Malu adalah cabang Iman

Ada yang berpendapat bahwa hadis berikut ini bertolak belakang dengan logika dan akal sehat. Hadits yang dimaksud adalah sabda Rasullah Saw “Malu adalah cabang Iman.” Menurut mereka, iman adalah sesuatu yang diusahakan, sementara malu adalah instink bisa diusahakan seseorang?

Menurut kami, sesungguhnya orang yang pemalu, berhenti melakukan maksiat karena malu sebagaimana imam bisa menghentikan maksiat. Oleh karena itu, ia seolah-olah cabang iman. Biasanya orang Arab memposisikan sesuatu pada posisi yang lain jika sesuatu itu mirip atau menyerupai yang lain atau jika ia menjadi sebabnya. Dalam hal ini, orang Arab menyebut ruku’ dan sujud sebagai shalat, padahal makna asli dari kata shalat adalah doa? Mereka juga menyebut doa dengan makna shalat sebagai firman Allah Swt.: “Dan shalatlah kepada mereka.”maksudnya berdoalah kepada mereka. Pada ayat lain Allah Swt. berfirman : “Malainkan kalu ada doamu.” (Qs. Al-Furqan: 77).

Maksud kata doa di sini adalah shalat. Ibn Umar berkata bahwasanya Rasulullah Saw. jika diundang pada sebuah pesta pernikahan, jika ia tidak sedang berpuasa, dia makan, jika sedang berpuasa, beliau berdoa (shalla). Arti kata shalla adalah doa. Allah Swt, berfirman: “berdoalah (wa shalli) untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu (shalataka)itu (menjadi)ketenteraman jiwa bagi mereka. (Qs, at-Taubah: 103).

Kata Shalla pada ayat tersebut berarti doa. Pada ayat lain Allah Swt. berfirman:

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Qs. Al-Ahzab: 56).

Maksud dari perintah “bershalawatlah” pada ayat tersebut adalah berdoalah kepadanya. Makna seperti ini banyak kita temukan.

Ketika doa banyak terdapat pada shalat dan menjadi inti dan shalat. Maka shalat dinamakan dengan doa. Begitu juga zakat yang berarti pembersihan harta dan mengembangkannya. Ketika pengembangan itu terjadi dengan mengeluarkan shadaqah dari harta, maka itu dinamakan zakat.

Saya diberitahu oleh Abu al-Khathab yang diberitahu oleh al-Mu’tamir bin Salaiman yang mendengar yang meriwayatkan dari Wahsil bin Hayyah dari Abu Wa’il dari Ibn Mas’ud yang berkata bahwa kalimat akhir yang dihafal dari sabda Nabi Saw. adalah: “Jika kalian tidak malu, maka lakukanlah apa yang kalian kehendaki.”maksudnya adalah bahwa orang yang tidak malu maka dia termasuk orang yang fasik karena ia melakukan berbagai kejahatan dan mencampuradukkan segala keburukan karena dia tidak memiliki batasan baik dari segi agama maupun rasa malu. Dengan demikian maka malu dan iman memiliki peran yang sama, seakan-akan keduanya adalah satu kesatuan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: