HUKUM QADZAF DAN LI’AN

Artinya: Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. dan mereka Itulah orang-orang yang fasik.

Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), Padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, Maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, Sesungguhnya Dia adalah Termasuk orang-orang yang benar.

Dan (sumpah) yang kelima: bahwa la’nat Allah atasnya, jika Dia Termasuk orang-orang yang berdusta. (An-Nur ayat 6-8)

 Pengertian Secara Global                          

            Pada ayat yang lalu Allah Swt telah memperingatkan kaum mukminin agar tidak menikahi wanita-wanita pezina dan tidak menikahkan laki-laki pezina dengan wanita mukminat, serta menjelaskan bahwa yang demikian itu tidak layak bagi orang-orang mukmin yang hatinya telah ditanami kecintaan kepada keimanan dan kepercayaan kepada para rasul-Nya.

Ayat ini, Allah Swt melarang menuduh berzina kepada wanita baik-baik (terhormat) bahkan bahkan mengacam orang yang menuduh itu dengan hukuman yang berat di dunia di akhirat. Hukumnya di dunia adalah di jatuhi hukuman delapan puluh kali dera dan tidak di terima kesaksiannya untuk selama-lamanya, sehingga tidak ada harganya di mata orang banyak, dan perkataannya tidak akan di dengarkan. Sedangkan hukuman di akhirat adalah azab yang pedih dan menyakitkan, kecuali apabila mereka mau bertaubat dan kembali kepada Allah serta memperbaiki segala amalnya maka hendaklah kamu memaafkan dan membiarkan mereka, dan terima atas permintaan maaf meraka, sebab Allah Swt  maha pengampun lagi maha pemurah, menerima tobat hambanya apabila dia bertobat dan memperbaiki segalah tingkah lakunya.

            Kemudian Allah Swt memberitahukan bahwa seorang suami yang menuduh istrinya (berzina) atau melakukan perbuatan keji, sedangkan dia (suami) tidak mempunyai bukti untuk memperkuat tuduhan dan tidak dapat mendatangkan saksi maka suami wajib memberikan persaksian dengan jalan bersumpah empat kali dengan nama Allah bahwasahnya dia termasuk orang-orang yang benar,  dan sumpah yang kelima bahwanya laknat dan kutukan Allah mudah-mudahan menimpah dirinya apabila dia berdusta. 

Sebab Turunnya Ayat

Sebagian kaum mufassirin berpendapat bahwa ayat ini (ayat 4-5) turun sehubungan dengan peristiwa “ifik” yaitu tuduhan bohong terhadap ummul mukminin, aisyah binti Abu Bakar istri Rasulullah Saw.[4]

            Sedangkan ayat 6 dan 7, bahwasahnya Bukhari, at-Turmudzi, ibn Majah telah meriwatkan dari Ibn Abbas r.a bahwanya Hilal bin Umayyah mengadukan isterinya kepada Rasulullah Saw dengan tuduhan telah berzina dengan Syarik bin Sahma. Kemudian Rasulullah saw bersabda kepadanya : “ bawa bukti nyata, atau punggungmu di dera”. Hilal menjawab ya Rasulallah, apabila salah seorang diantara kita melihat seorang laki-laki meniduri istrinya apakah dia harus pergi mencari bukti?” Rasulullah mengulanggi perkataannya: “ bahwa bukti nyata atau kau dikenakan hukuman dera di punggungmu.” Hilal bin Umayyah berkata: Demi Allah yang telah mengutus anda dengan membawa kebenaran, saya sungguh benar (tidak berdusta). Semoga Allah menurunkan Wahyu yang akan membebaskan pungungmu dari hukuman dera. Kemudian Allah menurunkan ayat :[5]

 Penjelasan Ayat

            Orang-orang yang mencela (menuduh) wanita baik-baik dari kaum muslimin yang merdeka dengan tuduhan telah melakukan zina, kemudian tidak menguatkan tuduhannya dengan mendatangkan empat orang saksi yang adil, maka deralah mereka delapan puluh kali deraan, sebagai balasan atas perbuatannya yang mengotori kehormatan orang lain dengan jalan yang tidak benar. Kemudian tolaklah dan jangan diterima kesaksiannya untuk selama-lamanya dalam perkara apapun. Kemudian mereka itu adalah orang-orang yang keluar dari ketaatan kepada tuhannya, karena mereka melakukan kefasikan dan dosa besar dengan menuduh secara dusta wanita mukminat baik dengan tuduhan keji (zina).[6]

            Dikhususkannya “wanita” dalam masalah qadzaf ini, yaitu dengan disebutkannya ÏM»oY|ÁósßJø9$ (wanita-wanita yang baik-baik) adalah karena peristiwa tuduan itu mengenai wanita, hal itu karena menuduh wanita melakukan zina itu terjadi paling sering dan dilakukan secara paling keji serta tuduhan itu mencemarkan nama baik wanita-wanita yang dituduh itu. Namun sebenarnya tidak ada perbedaan dalam hukum antara laki-laki dan wanita. Dalam hal ini ada yang mengatakan bahwa pada kalimat tersebut ( walladziina yarmuuna al muhshonaati) ada satu kata yang tidak dicantumkan. Yaitu lafadz al-anfusu, sehingga kalimat tersebut artinya : “dan orang-orang yang menuduh diri-diri (manusia) yang baik-baik (terhormat).” Sehingga dengan demikian hukum qadzaf itu berlaku untuk laki-laki dan perempuan yang kena tuduhan. Diceritakan bahwa pendapat ini diriwayatkan oleh Ibnu Hazm.[7]

Kecuali apabila mereka bertaubat dan menyesali perbuatannya serta memperbaiki tingkah lakunya.[8]

Dalam hal ini ulama berbeda pendapat tentang cakupan pengecualian pada ayat di atas. Seperti terbaca ada tiga sanksi yang dijatuhkan pada pencemaran nama baik itu, yaitu: a). di cambuk delapan puluh kali, b). di tolak kesaksiannya sepajang masa, c). dinilai sebagai orang fasik. Mayoritas ulama’ memahami pengucualian itu menyangkut ketiganya,  hanya saja karena ayat ini menyatakan sesudah itu dan yang dimksud adalah sesudah pengcabukkan maka pengecualiaan itu hanya mencabut sanksi (b) dan (c).[9]

            Dengan demikian apabila terbukti dia bertobat dan melakuakan perbaikan kesaksiannya dapat di terima dan dia tidak lagi wajar dinamai fasik. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa pengecualian itu hanya tertuju kepada yang terakhir di sebut, dengan demikian walau dia bertaubat dan berbuat baik, kesaksiannya tetap tidak dapat diterima.[10]

            Ayat ini mengatakan bahwa para suami yang menuduh istrinya berbuat zina tampa mempunyai saksi yang menguatkan tuduhannya maka masing-masing suami itu wajib bersumpah empat kali (dengan nama Allah) bahwa dia telah berkata benar dalam tuduannya kepada istrinya itu. Dan sumpah yang kelima dia mengatakan bahwa laknat Allah ditimpahkan kepadanya apabila dia termasuk orang-orang yang berkata dusta dalam tuduhan itu.[11]

E. Balaghoh Ayat

Menuduh orang-orang terhormat dengan tuduhan zina, dalam ayat ini menggunakan lafadz  bqãBötƒ , yang pada dasarnya lafadz ini berarti : “melempar dengan batu atau dengan suatu benda keras lainnya.”akan tetapi yang dimaksud dalam ayat ini adalah makna majazi, yakni “menuduh (orang berbuat zina)”, dengan ucapan lisan, sebab rasa sakit dihati yang disebabkan oleh tuduhan (berbuat zina) adalah separuh rasa sakit di badan karena terkena lemparan batu. Sebagaiman dikatakan oleh an-nabighah : “Jurhun linnaasi kajurhi al-yad” luka (di hati) yang disebabkan oleh lidah separah dengan luka yang disebabkan oleh perbuatan tangan.

Kemudian dalam masalah mendatangkan saksi bagi menuduh zina, menggunakan lafadz  ä!#y‰pkà­ pyèt/ö‘r’Î/ u yang mana kata bilangan pyèt/ö‘r’ berakhiran p (ta marbuthah) sebagai tanda bahwa lafadz tersebut diberi bentuk muannats atau “kata yang diperempuankan”, sedang menurut tata bahasa Arab bila kata bilangan berbentuk muannats maka kata terbilangnya adalah mudzakkar, begitupun sebaliknya. Maka dalam masalah qadzaf tidak diterima kesaksian wanita, sama halnya dengan masalah zina, satu dan lain demi menutupi kecemaran orang (agar tidak tersiar).

F. Kesimpulan

            Qadzaf (menuduh orang yang baik-baik berbuat zina) di pandang sebagai suatu kejahatan yang sangat keji, yang diperangi oleh Islam tanpa mengenal ampun, sebab menuduh orang-orang yang tak bersalah berbuat zina, membuka pintu lebar-lebar bagi setiap orang yang suka mengqadzaf wanita atau pria yang tak bersalah dengan tuduhan yang sangat keji.

Disamping itu kejahatan qadzaf dan tuduhan berzina menimbulkan banyak bahaya besar di kalangan masyrakat. Tujuan Islam mensyariatkan hukuman qadzaf  itu melindungi kehormatan seseorang, memelihara kehrmatan umat dan membersihkan masyarakat dari perkataan yang buruk agar keluarga muslim tetap hidup dalam keadaan pantas dihormati serta terpelihara kehormatan dirinnya, terjauh dari omongan orang-orang kurang ajar dan dari kebohongan orang-orang yang suka memfitnah.

 

Al-maraghi, Tafsir al-maraghi (terjemah) , (Semarang : Toha Putra, 1989) jilid 18

Ash-shabuni, Muhammad Ali, Tafsir Ayat-Ayat Hukum dalam Al-Quran (terjemah), (Bandung : Al-Ma’arif, 1994) Jilid II.

Shihab, Muhammad Quraish, Tafsir al-Misbah, (Jakarta : Lentera Hati, 2000) Jilid 9


[1] Ash-shabuni, Muhammad Ali, Tafsir Ayat-Ayat Hukum dalam Al-Quran (terjemah), (Bandung : Al-Ma’arif, 1994) Jilid II hal 107

[2]. Ibid hal 108

[3] Al-maraghi, Tafsir al-maraghi (terjemah) , (Semarang : Toha Putra, 1989)jilid 18 hal 130

[4] Ash-shabuni, Muhammad Ali, Tafsir Ayat-Ayat Hukum dalam Al-Quran (terjemah), (Bandung : Al-Ma’arif, 1994) Jilid II hal 111.

[5] Ibid hal 147.

[6] Al-maraghi, Tafsir al-maraghi (terjemah) , (Semarang : Toha Putra, 1989) jilid 18 hal 127

[7] Ash-shabuni, Muhammad Ali, Tafsir Ayat-Ayat Hukum dalam Al-Quran (terjemah), (Bandung : Al-Ma’arif, 1994) Jilid II hal 113.

[8] Ibid hal 127

[9] Shihab, Muhammad Quraish, Tafsir al-Misbah, (Jakarta : Lentera Hati, 2000) Jilid 9 hal 289

[10] Ibid 290

[11] Al-maraghi, Tafsir al-maraghi (terjemah) , (Semarang : Toha Putra, 1989) jilid 18 hal 133

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: