Taat kepada Rasul

 قل ان كنتم تحبون الله فاتبعونى يحببكم الله ويغفرلكم زنوبكم والله غفوررحيم(((31

قل اطيعواالله والرسول فان تولوافان الله لايحب الكافرين (32

(31). Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai allah ikutilah aku, niscaya Allah mengasihimu dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah maha kekal rahmat Nya.”

 (32). Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul Nya, jika kamu berpaling maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.[1] 

Ayat diatas merupakan bagian dari surat Ali Imron, yang mana surat tersebut tergolong dalam surat thiwal  karna ayat-ayatnya panjang-panjang. Dilihat dari masa turunya, surat tersebut juga merupakan golongan surat maddaniyah sebagaimana terlampir dalam beberapa mashab dan asbabul nuzulnya. Hal ini pun menjadi sesuai bila kita melihat ayat diatas yang kandungannya menetapkan dasar-dasar Islam, yaitu iman dan taat kepada Rasulullah Saw.

A. Munasabah (korelasi)

Pada ayat sebelumnya tersirat bahwa Allah itu mengetahui apa yang ada di dalam alam semesta ini meskipun sesuatu itu merupakan hal yang teramat kecil dan ada didalam hati. Semua itu ada dalam kekuasan Allah yang maha berkuasa, sedangkan pada ayat 31 disebutkan bahwa siapapun yang mencintai Allah maka ikutilah nabi Muhammad Saw. Cinta di sini, sebagaiman telah disebutkan di atas adalah salah satu hal yang ada di dalam hati dan merupakan salah satu contoh bahwa Allah maha mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi.

Sedangkan ayat sesudahnya menerangkan bahwa sesungguhnya Allah telah memilih beberapa orang untuk menjadi rusul seperti: Nabi Adam, Nuh, dan keluarga Imron, supaya mereka menyampaikan risalah-Nya bagi umat-umat mereka. Demikian pula kita sebagai umat Nabi Muhammad Saw dituntut untuk mentaati dan mengimaninya karna dialah seseorang yang ditunjuk sebagai pembawa risalah. [2]

Sesudah Allah menerangkan kebesaran kekusaan Nya, serta kesempurnaan Nya, dan menegaskan larangan Nya terhadap orang-orang mukmin untuk mengadakan hubungan akrab  dengan musuh-musuhnya, serta menguatkan larangan tersebut dengan ancaman yang keras, maka dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa jalan mencintai Allah ialah mengikuti rasul nya. Barangsiapa sudah mendpatkan kecintaan Nya, pasti diampuni dosa-dosanya.[3]

B. Asbabul Nuzul

Para ahli ta’wil berbeda pendapat mengenai sebab turun ayat ini, [4]antara lain:

  1. Mereka berkata: ayat ini diturunkan pada suatu kaum di zaman Nabi yang mengatakan bahwa mereka mencintai tuhannya, maka Allah kemudian menyuruh Nabi Muhammad untuk mengatakan bahwa jika kalian benar-benar jujur dengan apa yang kalian katakan maka ikuti saya karna sesungguhnya hal yang demikian merupakan tanda-tanda dari kejujuran kalian. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat dari Al-Hasan Ibnu Juraj [5]
  2. Sebagian yang lain berkata bahwa ayat ini merupakan perintah dari Allah kepada nabinya untuk mengatakan kepada kaum Najran dari golongan Nasrani bahwa kalian mencintai Nabi Isa karna kalian mengagungkan Allah dan mencintai-Nya, maka ikutilah Nabi Muhammad. Sebagaimana riwayat dari  Muhammad bin Ja’far bin al-Zubair [6] 

C. Penjelasan Ayat

Pada ayat 31, Allah Ta’ala berfirman, “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni  dosa-dosamu.” Jadi, kamu akan memperoleh suatu hasil yang ada di balik tuntutan terhadapmu supaya kamu mencintai-Nya. Parah ahli hikmah mengatakan, “persoalannya bukan kamu mencintai, namun kamu dicintai.” Kemudian Allah berfirman, ” Allah maha pengampun  lagi Maha penyayang. “Yakni, lantaran kamu mengikuti Rasulullah saw. Maka kamu memperoleh ampunan dan kasih sayang-Nya sebagai berkat kerasulannya.[7]  

Ayat ini memberikan keterangan yang kuat untuk mematahkan pengakuan orang-orang yang mengaku mencintai Allah pada setiap saat, sedang amal perbuatannya berlawanan dengan ucapan-ucapan itu. Bagaimana mungkin dapat berkumpul pada diri seorang cinta kepda Allah dan membelakangi perintah-perintah nya. Siapa yang mencintai Allah, tapi tidak mengikuti jalan dan petunjuk Rasulullah saw, maka pengakuan cinta itu adalah palsu dan dusta, Rasulullah bersabda:

من عمل عملا ليس عليه امرنا فهو رد

            Artinya:

                “Barangsiapa melakukan perbuatan tidak berdasarkan perintah kami maka perbuatan itu ditolak”   [8]  

Pada ayat 32 disebutkan permasalahan perintah untuk taat,  al-qur’an menyebutkannya dalam tiga bentuk: [9]

  1. Dengan  اطيعوا الله والرسول taatilah Allah dan Rasul-Nya sebagaimana yang disebut pada ayat di atas. Di sini kita perhatikan perintah yaitu اطيعوا  taatilah. Apabila kita bertanya siapa yang kita taati? Maka jawabannya adalah Allah Swt dan Rasul-Nya secara bersamaan.
  2. Allah memisahkankan taat kepada Allah dengan taat kepada Rasul.  Pada ayat kedua ini, Allah menetapkan hukum secara umum dan Rasul yang merincikannya. Seperti terdapat dalam QS. Al-Nur: 54
  3. Perintah taat diucapkan untuk tiga zat. Pertama, kepada zat Allah: kedua, kepada Rasul saw; dan ketiga, pemimpin. Seperti yang terdapat dalam QS. An-Nisa’: 59.

 

D.  Kesimpulan

Ayat 31 dan 32 di atas dapat di ambil beberapa pelajaran  antara lain, jika kita benar-benar mencintai Allah, maka kita harus taat kepada Rasul-Nya karna kita selain dituntut taat kepada Allah kita juga di suruh taat kepada Rasul. Dan apabila kita tidak mentaati keduanya ataupun salah satunya maka kita tergolong orang yang kafir (orang ayang ingkar), yang mana Allah tidak mencintai orang-orang kafir.

Sedangkan dari redaksi ayat di atas mempunyai pesan kontekstual, yakni orang yang tidak taat berarti tidak cinta dan orang yang tidak cinta berarti ingkar. Demikian kiranya makalah ini yang bisa pemakalah sampaikan, tentunya masih banyak kesalahan baik cara penyampaian ataupun kurang validnya berita yang disampaikan. Akhirnya pemakalah mengharap terbukanya pintu maaf dari pembaca sekalian dan pastinya mengharap ampunan dari Yang Maha Pengampun.


[1] As -Shiddieqy, Teungku Muhammad Hasbi, Tafsir  Al-Qur’an Majid Amnur., Semarang: Pustaka Rizki Putra , 2000 , h. 573

[2] Syihabuddin, Terjamah ikhtishari Ibn katsir, Gema insani press: Jakarta, h. 506

[3] UII, Al-qur’an dan tafsirnya,  PT Dana bhakti wakaf: Yogyakarta, h. 557

[4] Al-Tobari, Abu Ja’far Muhamad bin Jarir, Jamiul bayan, Darul fikir: Bairut, h. 232

[5] Al-Suyuti, Imam Jalaluddin, al-Durr al mansur, Darul fikir: Bairut, 1983, h. 177

[6] Al-Tobari, Abu Ja’far Muhamad bin Jarir, Jamiul bayan, Darul fikir: Bairut, h. 233

[7] Drs. Syihabuddin, Terjamah ikhtishari Ibn katsir, Gema insani press: Jakarta, h. 505

[8]  Bin katsir, Imaduddin Abu –Fida, Tafsir ibn katsir, Daru fikir: Bairut, h. 477 juz 1

[9] Sya’rawi Muhammad Mutawalli, tafsir al-sya’rawi,Duta azhar: Kairo h. 302, jld. II

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: