohon komentarnya
    terimakasih

  2. artikel yang bagus… saya mau tanya perspektif tafsir alquran dan hadis tentang ekstensi manusia??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: