Harga Karet

SILATURRAHMI VIA DUNIA MAYA DALAM PERSPEKTIF HADIS

(STUDI KASUS PARA PENGGUNA FACEBOOK )

 

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan Islam adalah salah satu aspek yang vital dan sangat ditekankan di dalam ajaran agama Islam. Begitu banyak anjuran dan perintah yang menyerukan untuk mengeratkan ikatan persaudaraan antar sesama umat Islam, dan banyak pula larangan untuk memutuskan tali persaudaraan di dalam Islam.[1] Semua itu telah disampaikan di dalam ajaran agama Islam, baik melalui firman Allah swt di dalam al-Qur’an surat an-Nisa:

(#qà)¨?$#ur ©!$# “Ï%©!$# tbqä9uä!$|¡s? ¾ÏmÎ/ tP%tnö‘F{$#ur . [2]

“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain,[3] dan (peliharalah) hubungan silaturrahim”. (QS. an-Nisa: 1).

Maupun melalui sabda Rasulullah saw di dalam Hadits. Silaturahmi adalah kunci terbukanya rahmat dan pertolongan Allah SWT. Dengan terhubungnya silaturahmi, maka ukhuwah Islamiyah akan terjalin dengan baik. Bagaimana pun besarnya umat Islam secara kuantitatif, sama sekali tidak ada artinya bila di dalamnya tidak ada persatuan dan kerja sama untuk taat kepada Allah. Rasulullah Saw bersabda:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ. [4]

“Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a., Rasulullah bersabda: “Barangsiapa menyukai untuk mendapatkan kelapangan dalam masalah rezekinya dan diundurkan umurnya (panjang umur), maka hendaklah ia menyambung hubungan dengan familinya”.

Silaturahmi tidak sekadar bersentuhan tangan atau memohon maaf belaka. Ada sesuatu yang lebih hakiki dari itu semua, yaitu aspek mental dan keluasan hati.[5] Hal ini sesuai dengan asal kata dari silaturahmi itu sendiri, yaitu shilat atau washl, yang berarti menyambungkan atau menghimpun, dan ar-rahiim yang berarti kasih sayang.[6] Makna menyambungkan menunjukkan sebuah proses aktif dari sesuatu yang asalnya tidak tersambung. Menghimpun biasanya mengandung makna sesuatu yang tercerai-berai dan berantakan, menjadi sesuatu yang bersatu dan utuh kembali. Tentang hal ini Rasulullah SAW bersabda:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ الْأَعْمَشِ وَالْحَسَنِ بْنِ عَمْرٍو وَفِطْرٍ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ سُفْيَانُ لَمْ يَرْفَعْهُ الْأَعْمَشُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَفَعَهُ حَسَنٌ وَفِطْرٌ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنْ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا. [7]

“Orang yang disebut “penyambung hubungan kekeluargaan” itu bukanlah orang yang sekedar mengimbangi (kebaikan sanak keluarganya), tetapi “penyambung kekeluargaan”, adalah orang yang ketika ada sanak keluarga yang memutuskan hubungan dengannya, maka ia mau menyambungnya”.

Kalau orang lain mengunjungi kita dan kita balas mengunjunginya, ini tidak memerlukan kekuatan mental yang tinggi. Boleh jadi kita melakukannya karena merasa malu atau berhutang budi kepada orang tersebut. Namun, bila ada orang yang tidak pernah bersilaturahmi kepada kita, lalu dengan sengaja kita mengunjunginya walau harus menempuh jarak yang jauh dan melelahkan, maka inilah yang disebut silaturahmi. Apalagi kalau kita bersilaturahmi kepada orang yang membenci kita, seseorang yang sangat menghindari pertemuan dengan kita, lalu kita mengupayakan diri untuk bertemu dengannya. Inilah silaturahmi yang sebenarnya.[8]

Silaturahmi adalah kunci terbukanya rahmat dan pertolongan Allah SWT. Dengan terhubungnya silaturahmi, maka ukhuwah Islamiyah akan terjalin dengan baik. Bagaimana pun besarnya umat Islam secara kuantitatif, sama sekali tidak ada artinya bila di dalamnya tidak ada persatuan dan kerja sama untuk taat kepada Allah. Sebagai umat yang besar, kaum muslim memang diwajibkan ada yang terjun di bidang politik, ekonomi, hukum, dan lain sebagainya, karena tanpa itu kita akan dipermainkan dan kepentingan kita tidak ternaungi secara legal di dalam kehidupan bermasyarakat. Namun demikian, berbagai kelompok yang ada harus dijadikan sarana berkompetisi untuk mencapai satu tujuan mulia, tidak saling menghancurkan dan berperang, bahkan lebih senang berkoalisi dengan pihak lain. Sebagai umat yang taat, kita berkewajiban untuk mendukung segala kegiatan yang menyatukan langkah berbagai kelompok kaum muslimin dan mempererat tali persaudaraan diantara kita semua.

Dalam era gelobalisasi sekarang ini silaturahmi menjadi mudah dengan adanya perkembangan teknologi modern seperti facebook, chetting yang mudah diakses tanpa kita berkunjung ke rumah. Pada masa kini, walaupun serana transportasi dan informasi sedemikian mudah, seperti telepon, pos, mobil dan  Facebook dan lain-lain serta telah dinikmati oleh banyak kalangan, tetapi saja terdapat kelalaian dalam urusan silaturrahmi.Ibnu Abbas meriwatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Basahilah rahim (kelurga) kalian walau dengan salam.[9]” Facebook merupakan jaringan sosial online yang sedang trend dikalangan anak muda, ia merupakan jaringan sebuah situs terbesar yang sangat populer di berbagai penjuru dunia. Kemampuannya mempertemukan kembali teman-teman lama ataupun kerabat di berbagai tempat.[10]

Silaturrahmi dengan ber-facebook, tak sedikit yang kecanduan hingga lupa waktu, lalai dalam menjalankan segala hal dan sebagainya. Akibatnya, di beberapa tempat, kehadiran facebook justru merugikan pihak-pihak tertentu, misalnya perusahaan karena produktivitas karyawannya yang konon berkurang. Bukan hanya itu, facebook memicu beberapa masalah. Tak heran jika beberapa pihak mengambil keputusan untuk memblokir atau mengeluarkan larangan mengakses facebook. Penulis ingin tahu sejauh mana pentingnya silaturrahmi Via dunia maya (facebook) menurut mahasiswa fakultas ushuluddin dan filsafat dan apakah benar facebook salah satu wadah yang signifikan buat menjalin silaturrahmi.

Dengan adanya permasalahan-permasalahan di atas maka penulis mencoba menguraikan makna silaturrahmi via dunia maya dalam kaca mata Hadis dan ulama, yang diwarnai penjelasan serta sikap bagaimana seharusnya setiap insan menyadari akan hal teknologi berperan sebagai media. Penulis merasa tertarik untuk menkajinya lebih dalam masalah ini khususnya dikalangan Mahasiswa FUF yang masih menjalankannya serta bagaimana pengaruhnya bagi para Mahasiswa yang menggunakannya. Penulis merasa tertarik dengan masalah ini dan mengajukan sebuah bentuk tulisan yang berbentuk skripsi dengan judul: Silaturrahmi Via Dunia Maya dalam Perspektif Hadis (Studi Kasus Para Pengguna Facebook di FUFJakarta)

  1. B.     Identifikasi, Pembatasan dan Perumusan Masalah

Sebelum penulis membatasi masalah ini, penulis ingin menyampaikan bahwa dalam hadis Shahih Bukhari, bab Silaturrahmi yang bersangkutan dengan silaturrahmi tatap muka, dan berkunjung: ada beberapa hal yang dibahas di antaranya yaitu: (a) tentang bagaimana pandangan masyarakat tentang silaturahmi; (b) bagaimana pandangan Ulama tentang silaturahmi; (c) apa keuntungan dan kerugian silahturahmi di dunia maya; (d) Apa dampak positif dan negatif dari silaturahmi via dunia maya dengan silahturahmi dalam dunia nyata; (e) apakah dalam hadis-hadis tersebut terdapat pertentangan, jika ada, maka metode apakah yang paling tepat untuk digunakan dalam konteks ini.

Dengan adanya beberapa persoalan yang dibahas dalam hadis di atas, maka penulis membatasi masalah ini hanya pada persoalan bagaimana pandangan Ulama tentang silaturahmi, apa keuntungan dan kerugian silahturahmi di dunia maya, dan Apa dampak positif dan negatif dari silaturahmi di via dunia maya dengan silahturahmi dalam dunia nyata, serta memaparkan hadis-hadis yang mengatakan berkenaan dengan silaturrahmi. Karena keterbatasan penulis serta melihat begitu banyak hadis-hadis yang mengatakan mengenai silaturrahmi, maka penulis membatasinya hanya pada tiga hadis pilihan. Yang menjadi alasan mengapa penulis memilih tiga hadis terebut karena :

  1. Karena tiga hadis tersebut mewakili subtansi tentang silaturrahmi dengan berkunjung, bersentuhan tangan dan tatap muka dari hadis-hadis lain yang ada.
  2. Dari sekian banyak hadis-hadis yang menerangkan tentang silaturrahmi dengan berkunjung, bersentuhan tangan dan tatap muka hanya tiga hadis  itulah yang penulis anggap lebih terperinci, serta lebih terlihat mendalam maknanya.

Adapun dengan pembatasan masalah yang tertera di atas penulis merumuskan permasalahannya, menjadi: Bagaiman pendapat ulama tentang silaturrahmi via dunia maya (facebook).

  1. C.    Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah tersebut diatas maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang pengertian silaturrahmi, kegunaan dan motivasi para pengguna facebook dalam kehidupan mahasiswa UIN Jakarta, manfaat dan kegunaan facebook dalam perilaku mahasiswa UIN Jakarta.

Adapun manfaat dari penelitian dan penulisan skripsi ini yaitu:

  1. Sebagai referensi akademis bagi kajian keagamaan.
  2. Sedangkan yang bersifat praktis diantaranya dapat memberikan acuan atau bahan pertimbangan bagi calon peneliti yang ingin meneliti tradisi silaturrahmi dalam dunia maya.

 

  1. D.    Metodologi Penelitian
    1. 1.      Jenis Penelitian dan Pendekatan Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian social yang dilakukan dilapangan (field research) yang menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analitik yang mengambil di UIN Jakarta.

Subyek utama penelitian adalah para pengguna facebook, dikalangan mahasiswa UIN Jakarta.

  1. 2.      Pengumpulan Data

Dalam pelaksanaan penelitian ini penulis menggunakan 2 (dua) macam cara, yaitu:

  1. a.      Wawancara Mendalam (Depth Interview)

Wawancara ialah tanya jawab dengan berhadapan muka untuk mendapatkan keterangan secara lisan dari seorang responden.[11] Wawancara dimaksudkan untuk memperoleh informasi secara langsung dari responden atau informasi melalui Tanya jawab. Wawancara disini dilakukan secara mendalam dan terfokus, agar tidak meluas kepermasalahan yang lain maka untuk itu digunakan pedoman wawancara.

  1. b.      Pengamatan (Observasi)

Pengamatan merupakan pencatatan secara sistematik terhadap fenomena-fenomena yang diselidiki.[12] Teknik pengamatan ini dimaksudkan agar peneliti dapat melihat langsung aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh obyek dan dapat menarik kesimpulan dari hal tersebut. Teknik ini berguna untuk memperoleh data untuk kelengkapan hasil penelitian.

  1. 3.      Analisa Data

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pendekatan ini digunakan untuk mempelajari masalah-masalah masyarakat, pandangan-pandangan dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena ataupun fakta-fakta dikalangan Mahasiswa UIN Jakarta. Adapun data-data diperoleh melalui interview (wawancara) dan observasi (pengamatan). Wawancara dilakukan secara mendalam dengan mahasiswa di UIN Jakarta berkenaan dengan silaturrahmi dengan menggunkan facebook. Wawancara ini dilakukan juga pada para ulama dan masyarakat mengenai silaturrahmi dengan menggunakan facebook dan perkembangan di kalangan UIN Jakarta. Data-data tersebut dikumpulkan lalu diolah, dianalisis, dan dipaparkan secara deskriptif yang kemudian disusun sebagai laporan tentang penggunaan facebook yang dijadikan silaturrahmi di UIN Jakarta dalam arus modernisasi.

  1. 4.      Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian yang ditentukan penulis berada di UIN Jakarta. Untuk menambah penelitian yang lebih akurat, maka penulis mengunjungi para pengguna facebook.

Sedangkan untuk teknis penulisan skripsi ini, penulis menggunakan buku “Pedoman Akademik, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat  UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Tahun 2005/2006”.

  1. E.     Sistematika Penulisan

Dalam penulisan skripsi ini penulis membagi menjadi lima bab yang terdiri atas beberapa sub-bab. Untuk memudahkan pembahasannya digunakan sistematika sebagai berikut :

Bab pertama, merupakan pendahuluan yang berfungsi sebagai bahan acuan pembahasan bab-bab, selanjutnya sekaligus mencerminkan isi skripsi ini secara global. Bab ini mencakup latar belakang masalah, identifikasi pembatasan dan perumusan masalah, tujuan penelitian, metode penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab kedua, menjelaskan tinjauan teoritis tentang pengertian silaturrahmi, dan menjelaskan pengertian facebook dan cara penggunaannya serta hakikat silaturrahmi.

Bab ketiga, gambaran umum tentang kondisi mahasiswa setempat, fasilitas umum: bidang social, kebudayaan, praktek silaturrahmi via facebook, tradisi silaturrahmi via facebook dalam mahasiswa FUF serta Intraksi dan Integrasi Pengguna Facebook.

Bab keempat, lanjutan hasil penelitian lapangan pada bab ke tiga, yaitu mengenai hadis-hadis tentang silaturrahmi via dunia maya (facebook) serta pendapat para pengguna facebook di UIN Jakarta mengenai hadis tersebut.

Bab kelima, Merupakan penutup kesimpulan dari hasil penelitian lapangan dan kesimpulan secara keseluruhan ditambah dengan saran-saran dari penulis, kemudian dilampirkan daftar pustaka.

Daftar Pustaka

Abdullah, Persaudaraan Islam, artikel ini diakses pada tanggal 3 Agustus dari

http://www.syahadat.com/renungan/oase/336=persaudaraan-islam

Acmad Sunarto dan Syamsuddin Noor, Himpunan Hadis Shahih Bukhari, Jakarta: Annur Press, 2005, cet. Ke-1.

Andreas, Agar Facebook Tak Jadi Haram, artikel ini diakses pada tanggal 3 Agustus 2009 dari

http://moeslim26.wordpress.com/2009/07/13/agar-facebook-tak-jadi-haram/

al-Bukhari, Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mughirah. Shahih Bukhari, Beirut: Dar Fikr, juz 18.

Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya, Semarang: Toha Putra.

Faiz, Abu. Rahasia Silaturahmi, artikel ini diakses pada tanggal 2 Agustus 2009 dari

http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&new_topic=3

Hadi, Sutrisno. Metodologi research 2, Yogyakarta: Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM, 1981.

Hendroyono, Tony. Facebook Haram, Yogyakarta: B-First, 2009, cet. Ke.1.

Koentjoronigrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, Jakarta: Gramedia, 1985.

Shihab, M. Quraish. Membumikan al-Qur’an: fungsi dan peran wahyu dalam kehidupan masyarakat, Bandung: Mizan, 1994, cet. ke-XVIII.


[1] Abdullah, Persaudaraan Islam, artikel ini diakses pada tanggal 3 Agustus dari

http://www.syahadat.com/renungan/oase/336=persaudaraan-islam

[2] Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya, (Semarang: Toha Putra), juz 4, h. 114

[3] Menurut kebiasaan orang Arab, apabila mereka menanyakan sesuatu atau memintanya kepada orang lain mereka mengucapkan nama Allah seperti :As aluka billah artinya saya bertanya atau meminta kepadamu dengan nama Allah.

[4] Acmad Sunarto dan Syamsuddin Noor, Himpunan Hadis Shahih Bukhari, (Jakarta: Annur Press, 2005), cet. Ke-1, h.265-266.

[5] Abu Faiz, Rahasia Silaturahmi, artikel ini diakses pada tanggal 2 Agustus 2009 dari

http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&new_topic=3

[6] M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an: fungsi dan peran wahyu dalam kehidupan masyarakat, (Bandung: Mizan, 1994), cet. ke-XVIII, h. 317.

[7] Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mughirah Al-Bukhari, Shahih Bukhari, (Beirut: Dar Fikr), juz 18, h. 394.

[8] Faiz, Rahasia Silaturahmi.

[9] Muhammad bin Ibrahim An-Nu’aim, Rasia Panjang Umur, (Surabaya: Pustaka Yassir, 2008), h. 63

[10] Tony Hendroyono, Facebook Haram, (Yogyakarta: B-First, 2009), cet. Ke.1, h. 31.

[11] Sutrisno Hadi, Metodologi research 2, (Yogyakarta: Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM, 1981), h. 136.

[12] Koentjoronigrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, (Jakarta: Gramedia, 1985), h. 129.

 

 

STUDI ANALISA HADÎS TENTANG

ORANG YANG MELUPAKAN HAFALAN AL-QUR’ÂN

(HR. ABU DAUD Al-THAYALISI)

 

  1. A.    Latar Belakang Masalah

            Seluruh umat Islam telah sepakat bahwa hadis merupakan salah satu sumber ajaran Islam. Ia menepati kedudukan kedua setelah al-Qur’an. Keharusan mengikuti hadis bagi umat Islam berupa perintah maupun larangan, sama halnya dengan kewajiban  merupakan mubayyin terhadap al-Qur’an, yang karenanya al-Qur’an siapapun tidak bisa memahami al-Qur’an tanpa memahami dan menguasai hadits. Bigitu pula halnya dengan pengunaan hadis tanpa al-Qur’an, karena al-Qur’an merupakan dasar hukum pertama yang di dalamnya berisi garis-garis besar syari’at.[1]

            Seluruh umat Islam  telah berkonsensus bahwa al-Qur’an seluruhnya diriwatkan secara mutawatir (para periwayat secara kolektif dalam segala tingkatan), maka ia memberi faedah absolute kebenarannya (qathi’I ats-tsubut) dari Nabi, kemudian di antaranya ada yang memberi petunjuk makna secara tegas dan pasti (qathi’ ad-dilalah) dan secara relative petunjuknya (dzani ad-dilalah ). Sedangkan Sunnah, di antaranya bahkan yang mayoritas ahad (periwayatnya secara individual) memberikan faedah relative kebenarannya (zhani ats-tsubut) bahwa ia dari Nabi meskipun secara umum dapat dikatakan (qath’I ats-tsubut). Keduanya memberikan dua faedah qath’I dan zhanni ad-dilalah. Tentunya tingkat sunnah yang sebagian besar memberikan faedah zhanni at-tsubut dengan dua petunjuk tersebut, jatuh nomor dua setelah al-Qur’an yang berfaedah qath’I ats-tsubut dengan dua petunjuk pula.[2]

            Meskipun hadits mempunyai fungsi dan kedudukan begitu besar sebagai sumber ajaran setelah al-Qur’an, namun sebagaimana telah disebutkan pada awal Islam, hadis tidak dituliskan secara resmi sebagaimana al-Qur’an, kecuali penulisan-penulisan yang bersifat pribadi. Upaya penulisan resmi ini baru terlaksana setelah masa kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz (abad ke dua Hijriah) melalui perintahnya kepada gubenur dan bahkan kepada para ulama. Kesenjangan waktu antara peninggalan Rasulullah Saw dengan waktu pembukuan hadis (yang hamper satu abad), merupakan kesempatan bagi orang-orang atau kelompok-kelompok tertentu untuk melakukan pemalsuan hadits baik untuk tujuan yang menurut mereka bersifat konstruktif maupun destruktif dengan mengatasnamakan Rasul Saw, padahal beliau tidak pernah mengatakan atau melakukannya, dengan kata lain mereka telah membuat hadits maudhu’.[3]

            Bertitik tolak dari hal di atas, maka penulis mencoba meneliti keshahihan hadits yang berhubungan dengan “orang yang melupakan hafalan al-Qur’an” yang sedang hangat dibicarakan, sebab tidak sedikit prilaku-prilaku yang tidak Qur’ani yang justru dilakukan oleh sementara oknum-oknum yang selalu bergumul dengan al-Qur’an, baik dia sebagai orang yang sering membacakan al-Qur’an, orang yang hafal al-Qur’an, orang yang sedang menghafal al-Qur’an, maupun yang melakukan kajian tentang al-Qur’an. Bahkan di antara mereka memiliki aqidah yang bertentangan dengan al-Qur’an.

            Prilaku-prilaku seperti ini barang kali dapat dicegah, atau paling tidak dikurangi apabila mereka mengetahui, menghayati pesan-pesan atau melihat nasehat Nabi Saw tentang hal-hal yang berkaitan dengan al-Qur’an sebab teryata tidak menyapaikan kabar-kabar gembira bagi orang yang selalu bergaul dengan al-Qur’an, tetapi juga sekaligus memberikan peringatan-peringatan terhadap orang-orang yang salah dalam menggauli al-Qur’an.[4]

Berdasarkan masalah di atas, maka penulis mencoba meneliti bobot dan kualitas hadis Nabi Saw yang berbunyi sebagai berikut:

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ عَبْدِ الْحَكَمِ الْخَزَّازُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْمَجِيدِ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ أَبِى رَوَّادٍ عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنِ الْمُطَّلِبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَنْطَبٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-«عُرِضَتْ عَلَىَّ أُجُورُ أُمَّتِى حَتَّى الْقَذَاةُ يُخْرِجُهَا الرَّجُلُ مِنَ الْمَسْجِدِ وَعُرِضَتْ عَلَىَّ ذُنُوبُ أُمَّتِى فَلَمْ أَرَ ذَنْبًا أَعْظَمَ مِنْ سُورَةٍ مِنَ الْقُرْآنِ أَوْ آيَةٍ أُوتِيَهَا رَجُلٌ ثُمَّ نَسِيَهَا».[5]

“Telah diriwayatkan dari Abdul Wahab bin al-Hakam al-Hazzar, diriwayatkan Abdul Majid Ibnu Abdul Aziz bin Abi Rawwad dari Ibnu Juraij dari Al-Muthalib bin Abdullah bin Hantabin dari Anas bin Malik dia telah berkata: Telah bersabda Rasulullah Saw: Semua pahala umatku diperlihatkan kepadaku, sampai kepada pahala orang yang membuang kotoran (debu) dari dalam masjid dan semua dosa-dosa umatku juga diperlihatkan kepadaku. Maka aku tidak melihat dosa yang paling besar daripada orang yang hafal surat atau ayat al-Qur’ân kemudian ia melupakannya”. (HR. Abu Daud).

Hadits di atas secara umum memberikan nasihat agar dapat meluruskan dan memantapkan motivasi mereka yang selalu bergaul dengan al-Qur’an, baik dari qari-qariah, hafiz-hafizah, maupun orang-orang yang berminat terhadap studi ilmu-ilmu al-Qur’an kelak mengawal kita ke syurga dan bukan menyeret kita ke neraka.

            Ditambah lagi hadits ini mempunyai korelasi dengan surat As-Sajadah ayat 22 sebagai berikut:

ô`tBur ãNn=øßr& `£JÏB tÏj.èŒ ÏM»tƒ$t«Î/ ¾ÏmÎn/u‘ ¢OèO uÚ{ôãr& !$yg÷Ytã 4 $¯RÎ) z`ÏB šúüÏB̍ôfßJø9$# tbqßJÉ)tFZãB ÇËËÈ

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang Telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, Kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa”.[6] [7](QS. Sajdah: 22).

Tetapi akankah demikian halnya?

            Karena dalam ayat ini dijelaskan keutamaan mengahfal al-Qur’an. Menghafal al-Qur’an merupakan perbuatan yang sangat terpuji dan mulia. Banyak sekali hadits-hadits Rasulullah yang mengungkapkan keagungan orang yang belajar membaca dan menghafal al-Qur’an. Orang-orang yang mempelajari, membaca atau menghafal al-Qur’an merupakan orang-orang pilihan yang memang sipilih oleh Allah untuk menerima warisan kitab suci al-Qur’an.[8]

            Allah berfirman:

  • §NèO $uZøOu‘÷rr& |=»tGÅ3ø9$# tûïÏ%©!$# $uZøŠxÿsÜô¹$# ô`ÏB $tRϊ$t7Ïã ( óOßg÷YÏJsù ÒOÏ9$sß ¾ÏmÅ¡øÿuZÏj9 Nåk÷]ÏBur ӉÅÁtFø)•B öNåk÷]ÏBur 7,Î/$y™ ÏNºuŽöy‚ø9$$Î/ ÈbøŒÎ*Î/ «!$# 4 šÏ9ºsŒ uqèd ã@ôÒxÿø9$# 玍Î7×6ø9$# ÇÌËÈ

“Kemudian Kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. yang demikian itu adalah karunia yang amat besar” [9](QS. Fathir: 32).

            Membaca al-Qur’an itu lebih utama dari segala macam zikir yang umum yang tidak terikat oleh segala waktu atau tempat, sambil melihat dan di dalam sembayang, di waktu malam, di antara maghrib dan isya’, di antara tengah malam, akhir malam, sesudah subuh dan di waktu yang utama lebih utama.

            Sabda Nabi Saw:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ الْغُبَرِىُّ جَمِيعًا عَنْ أَبِى عَوَانَةَ – قَالَ ابْنُ عُبَيْدٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ – عَنْ قَتَادَةَ عَنْ زُرَارَةَ بْنِ أَوْفَى عَنْ سَعْدِ بْنِ هِشَامٍ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-«الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ».[10]

 

“Orang yang pandai membaca al-Qur’an akan bersama malaikat yang mulia lagi berbakti. Dan yang membaca rapi sulit dan terbata-bata maka ia mendapat dua pahala (HR. Bukhari dan Muslim)

            Sabda Nabi:

حدثنا حجاج بن منهال حدثنا شعبة قال أخبرني علقمة ابن مرثد سمعت سعد بن عبيدة عن أبي عبد الرحمن السلمي عن عثمان رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه و سلم قال: (خيركم من تعلم القرآن وعلمه).[11]

            “Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelari al-Qur’an dan mengajarkannya”.[12] (HR.Bukharî).

            Banyak sekali keagungan yang muncul dari kesibukan menghafal al-Qur’an. Keagungan itu telah banyak diucapkan atau diungkapkan oleh Nabi Saw, dalam beberapa bauh haditsnya.

            Dari uraian di atas maka penulis berketetapan untuk membahas dan menelaahnya sebagai suatu kajian dan penulisan skripsi yang berjudul “STUDI ANALISA HADITS TENTANG ORANG YANG MELUPAKAN HAFALAN AL-QUR’AN”.

 

  1. B.     Indentifikasi, Pembatasan dan Perumusan Masalah

            Berangkat dari latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi pokok permasalahan dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:

            (a). Apa implikasi bagi orang yang melupakan hafalan al-Qur’an, (b). Bagaimana kualitas sanad dan matan hadits tentang orang yang melupakan hafalan al-Qur’an melalui jalur Abu Daud. (c). Bagaimana kedudukan hadits Abu Daud tersebut.. Agar tidak terjadi polarisasi pokok bahasan dalam penulisan skripsi ini, maka penulis akan membatasinya pada hadits mengenai orang yang melupakan hafalan al-Qur’an melalui jalur Abu Daud.

            Karena hadits di atas tidak hanya terdapat dalam kitab Imam Abu Daud saja, akan tetapi juga terdapat dalam kitab-kitab hadits yang semakin dan yang terdapat dalam kitab-kitab yang terdapat dalam kitab-kitab yang lain hanya akan dijadikan pendukung dan bahan studi banding terdapat yang dikeluarkan oleh Imam Abu Daud.

  1. Tujuan Penelitian

Berdasarkan pokok masalah di atas, maka yang menjadi tujuan penelitian ini adalah:

(a). Ingin mengetahui tentang implikasi bagi orang yang melupakan hafalan al-Qur’an, (b). Ingin mengetahui kualitas sanad dan matan hadits tentang orang yang melupakan hafalan al-Qur’an melalui jalur Abu Daud, (c). Ingin mengetahui kedudukan hadits Abu Daud tersebut, (d). Menyadari bahwa setiap hadis itu belum tentu shahih apabila ditinjau dan dilihat dari kualitas sanad hadits tersebut, (e). Untuk memperkaya khazanah ilmu pengetahuan, (f). Selain itu juga untuk memenuhi persyaratan dalam rangka penyelesaian  studi serjana S1.

D. Kajian Pustaka

            Sejauh informasi yang penulis dapatkan, belum diketahui adanya mahasiswa/mahasiswi pada Fakultas Ushuluddin yang melakukan pembahasan secara khusus terhadap hadits ”Orang-orang melupakan hafalan al-Qur’an” yang merupakan objek pembahasan dalam penulisan skripsi ini.

E. Metodologi Penulisan

            (a). Sumber Data

            Sumber data primer dalam penulisan skripsi ini adalah: kitab Sunna Abu Daud, Mu’jam al-Mufahras li al-Fazh li al-Fazh al-Hadits.

Sedangkan sumber data sekunder adalah kitab-kitab dan buku-buku yang memiliki relevansi dengan permasalahan hadits di atas, seperti metodologi penelitian hadits, ulumu hadits, Aunul ma’bud dan lain-lain.

            (b). Teknik Pengumpulan Data

            Pengumpulan data dalam penelitian kepustakaan ini di lakukan berdasarkan teknik analisa bahan-bahan terkait yang terakumulasi dalam kartu data (yang memuat judul, buku tulisan, pengarang/editor, penerjemah, kota tempat penelitian, tahun terbit dan halaman).

Data primer merupakan prioritas penelitian ini, namun tidak meninggalkan data sekuder yang dapat mendukung jika terdapat kesulitan dalam mengakses data yang pertama, proses cek  dan ricek terdapat data yang didapatkan, juga dilakukan untuk ketetapan informasi.

F. Sistematika Penulisan

 

Penyusunan skripsi ini terdiri dari empat bab yang terdiri atas beberapa sub-bab. Untuk memudahkan pembahasannya digunakan sistematika sebagai berikut :

Pada bab pertama, terdiri dari pendahuluan, yang meliputi latar belakang masalah, identifikasi, perumusan dan pembatasan masalah, tujuan penelitian, kajian pustaka, metodelogi penelitian serta sistematika penulisan.

Pada bab kedua, kajian tentang implikasi tentang orang yang melupakan hafalan al-Qur’an, orang besar, pada hari kiamat nanti tidak memiliki hujjah, hafizh-hafizhah ibarat orang yang memiliki onta yang diikat,

Pada bab ketiga, penulis akan men Takhrij Hadis tentang orang yang melupakan hafalan al-Qur’an menguraikan kegiatan takhrij melalui i’tibar penelitian kualitas rawi, kesimpulan penilaian sanad, serta skema sanadnya. merupakan takhrij atas riwayat-riwayat hadis tentang orang yang melupakan hafalan al-Qur’an  analisa pemahaman terhadap kandungan isi hadis tersebut, yang berisikan latar belakang turunya hadis, memunculkan komentar para ulama tentang peng istinbat an hukum dari hadis tersebut dan analisa penulis.

Pada bab keempat, merupakan penutup yang berupa kesimpulan dan saran, kemudian dilampirkan daftar pustaka.


[1] Utang Ranuwijaya, ilmu Hadis, (Jakarta: Gaya Media Pratama 1996), h. 19.

 

[2] H. Abdul Majid Khon, ulumul Hadis,  (Jakarta: Amzah, 2008), h. 22.

[3] Utang Ranuwijaya, ilmu Hadis, h. 187.

[4] Ali Musta Yaqub, Nasehat Nabi kepada Pembaca dan Penghafal Qur’an, (Jakarta: gema insani Press, 1990), h. 10.

 

[7] Depertemen Agama RI, al-Qur’ân dan Terjemahnya, Bandung: Diponegoro, 2000, cet. Ke-10.

[8] Ahsin Wijaya Al-Hafidz, Bimbingan Praktis al-Qur’ân, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), h. 26

[9] Depertemen Agama RI, al-Qur’ân dan Terjemahnya, Bandung: Diponegoro, 2000, cet. Ke-10.

 

[11] al-Bukharî, Shahîh al-Bukharî, juz 4, h. 1919.

[12] Abu al-Husayn Muslîm ibn Hajjaj ibn Muslîm ibn Ward al-Qusyairi al-Nisaburi, Shahîh Muslîm, (Beirut: Dâr al-Fikr), juz 2, h. 195.

KEBANGKITAN ISA AL-MASIH TURUN DI AKHIR ZAMAN

(Studi Kritik Sanad dan Matan Hadis)

 

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Jagat raya suatu hari pasti akan berakhir. Hari Kiamat tak terhindarkan lagi akan pasti terjadi, sebagaimana telah diberitakan al-Qur’an dalam salah satu ayat:

 

¨br&ur sptã$¡¡9$# ×puŠÏ?#uä žw |=÷ƒu‘ $pkŽÏù žcr&ur ©!$# ß]yèö7tƒ `tB ’Îû ͑qç7à)ø9$# ÇÐÈ  

Artinya : “Dan Sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur”. (al-Hajj: 7).[1]

 

Meski merahasiakan waktu datangnya Hari Kiamat, Allah mewahyukan kepada Nabi Muhammad sejumlah peristiwa dan pertanda tertentu yang menunjukkan datangnya Hari Kiamat.

Hudzaifah bin Asad al-Ghifary berkata, sewaktu kami sedang berbincang, tiba-tiba datang Nabi Muhammad saw kepada kami, lalu bertanya: “Apakah yang kamu semua sedang bincangkan.?” Lalu kami menjawab, “Kami sedang membincangkan tentang hari Kiamat”.[2] Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya kiamat itu tidak akan terjadi sebelum kamu melihat sepuluh tanda”:

 

مَاتَذْكُرُوْنَ قَالُوا نَذْكُرُ السَّاعَةَ فَقَالَ إِنَّهَا لَنْ تَقُوم حَتَّى تَرَوْنَ عَشْرَ آياتٍ الدُّخَانُ والدَّجَالُ وَالدَّابَّةُ وَطُلُوعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا وَنُزُولُ عِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ وَيَأْجُوجُ وثَلاَثُ خُسُوْفٍ خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ وَخَسْفٌ بِجَزِيْرَةِ الْعَرَبِ وَآخِرُ ذَلِكَ نَارٌ تَخْرُجُ مِنْ قَبْلِ تَطْرُدُ النَّاسَ إِلَى مَحْشَرِهِمْ .

“Apa yang kalian perbincangkan?” Kami menjawab, “Kami memperbincangkan soal Kiamat”. Beliau bersabda, “Sesungguhnya Kiamat takkan terjadi sebelum kamu melihat sepuluh tanda: asap, Dajjal, binatang melata, terbitnya matahari dari barat, turunnya Nabi ísa bin Maryam, Ya’juj Ma’juj, tiga kali tanah tenggelam: tanah tenggelam di timur, tanah tenggelam di barat dan tanah tenggelam di jazirah Arab. Dan akhir dari semua itu adalah api yang muncul dari arah timur, mengiring manusia menuju tempat penghimpunan mereka”. [3]

 

Dajjal maksudnya ialah bahaya besar yang tidak ada bahaya sepertinya sejak Nabi Adam a.s sampai hari kiamat. Dajjal boleh membuat apa saja perkara-perkara yang luar biasa. Dia akan mendakwa dirinya Tuhan, sebelah matanya buta dan di antara kedua matanya tertulis perkataan ‘Ini adalah orang kafir’. Asap akan memenuhi timur dan barat, ia akan berlaku selama 40 hari. Apabila orang yang beriman terkena asap itu, ia akan bersin seperti terkena selsema, sementara orang kafir pula keadaannya seperti orang mabuk, asap akan keluar dari hidung, telinga dan dubur mereka.

Dajjal adalah seorang anak laki-laki dari anak manusia (anak adam) dari kaum Yahudi yang buruk, berperangai dan berbentuk seperti setan. Ia dikelilingi oleh setan-setan dan diikuti oleh 70.000 orang Yahudi yang bertoga (sejenis topi) di kepala.[4] Adapun tentang postur tubuh dan bentuk dajjal, Rasulullah telah menerangkan hal tersebut dengan lengkap dan jelas, diantaranya ada ciri-ciri yang kelihatan dari jauh dan ciri-ciri yang kelihatan dari dekat. Apabila anda melihatnya dari jauh, maka ia adalah seorang laki-laki yang pendek, berbadan sangat gemuk, berkulit coklat merah yang murni, pipinya merah, berkepala besar, seakan-akan kepalanya adalah (seperti kepala) ular, berambut sangat kering yang berbintik-bintik, seakan-akan rambutnya terbuat dari air dan kerikil, tebal berkelok-kelok, seakan-akan rambutnya itu adalah dahan-dahan pohon,[5] dan ujung kedua tapak kakinya berdekatan, sedangkan tumitnya berjauhan.

Apabila anda melihatnya dari jarak dekat, maka ia adalah seperti setan. Dimana bagian kanan wajahnya terhapus, tidak bermata dan tidak beralis, mata kirinya menyala berwarna hijau, seakan-akan ia adalah bintang yang berkilau, seakan-akan ia adalah kaca hijau yang mengembung, terbelalak dan membengkak di atas pipinya seperti sebiji anggur yang terampung, atau seperti ludah di dinding.[6]

Jadi, dajjal itu adalah bermata sebelah, mata kanannya terhapus, tak bercahaya, sedangkan mata kirinya menjulur keluar membelalak dan mengembung atau menjulai di atas pipinya.[7]

Selanjutnya Allah mengeluarkan binatang melata kepada mreka. Sehingga, orang mukmin bisa dibedakan dari orang-orang kafir yang terus dalam kekufurannya.[8] Binatang melata yang dikenali sebagai Dabatul Ard ini akan keluar di kota Mekah dekat gunung Shafa, ia akan berbicara dengan kata-kata yang fasih dan jelas. Dabatul Ard ini akan membawa tongkat Nabi Musa a.s dan cincin Nabi Sulaiman. Apabila binatang ini memukulkan tongkatnya ke dahi orang yang beriman, maka akan tertulislah di dahi orang itu “Ini adalah orang yang beriman”. Apabila tongkat itu dipukul ke dahi orang yang kafir, maka akan tertulislah “Ini adalah orang kafir”.[9]

Kendatipun demikian, mereka masih diberi kesempatan untuk bertobat. Selanjutnya binatang melata itu lenyap. Dan ketika manusia tetap dalam keadaan kafir, maka terbitlah matahari dari arah barat. Pada saat itulah sudah tidak ada lagi kesempatan bagi orang kafir maupun orang fasik untuk bertobat. Mereka sudah tidak dibebani menjalankan syariat Islam.[10]

Turunnya Nabi Isa. a.s di negeri Syam di menara putih, beliau akan membunuh dajjal. Kemudian Nabi Isa a.s akan menjalankan syariat Nabi Muhammad s.a.w. Allah swt berfirman dalam surat an-Nisa ayat 159:[11]

 

bÎ)ur ô`ÏiB È@÷dr& É=»tGÅ3ø9$# žwÎ) ¨ûsöÏB÷sã‹s9 ¾ÏmÎ/ Ÿ@ö6s% ¾ÏmÏ?öqtB ( tPöqtƒur ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# ãbqä3tƒ öNÍköŽn=tã #Y‰‹Íky­ ÇÊÎÒÈ  

Artinya : “Tidak ada seorangpun dari ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya.[12] dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka”.

 

Ayat ini menunjukkan bahwa Isa a.s. masih hidup di langit dan akan turun ke bumi di akhir zaman nanti sebelum Kiamat. Mayoritas ahli tafsir memilih pendapat ini. Diantaranya adalah Ibnu Jarir ath-Thabari dan Ibnu Katsir.[13]

 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَالَّذِى نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيْكُمْ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا عَدْلاً. فَيُكَسِّرُ الصَّلِيْبَ وَيَقْتُلُ الْخِنْزِيْرَ وَيَضَعُ الجِزْيَةَ. وَيَفِيْضُ اْلمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَ أَحَدٌ. حَتَّى تَكَوْنُ السَّجْدَةُ الْوَاحِدَةُ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا.

“Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, “Rasulullah saw bersabda, Demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-nya, benar Ibnu Maryam akan turun di antara kalian sebagai penguasa yang adil, ia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapuskan jizyah (pajak nonmuslim yang tinggal di negara Islam), harta benda berlimpah ruah sehingga tak seorang pun yang menerimanya, dan satu kali sujud menjadi lebih baik dari pada dunia seisinya”. (HR Bukhari).

 

Setelah munuturkan sabda Nabi saw di atas, Abu Hurairah berkata, “Bacalah ayat berikut bila kalian mau”.

 

bÎ)ur ô`ÏiB È@÷dr& É=»tGÅ3ø9$# žwÎ) ¨ûsöÏB÷sã‹s9 ¾ÏmÎ/ Ÿ@ö6s% ¾ÏmÏ?öqtB ( tPöqtƒur ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# ãbqä3tƒ öNÍköŽn=tã #Y‰‹Íky­ ÇÊÎÒÈ  

Artinya : “Tidak ada seorangpun dari ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya.[14] dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka”.[15]

 

Jadi Abu Hurairah berpendapat bahwa ayat ini menunjukkan turunnya al-Masih a.s. di akhir zaman, sehingga semua Ahli Kitab beriman dengannya.[16]

Berkata Ali bin Abi Talib, “Akan datang di suatu masa di mana Islam itu hanya akan tinggal namanya saja, agama hanya bentuk saja, Al-Qur’an hanya dijadikan bacaan saja, mereka mendirikan masjid, sedangkan masjid itu sunyi dari zikir menyebut Asma Allah. Orang-orang yang paling buruk pada zaman itu ialah para ulama, dari mereka akan timbul fitnah dan fitnah itu akan kembali kepada mereka juga. Dan kesemua yang tersebut adalah tanda-tanda hari kiamat”.

Sabda Rasulullah s.a.w, “Apabila harta orang kafir yang dihalalkan tanpa perang yang dijadikan pembahagian bergilir, amanat dijadikan seperti harta rampasan, zakat dijadikan seperti pinjaman, belajar lain daripada agama, orang lelaki taat kepada isterinya, menderhakai ibunya, lebih rapat dengan teman dan menjauhkan ayahnya, suara-suara lantang dalam masjid, pemimpin kaum dipilih dari orang yang fasik, oarng dimuliakan kerana ditakuti akan tindakan jahat dan aniayanya dan bukan kerana takutkan Allah, maka kesemua itu adalah tanda-tanda kiamat”.

Begitu banyaknya mujizat-mujizat yang telah diberikan Allah swt kepada rasul yang mulia Isa a.s untuk diperlihatkan kepada bangsa Israel, bahwa Isa adalah sungguh dan benar seorang rasul yang diutus oleh Allah swt Tuhan bangsa Israel. Beribu-ribu manusia melihat kesaksian tersebut pada zaman itu, namun hanya beberapa orang saja yang benar-benar mengakui bahwa Isa adalah sungguh-sungguh seorang rasul. Perhatikanlah juga setelah beliau diangkat dan disucikan dari orang-orang kafir kepada-nya, bangsa Israel juga tetap sangat keras kepala. Mereka menyembah hanya apa yang mau mereka sembah yaitu sampai sekarang, sampai akhir zaman pun tetap begitu. Kalaulah seumpamanya bangsa Israel mengikuti rasul terakhir yang mulia Muhamad saw, penulis yakin Isa bin Maryam tidak akan turun lagi kedunia ini, tetapi oleh karena Allah swt maha mengetahui apa yang akan terjadi pada bangsa Israel ini, maka tidak salah lagi bahwa turunnya Isa kembali ke dunia adalah suatu kenyataan, Allah swt juga menyayangi bangsa Israel, karena keturunan para Nabi juga dari sini.[17] Penulis yakin yang sesat akan tetap sesat terkecuali jika Allah swt menginginkan yang lain.

Di dalam Skripsi ini pun hal itu akan dikemukakan, sebagai bahan renungan, pendapat mana yang paling tepat untuk dilaksanakan.

Dengan adanya permasalahan-permasalahan di atas maka penulis mencoba menguraikan makna kebagkitan Isa al-Masih turun ke bumi di akhri zaman dalam kaca mata Hadis dan ulama, yang diwarnai penjelasan serta sikap bagaimana seharusnya setiap insan menyadari akan hal yang pasti akan menimpa dirinya tersebut. Penulis merasa tertarik untuk meneliti masalah ini dan mengajukan sebuah bentuk tulisan yang berbentuk skripsi dengan judul: Kebangkitan Isa al-Masih Turun di Akhir Zaman (Studi Kritik Sanad dan Matan Hadis).

 

  1. B.     Identifikasi, Pembatasan dan Perumusan Masalah

Sebelum penulis membatasi masalah ini, penulis ingin menyampaikan bahwa dalam Kitab Hadis al-Qutub at-Tis’ah, yang membahas berkenaan dengan ”KebaS ada beberapa hal yang perlu diketahui dintaranya yaitu: (a) Benarkah Isa a.s. diangkat Allah ke sisi-nya dalam keadaan hidup, (b) Benarkah Isa al-Masih suatu ketika akan turun kembali ke bumi di ahkir zaman, (c) Apa yang dilakukannya di akhir zaman, (d) Apakah ada dalil-dali al-Qur’an dan hadis yang mendukungnya, (e) Bagaimana status hadis yang menerangkan turunya Isa a.s., (f) Apakah hadis-hadis tersebut masih diperselisihkan nilainya, (g) Bagaiman pendapat ulama tentang hadis tersebut, (h) Benarkah kiamat tidak akan terjadi sebelum Isa al-Masih turun ke bumi, (f) Apakah Isa al-Masih akan turun kembali ke bumi sedangkan Nabi Isa a.s sudah wafat.

Dengan adanya beberapa persoalan yang dibahas dalam hadis di atas, maka penulis membatasi masalah ini hanya pada persoalan benarkah Isa al-Masih suatu ketika akan turun kembali ke bumi di ahkir zaman, apa yang dilakukannya di akhir zaman, bagaimana status hadis yang menerangkan turunya Isa a.s., serta memaparkan hadis-hadis yang berkenaan dengan kebangkitan Nabi Isa al-Masih. Karena keterbatasan penulis serta melihat begitu banyak hadis-hadis yang berkenaan dengan kebangkitan Isa al-Masih, maka penulis membatasinya hanya pada tiga hadis pilihan. Yang menjadi alasan mengapa penulis memilih tiga hadis terebut karena :

  1. Karena tiga hadis tersebut mewakili subtansi tentang kebangkitan Isa al-Masih dari hadis-hadis lain yang ada.
  2. Dari sekian banyak hadis-hadis yang berkenaan tentang kebangkitan Isa al-Masih hanya tiga hadis  itulah yang penulis anggap lebih terperinci, serta lebih terlihat mendalam maknanya.

Adapun dengan pembatasan masalah yang tertera di atas penulis merumuskan permasalahannya, menjadi: Bagaimana status hadis yang menyatakan tentang kebangkitan Isa al-Masih turun di akhir zaman.

 

  1. C.    Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penulisan skripsi ini yaitu:

  1. Dapat mengetahui baik bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya, kebangkitan Isa al-Masih yang sesungguhnya serta mengetahui kualitas sanad hadis khususnya dalam ilmu Jarh wa al-Ta’dil.
  2. Menyadari bahwa setiap hadis itu belum tentu shahih apabila ditinjau dan dilihat dari kualitas sanad hadis tersebu.
  3. Untuk memperkaya khazanah ilmu pengetahuan.
  4. Selain itu juga untuk memenuhi persyaratan dalam rangka penyelesaian studi sarjana S1.

 

  1. D.    Kajian Pustaka

Studi terhadap hadis tanda-tanda kiamat, khususnya yang berhubungan dengan masalah kebangkitan Isa al-Masih turun ke bumi di akhir zaman tanpaknya tidak begitu banyak mendapat perhatian oleh para pengkaji hadis khususnya kalau dilihat dari kualitas sanadnya. Oleh sebab itu, kebangkitan Isa al-Masih turun ke bumi di akhir zaman yang merupakan salah satu alat dalam sistem temu kembali (retrieval system)[18] terhadap para pengkaji hadis ini seakan-akan dianak tirikan di tengah kubangan zaman yang semakin hari semakin pesat.

Beranjak dari hal tersebut, untuk mendapatkan bahan-bahan kepustakaan dalam kajian ini penulis menggunakan langkah-langkah penelitian kepustakaan (library research) diantaranya: (1) Mencari backround information (informasi yang terkait erat dengan latar belakang masalah) seperti informasi yang terdapat dalam tulisan-tulisan atau artikel-artikel terkait yang terdapat dalam inseklopedi, buku dan karya tulis lainnya (2) Menggunakan catalog untuk mencari buku atau media informasi lainnya yang terkait dengan permasalahan yang sedang diteliti (3) Menggunakan search engines (mesin pencari) untuk menemukan informasi atau sumber-sumber data yang ada di dunia maya (internet) (4) Mengevaluasi semua informasi yang telah diperoleh dengan cara menganalisisnya secara kritis.[19]

Di tengah minimnya kajian yang membahas masalah tentang kebangkitan Isa al-Masih turun ke bumi di akhir zaman, dengan menggunakan langkah-langkah library reseach di atas akhirnya penulis menemukan sebuah karya yang cukup komprehensif terkait dengan sistem temu kembali (retrieval sytem) kebangkitan Isa al-Masih ini. Karya tersebut adalah Isa & al-Mahdi di Akhir Zaman karya Muslih Abdul Karim. Dalam bukunya setebal 257 halaman ini, Abdul Karim menguraikan secara detail tenatang hal-hal yang berhubungan dengan Isa al-Masih. Secara tegas Abdul Karim menjelaskan bahwa turunya Nabi Isa a.s. yang berlandaskan akidah Islamiyyah yang shahih menurut pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah.[20]

Lain dari pada itu, sebuah tulisan yang berjudul Huru-Hara Hari Kiamat karya H. Imron Hasan juga merupakan sumber informasi yang cukup berharga bagi kajian ini. Tulisan yang didesign berbagai peristiwa yang pasti terjadi di akhir zaman. Sebagian memang sudah terjadi. Sisanya, sedang  dialami oleh manusia dan akan dialami oleh manusia di masa datang. Contoh huru-hara yang sedang dialami oleh manusia, adalah seperti kemiskinan, kemaksiatan, kezhaliman dan praktik-praktik nista semakin merajalela. Perkara makruf dan munkar, yang bathil menjadi kebenaran. Sampai-sampai Rasulullah dalam salah satu sabdanya menyatakan. ”Pria-wanita yang bukan mahram akan bebas berhubungan seksual di tengah khalayak ramai”.[21]

Senada dengan Edi Candra Nasution, Imam al-Qurthubi dalam kata pengantar buku Rahasia Kematian, Alam Akhirat & Kiamat juga menjelaskan beberapa hal terkait dengan kebangkitan Isa al-Masih. Berbeda dengan Edi Candra Nasution, al-Qurthubi menekankan pada untuk mengingat kematian, keadaan orang-orang yang telah mati, peristiwa penghimpunan dan kebangkitan kembali di alam mahsyar, surga dan neraka, serta berbagai macam cobaan yang terjadi di akhirat. Kemudia juga mengemukakan hadis atau penjelasan bagi yang musykil.[22]

Selanjutnya, dalam tulisan yang berjudul Sosok Isa Dalam Sorotan Ulama (Meruntuhkan Iman Kristiani Tentang Ketuhanan Isa), berisi sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang ditunjukkan kepada Guru Besar Syekh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin tentang nabi Isa a.s., yang sasarannya adalah menghapus keragu-raguan dan memperjelas masalah-masalah yang masih rancu bagi sebagian kaum awam umat Islam yang menyangkut kisah penyebaran agama yang ia bawa, begitu juga dalam hal pengangkatannya ke langit, dan perkara-perkara lain yang berkaitan dengan Nabi Isa a.s.

Disamping itu Edi Candra Nasution juga menjelaskan pendapat yang paling rajih dalam hal yang perlu dirajihkan. Kemudia beliau sebutkan buku-buku referensi untuk membantu pembaca yang ingin mengetahui lebih dalam tentang jawaban-jawaban yang diberikan.[23]

Dari beberapa kajian yang telah dilakukan oleh para pengkaji hadis berkenaan dengan kebangkitan Isa al-Masih di atas, penulis belum menemukan sebuah kajian yang membahas secara spesifik terkait dengan metode, sistematika penulisan serta istilah-istilah, dan interprestasi lebih jelas tentang satu hadis atau al-Qur’an mengenai kebangkitan Isa al-Masih turun ke bumi di akhir zaman dalam buku-buku yang berhubungan dengan tanda-tanda kiamat dan kebangkitan Isa al-Masih. Oleh sebab itu, melalui penelitian ini diharapkan bisa memberi sedikit kontribusi dalam kajian masalah turunnya Isa al-Masih ke bumi di akhir zaman.

 

  1. E.     Metodologi Penelitian

Dalam penulisan skripsi ini penulis menggunakan metode penelitian pustaka (Library research ) dengan penekanan pada aspek diskriptis analisis. Sebagai langkah awal dalam penelitian ini secara umum, kemudian melakukan pen-takrij-an terhaap hadis-hadisnya. Yang  dimaksud dengan takhrij di sini adalah sesuatu upaya memberikan jalan terang terhadap hadis dengan menghadirkan-jalur-jalur sanad  dalam mu’tabarah pada rawi guna mendapatkan kesimpulan ke-validitas-annya.

Kitab-kitab yang digunakan sebagai bahan informasi adalah kitab-kitab yang berkordansi, diantaranya seperti Mu’jam al-Mufahrasy li al-Fazh al-Hadits al-Nabawi dan Miftah Kunuz as-Sunnah, karya A.J. Wensinck dan kitab Mausu at al-Atraf al-Ahaditsi al-Nabawi al-Syarif, karya Abu Hajar Muhammad Sa’id Basyuni Zaglul dan kitab al-Jami al-Sagir, karya Suyuti.

Dalam penelusuran periwayat hadis, penulis melakukan inventarisasi melalui kitab Tahdzib al-Kamal fi Asma’ al-Rijal, karya al-Mizzi, Tahdzib al-Tahdzib, karya Ibnu Hajar al-Asqalani, Mizan al-i’tidal, Siyar al-a’lam al Nubala, karya Abu Abdillah Muhammad Ibnu Ahmad al-Dzahabi, dan lain-lain.

Langkah selanjutnya adalah kritik sanad, yakni dengan menelusuri keperibadian atau Curiculum Vitae setiap riwayat, menilai keadaannya, hubungan antara guru dan muridnya sampai pada penilaian tentang periwayatan hadis-hadisnya yang dapat diterima dan ditolak.[24]

Agar lebih jelas pendekripsian yang penulis lakukan dalam penelitian terhadap sanad hadis adalah sebagai berikut:

  1. Malakukan Takhrij

Dalam melakukan takhrij hadis ini penulis menggunakan tiga metode, pertama, dengan melakukan lafaz. kedua, dengan pendekatan tema. ketiga, dengan pendekatan awal matan.

 

 

 

  1. Meneliti Peribadi Riwayat

Periwayatan yang akan diteliti adalah periwayat kedua sampai periwayat terakhir, menyankut kualitas dan kapasitas intelektual dari masing-masing periwayat. Rujukan pokok yang penulis gunakan adalah kitab rijal.

  1. Meneliti ke Muttasil an Sanad dan Metode Periwayatan

Penelitian terhadap metode periwayatan yang akan digunakan yaitu berupa lambang-lambang periwayatan yang menggambarkan adanya kebersambungan antara periwayat yang satu dengan yang lain.

  1. Menyimpulkan Hasil Penelitian Sanad

Langkah terakhir dari penelitian sanad adalah mengemukakan hasil penelitian. Hasil yang dikemukakan berupa konklusi disertai argumen-argumen yang jelas.

 

Sedangkan untuk teknis penulisan skripsi ini, penulis menggunakan buku “Pedoman Akademik, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat  UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Tahun 2005/2006”.

 

  1. F.     Sistematika Penulisan

Penyusunan skripsi ini terdiri dari empat bab yang terdiri atas beberapa sub-bab. Untuk memudahkan pembahasannya digunakan sistematika sebagai berikut :

Pada bab pertama, terdiri dari pendahuluan, yang meliputi latar belakang masalah, identifikasi, perumusan dan pembatasan masalah, tujuan penelitian, kajian pustaka, metodelogi penelitian serta sistematika penulisan.

Pada bab kedua, kajian tentang pengertian takhrij hadis, sejararah perkembangan takhrij hadis, urgensitas memahami hadis,  kebangkitan Isa al-Masih turun di akhir zaman, yang berisikan tentang gambaran umum Isa al-Masih, serta tanda-tanda kedatangannya.

 

Pada bab ketiga, penulis akan men Takhrij Hadis kebangkitan Isa al-Masih, menguraikan kegiatan takhrij melalui i’tibar penelitian kualitas rawi, kesimpulan penilaian sanad, serta skema sanadnya. merupakan takhrij atas riwayat-riwayat hadis kebangkitan Isa Al-Masih analisa pemahaman terhadap kandungan isi hadis tersebut, yang berisikan latar belakang turunya hadis, memunculkan komentar para ulama tentang peng istinbat an hukum dari hadis tersebut dan analisa penulis.

Pada bab keempat, merupakan penutup yang berupa kesimpulan dan saran, kemudian dilampirkan daftar pustaka.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ansori Umar Sitanggal dan Imron Hasan, edisi Indonesia, Huru-Hara Hari Kiamat, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2006), cet. Ke-11.

 

Armansyah, Analisah Cara Turunya Nabi Isa al-Masih (Q-2), Artikel diakses pada tanggal 10 maret 2009 dari,

http://arsiparmansyah.wordpress.com/2008/05/01/daftar-link-artikel teratas/

 

Asqalani, Ibnu Hajar. Fathul Baari, (Semarang: Toha Putra), jilid 6.

 

Departemen Agama RI, al-Qur’an al-Karim dan Terjemahannya, (Semarang: Toha Putra).

 

Imam Ahmad bin Hambal, Musnad Ahmad bin Hambal, (Semarang: Toha Putra), jilid 2.

 

Jamaluddin, Amin Muhammad. Umur Umat Islam kedatangan Imam Mahdi & Munculnya Dajjal, (Jakarta: Cendikia Sentra Muslim, 2003), cet. Ke-12.

 

al-Jibrin, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman. Fatawa wa Ahkam fi Nabiyyullah ‘Isa, (Saudi Arabia: Kementrian Urusan Agama Islam, 1421 H), terj: Edi Candra Nasution, edisi Indonesia, Sosok Isa Dalam Sorotan Ulama (Meruntuhkan Iman Kristiani Tentang Ketuhanan Isa), (Jakarta: Ahmed Deedat Publishing, 2005), cet. Ke-1.

 

Karim, Muslih Abdul. Isa dan al-Mahdi di Akhir Zaman, (Jakarta: Gema Insani, 2006), cet. Ke-2.

 

Magetsari, Nurhaidi. dkk. Kamus Istilah Perpustakaan dan Dokumentasi, (1992), dalam http://digilib.pnri.go.id/in/dlKmsPerp.aspx, diakses pada tanggal 12 Maret 2009.

 

Pengajian Islam: Tanda-Tanda Kiamat, artikel diakses pada tanggal 13 Maret 2009 dari,

http://islam.ateonsoft.com/2009/01/pengajian-islam-tanda-tanda-kiamat.html

 

Penelitian kepustakaan (library reseach), diakses pada tanggal 12 Maret 2009 dari

http://www.library.cornell.edu/olinuris/ref/research/skiil1.htm,

 

Qurthubi, Imam. Rahasia Kematian, Alam Akhirat & Kiamat, (Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2007), cet. Ke-4.

 

 

OUT LINE

 

BAB I             PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah
  2. Pembatasan dan Perumusan Masalah
  3. Tujuan Penelitian
  4. Metode Penelitian
  5. Sistematika Penulisan

BAB II            PENGENALAN UMUM TENTANG  TAKHRIJ HADIS

  1. Makna Takhrij Hadis
  2. Sejarah Perkembangan Takhrij
  3. Urgensitas Memahami Takhrij
  4. Metode Takhrij Hadis
    1. Metode Takhrij yang Dikenal dalam Ilmu Hadis
    2. Kritik Sanad dan Kritik Matan Hadis
    3. Metode yang dipilih dalam Mentakhrij Hadis Kebangkitan Isa al-Masih

 

BAB III          TAKHRIJ ATAS  RIWAYAT-RIWAYAT HADIS KEBANGKITAN ISA AL-MASIH

 

  1. I’tibar al-hadis
  2. Kritik sanad hadis
  3. Kritik matan hadis

BAB IV          PENUTUP

  1. Kesimpulan
  2. Saran

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Departemen Agama RI, al-Qur’an al-Karim dan Terjemahannya, (Semarang: Toha Putra), h. 512.

[2] Pengajian Islam: Tanda-Tanda Kiamat, artikel diakses pada tanggal 13 Maret 2009 dari,

http://islam.ateonsoft.com/2009/01/pengajian-islam-tanda-tanda-kiamat.html

[3] Ibnu Katsir, an-Nihayah, Fitan wa Ahwal Akhir az-Zaman, (Mesir: Maktabah at-Turats al-Islami), terj: H. Ansori Umar Sitanggal dan H. Imron Hasan, edisi Indonesia, Huru-Hara Hari Kiamat, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2006), cet. Ke-11, h. 67.

[4] Amin Muhammad Jamaluddin, Umur Umat Islam kedatangan Imam Mahdi & Munculnya Dajjal, (Jakarta: Cendikia Sentra Muslim, 2003), cet. Ke-12, h. 96.

[5] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya. Dan diriwayatkan juga oleh Abu Ya’la dari Ibn ‘Abbas. Sanad Hadits ini dishahihkan oleh al-Hafizh Ibn Katsir dalam kitabnya Tafsirnya.

[6] Jamaluddin, Umur Umat Islam kedatangan Imam Mahdi & Munculnya Dajjal, h. 97.

[7] Al-Hafizh Ibn Hajar mengutip perkataan ini dari al-Qadhi ‘Iyadh. Berkata Imam an-Nawawi: “Ia adalah perkataan yang sangat baik”. Lihat pula dalam kitab Fathul Baari, kitab al-Fitan, bab Dzikruddajjal, h. 97.

[8] Imam al-Qurthubi, Rahasia Kematian, Alam Akhirat & Kiamat, (Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2007), cet. Ke-4, h. 707.

[9] “Pengajian Islam: Tanda-Tanda Kiamat”.

[10] Qurthubi, Rahasia Kematian, Alam Akhirat & Kiamat, h. 707.

[11] Departemen Agama RI, al-Qur’an al-Karim dan Terjemahannya, h. 150.

[12] Tiap-tiap orang Yahudi dan Nasrani akan beriman kepada Isa sebelum wafatnya, bahwa Dia adalah Rasulullah, bukan anak Allah. sebagian mufassirin berpendapat bahwa mereka mengimani hal itu sebelum wafat.

[13] Muslih Abdul Karim, Isa dan al-Mahdi di Akhir Zaman, (Jakarta: Gema Insani, 2006), cet. Ke-2, h. 160.

[14] Tiap-tiap orang Yahudi dan Nasrani akan beriman kepada Isa sebelum wafatnya, bahwa Dia adalah Rasulullah, bukan anak Allah. sebagian mufassirin berpendapat bahwa mereka mengimani hal itu sebelum wafat.

[15] Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Baari, (Semarang: Toha Putra), jilid 6, h. 490.

[16] Karim, Isa dan al-Mahdi di Akhir Zaman, h. 161.

[17] Armansyah, Analisah Cara Turunya Nabi Isa al-Masih (Q-2), Artikel diakses pada tanggal 10 maret 2009 dari,

http://arsiparmansyah.wordpress.com/2008/05/01/daftar-link-artikel-teratas/

[18] System Temu Kembali (Retrieval Sytem) adalah serangkaian kegiatan yang hasilnya adalah menemukan kembali informasi yang diperlukan; system ini memerlukan komponen berupa sarana pemilih yang memungkinkan adanya pengenalan informasi dari dalam penyimpanan. Lihat Kamus Istilah Perpustakaan dan Dokumentasi oleh Nurhaidi Magetsari, dkk (1992), dalam http://digilib.pnri.go.id/in/dlKmsPerp.aspx, diakses pada tanggal 22 Februari 2009.

[19] Dalam penelitian kepustakaan (library reseach) terdapat tujuh langkah penelitian, yaitu (1) Mengidentifikasi permasalahan serta mengembangkannya dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan mendasar terkait dengan permasalahan yang sedang diteliti (2) Mencari backround information (informasi yang terkait erat dengan latar belakang masalah). Langkah ini dilakukan dengan mengandalkan tulisan-tulisan atau artikel-artikel terkait yang terdapat dalam inseklopedi atau buku dan karya tulis lainnya (3) Menggunakan catalog untuk mencari buku atau media-media yang terkait dengan permasalahan yang sedang diteliti (4) Menggunakan buku-buku indeks untuk menemukan artikel-artikel yang bersifat periodik (5) Menggunakan search engines (mesin pencari) untuk menemukan informasi atau sumber-sumber data yang ada di dunia maya/internet (6) Mengevaluasi semua informasi yang telah diperoleh dengan cara menganalisisnya secara kritis dan (7) Mendokumentasikan semua informasi yang telah diperoleh ke dalam suatu format standar. Lihat http://www.library.cornell.edu/olinuris/ref/research/skiil1.htm, diakses pada tanggal 21 Januari 2009.

[20] Karim, Isa dan al-Mahdi di Akhir Zaman, h. 12.

[21] Hasan, edisi Indonesia, Huru-Hara Hari Kiamat, h. x.

[22] Qurthubi, Rahasia Kematian, Alam Akhirat & Kiamat, h. iii-iv.

[23] Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin, Fatawa wa Ahkam fi Nabiyyullah ‘Isa, (Saudi Arabia: Kementrian Urusan Agama Islam, 1421 H), terj: Edi Candra Nasution, edisi Indonesia, Sosok Isa Dalam Sorotan Ulama (Meruntuhkan Iman Kristiani Tentang Ketuhanan Isa), (Jakarta: Ahmed Deedat Publishing, 2005), cet. Ke-1, h. 11-12.

[24] Istilah diterima (maqbul) dan ditolak (mardud) adalah mempunyai maksud sebagai dapat diamalkan (ma’mul bih) dan tidak dapat diamalkan (ghairu ma’mul bih).

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: